Monday, November 9, 2015

Yugoslavia, Negara yang Tinggal Sejarah

Setelah kekalahan kerajaan Austro-Hongaria pada Perang Dunia I di tahun 1918 banyak daerah-daerah kekuasaan mereka yang memisahkan diri menjadi negara merdeka seperti Ceko, Hongaria, Kroasia, Slovenia dan lain-lain. Selanjutnya Kerajaan Slovenia, Kroasia, dan Serbia pada tanggal 29 Oktober berkumpul dan bersepakat mendirikan kerajaan baru dengan nama resmi” Kraljeviana Srba, Hrvata, I Slovenaca” atau Kerajaan Serbia, Kroasian dan Slovenia pada 1 Desember 1918 dengan Peter I dari Serbia sebagai raja pertamanya. Kerajaan baru inilah yang nantinya merupakan cikal balakl lahirnya Negara Yugoslavia.

Bibit Konflik Mulai Timbul
Gagasan pembentukan kerajaan baru ini muncul karena dilatar belakangi adanya Pakta Corfu yang ditandatangani tahun 1917, dan juga karena heterogenitas etnis dan agama antar negara tersebut yang saling memiliki banyaj kepentingan, dimana Slovenia dan Kroasia bergabung bersama Serbia membentuk Kerajaan Yugoslavia sebagian besar untuk alasan pertahanan, untuk melindungi wilayah mereka terhadap perebutan wilayah yang dilakukan Austria atau Italia. Sementara Serbia yang merupakan negara yang beretnis relatif homogen yang telah merdeka sejak tahun 1878, tertarik membentuk Kerajaan Yugoslavia guna meningkatkan kekuasaannya atas wilayah-wilayah lain yang didiami etnis serbia untuk mewujudkan ciat-citanya membentuk negara 'Serbia Raya'. Bibit untuk konflik pada masa datang sudah ditaburkan mulai saat ini dengan dilatar belakangi perbedaan pemilihan sistem pemerintahan yang dijalankan. Serbia menginginkan sebuah negara kesatuan sementara Kroasia menginginkan sebuah federasi yang memberikan otonomi yang luas pada wilayahnya . Pada tahun 1920 parlemen Yugoslavia mengesahkan undang-undang sistem pemerintahanya yang bersifat Kesatuan (Sentralistik), hal ini tak membuat Kroasia patah semangat lewat Partai Petani Kroasia mereka terus berjuang agar merubah sistem pemerintahan Yugoslavia adalah Federasi yang memberikan otonimi yang luas bagi wilayahnya

Lahirnya Kerajaan Yugoslavia
Pada tahun 1928, terjadi penembakan terhadap anggota Parlemen dari Partai Petani Kroasia, yang memicu kemarahan rakyat Kroasia sehingga mendorong peningkatan aktivitas-aktivitas politik kearah kemerdekaan yang dimotori Partai Petani Kroasia makin tinggi. Untuk mengatasi keadaan genting ini Raja Alexander, pada tahun 1929 mengambil langkah-langkah kebijakan radikal dengan membubarkan parlemen dan memusatkan pemerintahan di tangan raja (Diktator) dan membagi wilayah-wilayah negara bagia menjadi provinsi-provinsi kecil, serta mengubah nama resmi kerjaan dengan nama baru “Kraljevina Jugoslavija” atau Kerajaan Yugoslavia yang memiliki arti Kerajaan Slavia Selatan, karena mayoritas rakyat Yugoslavia adalah etnis Serbia yang yang berasal dari rumpun Slavia Selatan dan masih serumpun dengan etnis Slavia yang merupakan mayoritas Penduduk Rusia, sehingga tidak aneh bagi Rusia menjakankan kebijakan Pan-Slavia dengan merangkul Serbia sebagai mitra utamanya di Balkan serta mendukung setiap kebijakanya karena masih serumpun serta menjadi Proxi bagi Rusia. Selanjutnya setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya Kroasia pada 1939 berhasil memperoleh status otonomi bagi wilayahnya.

Yugoslavia Pada Perang Dunia II
Menghadapi Perang Dunia Kedua Wali Raja Yugoslavia, Pangeran Paul, menandatangani persetujuan kerja sama dengan Poros Jerman-Italia-Jepang akan tetapi para perwira Serbia tidak setuju sehingga memberontah hingga akhirnya dapat menggulingkan pemerintahannya. Hitler pun marah dan menyerang Yugoslavia. Negara Balkan tersebut jatuh dengan cepat, karena tentara Jerman banyak mendapat sokongan dari etnis-etnik non Serbia di Yugoslavia pada tanggal 17 April 1941 setelah itu Hitler membagi Yugoslavia kepada sekutu porosnya yaitu Italia, Hongaria, Bulgaria dan penguasa boneka setempat. Yugoslavia saat itu terdiri dari Serbia (dibawah pemerintahan Jerman), Makedonia (diduduki Bulgaria), Montenegro (diduduki Italia), Negara Kroasia Merdeka, Slovenia (diduduki Jerman, Italia, dan Hongaria), Baranja (diduduki Hongaria), Dalmatia (diduduki Italia), dan Kosovo (diduduki Italia dan Albania).

Di negara-negara boneka inilah terjadi pembantaian-pembantaian antar etnis yang dilakukan oleh kelompok eskstremis setempat, dimana kelompok ustasa yang didominasi etnis Kroasia bekerjasama dengan Muslim Bosnia berusaha membersihkan negara boneka tersebut dari orang-orang Serbia, Yahudi dan Jipsi. Antara tahun 1941-1945, tercatat kaum Ustasa-Muslim telah membantai 750.000 orang Serbia, 60.000 Yahudi dan 25.000 Jipsi. Pembersihan etnis juga terjadi di Negara Albania Raya, di mana kaum militan Albania mengusir dan membunuh puluhan ribu orang Serbia dan orang Slavia Ortodoks lainnya, terutama di Kosovo dan Makedonia Barat, dan menggantikannya dengan para pendatang etnis Albania dari wilayah Albania. Sementara  itu etnis Serbia pun membentuk kelompok militer bernama Chetnik untuk melakukan pembersihan terhadap etnis Kroasia dan Bosnia,Tragedi pembantaian-pembantaian inilah membuat trauma yang mendalam bangsa Serbia serta kebencianya pada etnis Kroasia dan Serbia yang akan memicu terjadinya pembantaian Serbia terhadap etnis Kroasia dan Bosnia di masa Perang Yugoslavia Tahun 1990-an.

Pendudukan Negara-negara poros atas Yugoslavia itu pun memicu perlawanan dari rakyat Yugoslavia, perlawanan-perlawanan itu dimotori oleh dua kekuatan gerilya utama yaitu, kaum Chetnik yang mendukung raja dan Kelompok Partisan pimpinan Josep Broz Tito yang komunis. Tidak seperti kelompok Ustasa dan Chetnik yang merekrut anggotanya berdasarkan etnis dan agamanya, Kelompok partizan merekru anggotanya tanpa melihat latar belakang etnis dan agamanya sehingga kelompok ini tumbuh menjadi kelompok militer kuat dan terbesar sehingga disegani lawan-lawanya. Dengan jumlah anggota militer yang besar serta kuat dikombinasikan bantuan-bantuan dari negara Sekutu da Uni Soviet  musuh Jerman akhirnya pada bulan April 1945 pasukan Partizan dapat mengusir Jerman dari Yugoslavia.

Republik Rakyat Federal Yugoslavia
Yugoslavia berhasil mengadakan pemilu perdananya pasca Perang Dunia II pada bulan November 1945 untuk memilih anggota Majelis Kontituante Yugoslavia, hasilnya Partai Narodni Front (Partai Front Rakyat) yang dipimpin Tito berhasil menguasai 90% kursi Majelis Konstituante, Tak lama berselang setelah pemilu Majelis Konstituante bersidang dan mengeluarkan putusan merubah bentuk kerajaan menjadi Republik lalu setelah itu dideklarasikanlah berdirinya negara “Republik Rakyat Federal Yugoslavia “ .Sejak saat itulah perjalanan panjang negara Yugoslavia sebagai negara Republik terbesar di Balkan dimulai,  Bulan Januari 1946, Majelis Konstituante mengesahkan undang-undang sistem pemerintahan yang  konsepnya menyerupai Uni Soviet, dimana undang-undang itu menegaskan Yugoslavia merupakan negara Komunis,yang terdiri dari 6 negara bagaian dengan wilayahnya yang terdiri dari: Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro dan Makedonia yang tunduk pada pemerintah pusat yang ada di Beograd. Untuk mencegah etnis Serbia yang merupakan penduduk mayoritas Yugoslavia, agar tak terlampau dominan dalam pemerintahan, Wilayah Makedonia dan Montenegro yang sebelumnya merupakan wilayah dari Serbia dijadikan negara bagian tersendiri, sementara Kosovo dan Vojvodina yang merupakan provinsi Serbia dengan alasan untuk memberikan perlindungan bagi kaum minoritas disana diberikan status otonomi khusus.

Dari Kawan, Jadi Lawan
Uni Soviet dan Yugoslavia yang sama- sama berpaham komunis adalah sahabat dekat apalagi dalam perang dunia II Soviet banyak memberi bantuan bagi Yugoslavia untuk mengusir Jerman dan sekutunya. Kedekatan merekapun dibuktikan dengan pembentukan Cominform (pusat komunis internasional) pada tahun 1948 yang berpusat di Moskow, namun lambat laun hubungan keduanya memburuk karena Soviet tak menyukai praktik komunisme ala Yugoslavia hingga pada akhirnya Yugoslavia dikeluarkan dari Cominform dandikucilkan dari pergaulan negara-negara komunis . Pengucilan ini membuat Yugoslavia kian mendekatkan hubunganya dengan negara-negara barat sejak tahun 1949
Dengan terputusnya hubungan dengan Blok Timur membuat kondisi perekonomian memburuk yang membuat negara ini terpaksa menjalankan reformasi ekonomi besar-besaran sejak tahun 1950-an untuk memperbaik perekonomian yang ujungnya berbuah manis dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, Sementara itu dalam bidang politik dan pemerintahan Yugoslavia tetap mempertahankan gaya pemerintahan otoriternya untuk menjamin persatuan dan kesatuan negara

Yugoslavia Ikut Berperan Besar dalam GNB
Sukses menstabilkan keadaan dalam negeri negara ini turut ambil bagian dalam percaturan politik internasional yang saat itu sedang dilanda perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, untuk mencoba meredakan ketegangan itu, Tito bersama sejumlah pemimpin negara berkembang seperti Nehru(India), Soekarno(Indonesia), Nasser(Mesir) dan Nkrumah(Ghana) menggagas pembentukan Gerakan Non Blok(GNB) dalam sebuah konferensi internasional di Beograd pada tahun 1961, untuk mencegah terjadinya perang antara dua blok besar tadi. Pada tahun 1963 Yugoslavia merubah namanya menjadi Republik Federal Sosialis Yugoslavia , empat tahun kemudian, negara ini mulai membuka perbatasanya dengan negara lain.

Benih Perpecahan Makain Menguat
Pada tahun 1971 sebagai akibat melemahnya perekonomian Yugoslavia dan juga memburuknya hubungan antara etnis Serbia dan Kroasia,  terjadi demonstrasi menuntut peningkatkan kekuasaan republik negara bagian, gerakan itu dikenal dengan nama “Kroasia Spring” . Tito, yang berasal dari etnis Kroasia menanggapi masalah tersebut dengan pendekatan ganda yaitu  melakukan penangkapan terhadap para pimpinan gerakan itu karena tuduhan sparatis (membangkitkan nasionalisme etnis),serta memulai agenda reformasi untuk menghindari krisis serupa terjadi lagi di masa mendatang dengan mengesahkan konstitusi baru pada tahun 1974 yang memberikan otonomi yang lebih luas pada republik negara bagian, serta memberi status otonomi yang sama pada dua provinsi Serbia yaitu, Kosovo dan Vojvodina. Konstitusi baru ini jelas sangat memuaskan para republik –republik negara bagian seperti Kroasia serta Albania Kosovo dan minoritas di Vojvodina tapi di sisi lain makin memperbesar kekecewaan pada Serbia yang merupakan negara sekaligus etnis terbesar di Yugoslavia karena akan mengurangi pengaruh Serbia pada pemerintahan federal serta juga menguatkan sentimen etnis (kebangsaan) di republik-republik negara bagian.

Yugoslavia Pasca Tito Meninggal
Pada tanggal 4 Mei 1980, Tito meninggal dunia dan dia belum sempat mempersiapkan penggantinya padahal konstitusi 1974 mengangkat Tito sebagai Presiden seumur hidup, karena dianggap tak ada sosok pemimpin yang dianggap kuat dan mampu menggantikan Tito maka setelah kematianya pemerintahan Federal dijalankan secara kolektif kepresidenan, menurut konstitusi 1974 dari yang dimana kursi kongres sampai pemilihan presiden digilir secara tahunan masing-masing republik negara bagian serta dua daerah otonom (Kosovo dan Vojvodina). Sementara itu sentimen antar etnis dan ketegangan-ketegangan antar etnis yang telah dimulai pada tahun 1980-an karena dipicu krisis ekonomi mulai meningkat. Etnis Serbia yang merupakan etnis terbesar di Yugoslavia selama ini merasa dikorbankan oleh Tito untuk alasan persatuan Yugoslavia, makin terang-teranaga mulai ingin menguasai pemerintahan federal sementara itu diskriminasi terhadap penduduk Serbia dan non Albania lainnya di Kosovo menyebabkan ribuan orang mengungsi dari provinsi tersebut. Hal tersebut membuka kembali luka lama orang Serbia dan mendorong terpilihnya Milosevic sebagai Presiden Serbia yang memiliki program-program nasionalis Serbia. Setelah berhasil mengamankan posisinya di Serbia, Milošević melanjutkan usahanya untuk mengambil kendali pemerintahan Vojvodina, Kosovo, dan tetangga Republik negara bagia Montenegro, dengan menempatkan para sekutunya menjadi perwakilan Republik negara bagian dalam Kolektif kepresidenan untuk mendukung rencananya memperkuat kontrol pemerintah pusat pada republik negara bagian dan daerah otonom, Namun tak semua republik negara bagian mendukung rencana Milosevic tersebut.

Pada Januari 1990, saat Kongres luar biasa ke-14 Liga Komunis Yugoslavia (Januari 1990), delegasi dari Liga Komunis Kroasia ,pimpinan Ivica Račan, dan Liga Komunis Slovenia sama-sama menyatakan keluar dari sidang kongres karena tak setuju dengan rencana Milošević mencabut otonomi pada republik negara bagian dan dua daerah otonom. Pada bulan April 1990 diadakan Pemilihan umum Yugoslavia, Liga -liga (Partai-partai) komunis di repuplik-republik negara bagian gagal memenangkan mayoritas pemilu di republik negara bagian Di Kroasia dan Slovenia partai nasionalis berhasil memenangkan pemilu lokal setempat, sementara Partai komunis berhasil memenangakn pemilu di Serbia dan Montenegro.


Negara-Negara Bagian Memisahkan Diri
Pada 25 juni 1991 Kroasia dan Slovenia yang berada di bawah pemerintahan nasionalis negara menyatakan menyatakan kemerdekaanya dari Federasi Yugoslavia. Yugoslavia tak tinggal diam begitu saja pada tanggal 27 Juni, Tentara Rakyat Yugoslavia yang mayoritas berasal dari etnis Serbia dikirim untuk menguasai Slovenia lagi, pertempuran antara Yugoslavia dan Slovenia ini hanya berlangsung selama sepuluh  hari  dan berhenti pada tanggal 7 Juli , melalui Perjanjian Brijuni, yang isinya melaksanakan gencatan senjata bersenjata  dan  moratorium kemerdekaan Slovenia dari Yugoslavia selama tiga bulan. Penghentian perang ini sebenarnya dalah faktor bahwa mayoritas penduduk Slovenia adalah etnis Slovenia sendiri sementara sedikit sekali etnis Serbia disana serta letak Slovenia yang jauh dari Beograd sehingga minim sekali kepentingan Serbia disana dan Serbia pun ingin lebih fokus melakukan operasi militer Kroasia yang etnik penduduk Serbia nya relatif banyak serta dekat dari Beograd dan juga alasan dendam sejarah selama Perang Dunia II. Di Kroasia perang terjadi secara sengit Kelompok etnis Serbia yang tinggal di Kroasia turut membantu tentara federal Yugoslavia melawan kelompok pro kemerdekaan Kroasia dengan menduduki beberapa wilayah di Kroasia pada bulan Januari 1992 diadakan gencatan senjata antara tiga belah pihak yang bertikai karena perhatian Pemerintah Federal sedang fokus pada gejolak di Bosnia-Herzegovina yang juga menuntut kemerdekaan. Lalu Bulan Juni 1992 Tentara etnis Kroasia yang semula bersekutu dengan Bosnia karena sama-sama menuntut kemerdekaan, balik menyerang Bosnia dan bekerjasama dengan Yugoslavia dengan harapan nantinya jika perang berakhir, maka mereka akan membagi Bosnia menjadi dua bagian untuk mereka . Tahun 1994 setelah ada kesepakatan Zagreb Tentara Kroasia dan Bosnia kembali bersatu lagi melawan Tentara Yugoslavia hingga pada akhirnya pada Agustus 1995 Tentara Yugoslavia berhasil diusir dari Kroasia.

Sementara itu pada 8 September 1991, Makedonia yang letaknya tepat di selatan Serbia menyatakan kemerdekaanya dan memisahkan diri dari Yugoslavia, Namun Tentara federal membiarkanya begitu saja karena negara ini sangat miskin dan etnis Serbia disana sangat minim sekali sehingga Pemerintahan Federal yang didominasi etnis Serbia merasa tak punya kepentingan disana.

Pada 3 Maret 1992, Muslim Bosnia mendeklarasikan kemerdekaanya dari Yugoslavia  karena Bosnia banyak menyimpan kepentingan Serbia disana seperti 60% industri baik militer maupun non militer ada di sana, serta etnis Serbia merupakan mayoritas kedua di Bosnia, serta alasan dendam sejarah pula Serbia bersama penduduk Serbia-Bosnia menolak kemerdekaan Bosnia dan berusaha membentuk negara terpisah dengan bantuan Tentara Federal dengan menggelar perang besar-besaran yang sangat sengit dengan tujuan utama membentuk negara Serbia Raya, dengan mengusir, membunuh dan memperkosa orang-orang non serbia di daerah yang didukinya. Akhirnya Perang ini pun dapat dihentikan setelah pasukan Bosnia dan Kroasia dengan dibantu para mujahidin dan pasukan NATO berhasil mengusir Serbia dari Bosnia dan Kroasia hingga memukul mundur sampai Beograd dan memaksanya menandatangani Perjanjian Dayton pada tahun 1995.

Pada tahun 1999, Kosovo yang merupakan wilayah otonomi serbia namun penduduknya didominasi etnis Albania bergejolak menuntut kemerdekaan lau Serbia bereaksi keras dengan mengirimkan militer untuk memadamkan pembrontakn tersebut yang menyebabkan banjirnya kaum pengungsi etnis Albania ke wilayah tetangga Serbia. NATO tanpa mandat PBB pun bereaksi keras atas ulah Serbia yang melakukan pembersihan etnis di Kosovo, mengadakan perang selama 72 hari dengan Serbia lalu mereka membentuk pasukan keamanan dan pemerintahan sementara melalui Commanded Kosovo Force (K-FOR) dan UN Mission in Kosovo (UNMIK) untuk menjalankan kekuasaan disana, kecuali di wilayah berpopulasi etnis Serbia di utara Kosovo.  Akhirnya Milosevic menyerah dan  Kosovo diberikan di bawah pengawasan internasional. Setelah itu giliran penduduk etnis Serbia yang dibersihkan oleh KLA. Kelompok gerilyawan Albania yang disertai juga penghancuran peninggalan- peninggalan budaya Serbia di Kosovo sebagai jalan menghapuskan jejak orang Serbia di sana. Tujuan utama KLA sendiri adalah menggabungkan Kosovo dan berbagai wilayah Balkan lainnya yang dihuni orang Albania ke dalam suatu Negara Albania Raya, seperti yang terjadi pada masa Perang Dunia II. 

Pada Pemilu tahun 2000 Presiden petahana Serbia, Slobodan Milošević mencalonkan diri kembali sebagai Presiden, namun dalam putaran pertama pemilihan presiden suaranya lebih rendah dari oposisi dan dia pun menolak mengakui klaim kemenangan kubu oposisi pada bulan September 2000 sehingga menyebabkan terjadinya gelombang demonstrasi massa besar-besaran terjadi di Beograd. Setelah kekacauan yang berlarut-larut akibat demonstrasi massa akhirnya pada 5 Oktober Milosevic menyatakan mundur, sehingga capres dari oposisi, Vojislav Koštunica melenggang mulus menuju kursi presiden.Republik Federal Yugoslavia kemudian diterima di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada akhir 2000 setelah runtuhnya pemerintahan otoriter Milosevic.

Pada Sabtu, 31 Mare 2001, Milošević ditangkap pasukan keamanan setempat di rumahnya di Beograd, Yugoslavia, setelah terbitnya surat penangkapan terkait tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Pada tanggal 28 Juni dia diantar ke perbatasan Bosnia-Yugoslavia untuk selanjutnya diekstradisi ke Pengadilan Kejahatan Internasional di Den Hag, Belanda dengan tuduhan genosida di Bosnia dan kejahatan perang di Kroasia dan di Kosovo dan Metohija. Persidangan atas kejahatanya baru dimulai pada tanggal 12 Februari 2002, namun ia ditemukan  meninggal di kamar tahanan pada 11 Maret 2006 saat masih menjalani proses persidangan. Selanjutnya Pada tanggal 11 April 2002, Yugoslavia parlemen mengesahkan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan semua orang didakwa dengan kejahatan perang oleh Pengadilan Kriminal Internasional.

Pada bulan Maret 2002, atas perintah parlemen Yugoslavia Pemerintah Serbia dan Montenegro sepakat untuk melakukan mereformasi tentang pembahruan sistem pemerintahan dalam Federasi Yugoslavia, dimana bentuk Federal Yugoslavia memberikan otonomi yang lebih luas pada Serbia dan Montenegro untuk menjalankan pemerintahanya masing-masing. Lalu pada tanggal 4 Februari 2003, Republik Federal Yugoslavia, menata ulang sistem pemerintahanya kembali . dengan menetapkan bahwa bentuk federasi saat ini hanya bersifat seremonial saja

dan Serbia dan Montenegro menjalankan pemerintahanya masing-masing seperti sebuah negara merdeka pada umumnya dan juga sepakat menetapkan ibu kota pemerintahan federal tetap ada di Beograd,  serta mengganti nama dengan nama baru dari Republik Federasi Yugoslavia menjadi Republik Uni  Serbia dan Montenegro. Dengan begini, maka berakhirlah perjalanan panjang negara Yugoslavia


Pada 21 Mei 2006, Montenegro mengadakan referendum tentang nasibnya akhirnya 55,5% suara pemilih menyatakan ingin merdeka dan ini berada diatas 55% ambang batas yang ditetapkan oleh Uni Eropa untuk suatu wilayah menginginkan kemerdekaanya. Lalu Pada tanggal 3 Juni 2006, Montenegro secara resmi mendeklarasikan kemerdekaannya, dua hari berikutnya Serbia mengikutinya .
Yugoslavia, Negara yang Tinggal Sejarah
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.