Friday, November 6, 2015

Negara Kosovo, Bangsa Albania pecahan dari Serbia


Kosovo, dahulunya merupakan bagian dari Provinsi Serbia yang mayoritas penduduknya beretnis Albania dan beragama Islam, berbeda sekali dengan Etnis mayoritas Negara Serbia yaitu etnis Serbia yang beragama Islam Orthodoks. Kawasn ini terus bergejolak sejaka tahun 1960-an karena isu pertentangan antra etnis yang mendominasi Yugoslavia yaitu Serbia dan etnis mayoritas di Kosovo yaitu Albannia hingga akhirnya mereka memperoleh otonomi khusus dan akhirnya terlibat pertempuran sengit dengan Tentara Serbia untuk merebut kemerdekaanya, karena menganggap Serbia tak berlaku adil pada mereka


Dalam menempuh kemerdekaannya, Kosovo telah melampaui perjalanan panjang dan penuh perjuangan. Kosovo yang berpenduduk 2,1 juta jiwa, terdiri dari 90 persen etnis Albania yang Muslim, 5,3 persen etnis Serbia yang Katolik Ortodoks, selebihnya etnis Bosnia dan minoritas lain.

Sejarah Singkat Kosovo
Ratusan tahun yang lalu sebenarnya etnik Albania merupakan minoritas di Kosovo pada saat masih di bawah kekuasaan Yugoslavia hingga akhirnya pada tahun 1386 kerajaan Turki- Ottoman berhasi merebut daerah itu dan secara berangsur-angsur banyak dari penduduk Kosovo yang semula beragama Kristen Ortodok memeluk Islam mengikuti mayoritas penduduk Turki. Seiring dengan berjalannya waktu, etnik Albania banyak banyak berpindah menuju ke Kosovo sedangkan etnik Serbia berangsur-angsur beralih ke wilayah Utara menuju Serbia akibat tekanan dari kerajaan Turki- Ottoman.

Selama bertahun-tahun Kosovo di bawah kendali Istanbul hingga akhirnya terjadi pertempuran Balkan antara 1912 hingga 1913 yang berlangsung sebanyak 2 kali. Pasukan Serbia yang bersekutu dengan beberapa negara tetangganya seperti Bulgaria, Yunani, Serbia dan Montenegro berhasil memukul mundur pasukan Turki-Ottoman tidak hanya dari Kosovo bahkan dari seluruh kawasan Balkan kecuali Istanbul dengan ditandatanganinya perjanjian London.

Setelah itu Kosovo menjadi bagian dari Provinsi republik negara bagian serbia yang berada di bawah kekuasaan Yugoslavia,  yang didominasi oleh etnik Serbia.Setelah itu kawasan Kosovo mendapatkan status wilayah otonomi khusus melalui Konstitusi 1974 karena kawasan ini berbeda dengan kawasan serbia lainya yang didominasi etnis  Serbia, hingga akhirnya Yugoslavia yang merupakan negara federal runtuh. Pada 25 Juni tahun 1991 Slovenia dan Kroasia memerdekakan diri, yang kemudian disusul dengan intervensi militer dari tentara federal dari etnik Serbia karena tidak menyetujui kemerdekaan kedua negara tersebut, pertempuran terjadi sangat sengit terutama di wilayah Kroasia yang jumlah penduduk etnik Serbianya cukup banyak, selain juga pengaruh ingatan akan perang dunia kedua.

Tahun 1992 Bosnia-Herzegovina juga memproklamirkan kemerdekaannya, lagi-lagi tentara federal melakukan aksi militer dengan alasan mempertahankan kesatuan negaranya. Pertempuran di Bosnia terjadi begitu sengit dan cukup lama hingga disetujuinya perjanjian Dayton pada tahun 1995.

Pada tahun 1991 Kosovo memulai gerakan pertama kemerdekaanya dengan mengadakan referendum nasional tentang kemerdekaan Kosovo, namun Serbia mengannggapnya ilegal lalu menyerang Kosovo dan menguasai Kosovo lagi

Kemudian pada tahun 1999 pecah perang besar lagi di Kosovo, perang ini dilatarbelakangi oleh referendum rakyat Kosovo yang mayoritas menginginkan kemerdekaan dari Serbia, sementara pemerintah Pusat, Serbia menganggap referendum itu ilegal, hingga akhirnya Serbia meyerang wilayah itu dan akhirnya terjadi pertempuran sengit yang tak berimbang antara tentara Serbia melawan pejuang-pejuang Kosovo yang tergabung dalam Kosovo Liberation Army (KLA) yang telah terbentuk sejak tahu 1996 dan pertempuran yang semula berusaha menghancurkan gerakan sparatis berubah menjadi kampanye pembersihan etnis non Serbia dari Kosovo dengan pengusiran dan pembunuhan yang keji, sehingga menimbulkan terjadinya gelombang pengungsi dari Kosovo ke negara-negara tetangganya yang mengundan simpati dunia internasional untuk turut membantu mengurai masalah ini.
Setelah terjadi kegagalan negosiasi politik untuk mencari solusi atas status Kosovo dan hak-hak rakyat Kosovo-Albania, Amerika Serikat memipin NATO melakukan intervensi militer atas tentara Serbia di wilayah Kosovo dalam perang selama 78 hari yang berhasil memaksa mundur pasukan Serbia dari Kosovo.

Setelah berhasil mengusit tentara Serbia PBB membentuk pemerintahan sementara dengan nama UN Mission in Kosovo (UNMIK) untuk menjalankan kekuasaan administrasi di Kosovo dengan jaminan keamanan NATO melalui Commanded Kosovo Force (K-FOR), kecuali di wilayah berpopulasi etnis Serbia di utara Kosovo.

Pasca peristiwa itu, elite politik Kosovo bertekad untuk segera memerdekakan Kosovo. Hasil Pemilu Kosovo September 2007 yang diboikot warga etnis Serbia atas instruksi Serbia, memperlihatkan mayoritas rakyat Kosovo ingin merdeka dan mereka mulai mencari dukungan Internasional, Amerika Serikat Uni Eropa bersama-sama sekutunya menjanjikan pengakuan kemerdekaan sepihak jika nantinya PBB tak mengakui kemerdekaan Kosovo karena Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB menggunakan hak veto nya untuk menghentikan berbagai upaya PBB untuk mengakui kemerdekaan Kosovo.
Akhirnya Pada hari Minggu, 17 Februari 2008, Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan namun deklarasi kemerdekaan ini merupakan tindakan unilateral karena tidak didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, sekarang kemerdekaan Kosovo didukung oleh lebih dari 100 negara, terutama Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Uni Eropa dan lainya.

Kepentingan-kepentingan negara besar
Konflik yang terjadi di Balkan khususnya di wilayah Kosovo adalah wujud dari Perang Proxy antara Amerika Serikat bersama sekutu utamanya Uni eropa melawan Rusia, karena Amerika Serikat ingin memperlemah pengaruh musuh bebuyutanya di Balkan dengan mendukung kemerdekaan Kosovo yang dahulunya adalah provinsi dari Negara Serbia yan merupakan sekutu utama Rusia di Balkan karena mereka berasal dari etnis yang sama yaitu Slavia dan mereka memiliki kerjasama Pan-Slavia.

Amerika Serikat
Amerika Serikat sangat mendukung sekali kemerdekaan Kosovo dari Serbia dengan tujuan alasan politis untuk menggerogoti pengaruh Rusia di wilayah Balkan (negara-negara pecahan Yugoslavia). Karena Rusia yang mayoritas berasal dari etnis Slavia merupakan sekutu utama bagi Serbia, hal itu dilkukan dengan memberikan bantuan keuangan melaui program USAID serta mengirimkan pasukan penjaga perdamaian NATO dalam NATO’s Kosovo Force (KFOR). Selain itu untuk memperkuat pengaruhnya di Balkan Amerika Serikat juga berencana menetapkan wilayah Kosovo sebagai bagian dari sistem pertahanan anti-rudal bagi Eropa, serta menjanjikan pengakuan sepihak jika PBB tak bisa mengakui kemerdekaan Kosovo.

Uni Eropa
Uni Eropa yang merupakan sekutu utama Amerika Serikat, dengan dimotori negara-negara besar seperti, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia mengambil sikap untuk mengakui Kosovo seandainya daerah itu mengumumkan kemerdekaanya, serta membahas skema menerima keanggotaan baru dari negara-negara yang ada di wilayah Balkan dalam dalam rangka memperkuat posisi dan aliansi strategis dengan negara-negara Balkan, karena secara geografis Balkan merupakan bagian dari kawasan Eropa sehingga krisis yang berlangsung dan tak berkesudahan di kawasan itu merupakan tantangan besar bagi Uni Eropa untuk menunjukanya pada masyarakat internasional bagaimana penangana Eropa untuk menangani permasalahan yang ada di wilayahnya .

Rusia
Rusia sangat menentang sekali aksi NATO yang dipimpin Amerika Serikat di Kosoo karena itu merupakan bagian upaya dari Barat menggerogoti pengaruhnya di wilayah Balkan dan Eropa Timur. Selain itu Rusia takut kehilangan mitra utamanya di Balkan, Serbia suatu saat akan berpindah haluan pada Amerika Serikat dan Uni Eropa
Untuk mengatasi hal itu Rusia yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB menggunakan hak veto-nya guna menghadang upaya negara-negara Barat memperoleh Resolusi DK-PBB yang akan memberikan pengakuan kemerdekaan pada Kosovo dan menghendaki persoalan Kosovo diselesaikan di PBB. Perkembangan itu

Sementra itu Serbia sebagai negara Induk Kosovo menentang keras kemerdekaan Kosovodan mengingginka Kosovo tetap berada dalam kedaulatan wilayahnya dengan argumentasi historis dan keinginan mempertahankan negara kesatuan. Untuk itu Serbia menawarkan otonomi luas disertai banyak unsur kenegaraan tetapi tetap berkeras bahwa Kosovo mesti tetap berada di bawah kedaulatan Serbia. Menlu Serbia. Namun hal itu ditolak Kosovo dan membuat ketegangan atar etnis di Serbia dan Kosovo masih terasa hingga kini


Negara Kosovo, Bangsa Albania pecahan dari Serbia
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.