Showing posts with label Partai Komunis indonesia. Show all posts
Showing posts with label Partai Komunis indonesia. Show all posts

Friday, January 8, 2016

Kabinet Mohammad Hatta I

Setelah Kabinet Amir Sjarifoeddin jatuh karena PNI – Masyumi menarik dukunganya karena penandatanganan perjanjian Renville, kekuasaan kini berpusat pada Soekarno lagi. Kemudian pada 29 Januari 1948 Soekarno menunjuk wakilnya, Drs. Mohammad Hatta untuk membentuk kabinet baru. Hatta sendiri sering menganggap kabinetnya ini adalah kabinet kawin silang karena mengemban dua tanggung jawab, Pertama, sebagai Perdana Menteri, Hatta bertanggung jawab kepada KNIP dan sebagai Wakil Presiden dia bertanggung jawab kepada Presiden Soekarno.

Sesudah pelantikan kabinet pada 3 Februari, Hatta menjelaskan pokok-pokok kebijakan yang akan dijalankan dihadapan KNIP pada 16 Februari, antara lain  berisi
  1.  Menyelesaikan konflik Indonesia – Belanda dengan menyetujui kesepakatan Renville
  2.  Usaha mempertahankan RI diubah menjadi membentuk Negara Indonesia Serikat (NIS).
  3. Rasionalisasi ke dalam karena perlunya penyaluran tenaga kerja produktif ke bidang masing-masing
  4. Rasionalisasi angkatan perang yang terbilang buncit jumlahnya

Suatu keanehan ketika Masyumi dan PNI menyatakan untuk ikut dalam koalisi. Berarti, kedua partai tersebut keluar dari koalisi Amir silam bukan dikarenakan hasil mengecewakan perundingan Renville, tapi ketidaksukaannya pada Amir yang sudah condong ke arah kiri, komunis. Perihal rasionalisasi ketentaraan, Hatta mendapat dukungan dari Jenderal Soedirman karena saat ini persatuan benar-benar harus dikedepankan melihat posisi Indonesia yang sudah sulit bernafas. Selain itu juga dikarenakan pemusatan komando dan perbekalan memang harus dikerucutkan kepada pihak tentara murni, bukan tentara bentukan Amir. Sementara itu insiden penolakan perundingan Renville terjadi dimana-mana. Bahkan ketika delegasi Belanda baru saja tiba di stasiun Tugu Yogyakarta, Abdulkadir dicaci sejadi-jadinya. Hal ini menjadi suatu ketidakenakan sehingga pemerintah RI secara resmi meminta maaf kepada Belanda.

Memasuki bulan Mei 1948, golongan Amir dibawah organ bernama Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dibentuk setelah cabutnya golongan Sjahrir dari PS, semakin kuat dan diisi oleh barisan buruh dan tani serta orang-orang komunis. Insiden-insiden yang terjadi terkait penolakan Renville diindikasikan didalangi oleh FDR yang ingin mengguncang pemerintahan Hatta. Kemudian, pada bertepatan dengan 40 tahun bangkitnya pergerakan nasional, FDR, PNI dan Masyumi membuat kesepakatan untuk bekerja sama dalam mensukseskan program nasional. Berlanjut pada akhir bulan Mei, Hatta menemui pimpinan-pimpinan partai dengan agenda merubah kabinet presidensiil menjadi parlementer kembali. Setidaknya dengan me-reshuffle kabinet. FDR mengusulkan jalan agar, kabinet dibubarkan, dan Amir kembali memimpin atau menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Masyumi yang sentimen terhadap golongan kiri terang-terangan menolak usulan tersebut.

Tanggal 31 Mei, pertemuan digelar antara Perdana Menteri dengan beberapa partai besar, diantaranya Masyumi, PNI, PS, PSI, PKI, PBI, GPII, BKRI, Parkindo serta Partai Katolik. Pertemuan tersebut membentuk suatu panitia kecil dibawah pimpinan Mr. Tambunan dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia) untuk menyusun program nasional dan tiap partai harus bertanggung jawab untuk menyokong hasil rumusan tersebut. Panitia tadi tadi diisi oleh Amir Syarifuddin (PS), D.N. Aidit (PKI), Setiajit (PBI) Mr. Suyono Hadinoto (PNI), Maruto Nitimiharjo (Partai Rakyat), Saleh Suaidy (Masyumi) disamping Mr. Tambunan. Pada tanggal 16 Juni, Panitia Penyusunan Program Nasional mengumumkan mufakatnya
  1. Pemerintah seharusnya menerima pengakuan dari negara-negara lain atas kedaulatan RI tanpa memandang ideologinya,
  2. Menggalang prinsip pertahanan rakyat, yaitu tentara dan rakyat bersama-sama menyatukan kekuatan. Dalam rangka penyempurnaannya, rakyat diberikan pelatihan dan pengetahuan pertahanan (FDR mengusulkan untuk mempersenjatai rakyat, tapi digagalkan)
  3. Membersihkan perekonomian domestik dari kekuasaan asing demi menghindari keterlibatan Indonesia dalam perang dingin (FDR mengusulkan untuk memanfaatkan bantuan dari Amerika Serikat, kembali ditolak)
  4. Mengusahakan agar petani dapat mengambil kepemilikan tanah yang disewakan. Selain itu juga akan menghapusm mindring, ijon dan lain-lain.


Pada 5 – 14 Juli diadakan lagi pertemuan antara partai-partai yang lebih beragam dan akhirnya Permai, Gerakan Revolusi Rakyat, Wanita Rakyat, Acoma, PKI, Partai Buruh Merdeka, Partai Rakyat Jelata, PSII, BKPRI, Gerindo, Wanita Rakyat, PBI, BPRI, dan PKRI ikut menyetujui Program Nasional Hatta, pada 26 Juli berbicara di depan para wakil partai yang telah sepakat (20 partai) bahwa Program ada yang langsung bisa direalisasikan dan ada juga yang baru bisa dilaksanakan di kemudian hari. Meski secara teoretis persetujuan telah disepakati, namun terdapat banyak interpretasi dari masing-masing pihak terkait pelaksanaan dari program itu sendiri. Seperti misalkan, Masyumi ingin mempertahankan kabinet yang ada di kala PNI mengidamkan suatu re-shuffle.

FDR, yang bisa disebut sebagai oposisi pun memainkan strategi unik karena tidak memperlihatkan sikap sebagai oposisi kental. Itu dapat dibuktikan ketika pencetusan Program Nasional, FDR turut didalamnya dan berjanji membantu pemerintah Hatta bersama partai-partai lain yang berkoalisi. Langkah lunak ini bertujuan agar mereka mendapat posisi kembali di kabinet. Pemogokkan buruh secara massal di Delanggu sejak 19 Mei (meminta pertanggungjawaban pemerintah atas inflasi yang mengakibatkan berkurangnya upah mereka) sebenarnya adalah salah satu scenario pihak FDR yang memiliki kepanjangan tangan di organ-organ buruh dan tani. Berlanjut pada 26 Mei, 17.000 anggota Sarbupri (Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) mogok kerja. Menanggapi hal ini, Menteri Kemakmuran (Masyumi) mengirim serikat tani afiliasinya, STII (Sarekat Tani Islam Indonesia) untuk bekerja di ladang-ladang yang terbengkalai. Namun, suatu bentrokan terjadi pada 10 July antara pemogok dengan STII. Kesatuan tentara dari Divisi Siliwangi datang membantu STII dan menduduki beberapa desa di Delanggu. Perdana Menteri pun mengabulkan para pemogok pada 18 Juli karena takut krisis akan membesar.

Kebijakan Hatta mengenai Rasionalisasi tentara terutama komando wilayah Jawa mulai diterapkan pada 4 Mei 1948 dengan keluarnya Penetapan Presiden No. 14. Tujuan Hatta merasionalisasikan jumlah tentara juga untuk mengalihkan tenaga-tenaga produktif dari sector tentara ke sector produksi. Tiga cara yang dilakukan adalah :
  1. Melepas mereka yang ingin kembali kepada pekerjaan semula sebelum bergabung dalam divisi tentara.
  2. Menyerahkan eks tentara kepada Kementerian Pembangunan dan Pemuda untuk dimanfaatkan lebih lanjut
  3.  Mengembalikan seratus ribu orang ke dalam masyarakat desa.


Perlu diingat kembali bahwasanya sejak 1946 Amir telah menempatkan barisan perwira yang berpendidikan politik ke dalam satuan-satuan tentara. Hal itu mengakibatkan bahwa pengaruh FDR kuat di beberapa kalangan kelompok tentara. Hatta pun menyadari hal tersebut sehingga yang menjadi target rasionalisasi pada awalnya adalah kesatuan tentara yang lemah pengaruh FDR-nya. Divisi IV Panembahan Senopati (sekarang Diponegoro) berjumlah sekitar 5.000 personil dan 50%nya adalah anggota Pesindo, organ setia kepada Amir. Divisi ini menolak kebijakan pemerintah untuk dirasionalisasi hingga merujuk pada terbunuhnya Kolonel Sutarto Panglima Divisi IV Panembahan Senopati tersebut pada 2 July 19.30. Perlu juga ditelisik lebih jauh bahwa kedatangan tentara Divisi Siliwangi pimpinan Nasution yang terkenal karena disiplin tinggi dan pro-pemerintah, ke Yogyakarta, menerbitkan gesekan-gesekan dengan tentara-tentara di Jawa Tengah yang beraliran kiri, yakni golongan setia Amir Syarifuddin. Surakarta menjadi juga daerah rawan karena banyak perampokan oleh oknum-oknum berseragam.

Matinya Sutarto membuat tambah kacau suasana, ditambah penggantinya adalah seorang FDR layaknya Sutarto, yaitu Letkol Suadi. Aksi culik-menculik antara Siliwangi dan Panembahan Senopati adalah titik didih benturan-benturan yang sangat berbau politis. Musso, sejak kedatangannya kembali di tanah air, langsung memainkan peran. Tokoh komunis kawakan ini langsung merombak struktur organisasi PKI dan menyatakan bahwa hanya boleh ada satu partai kaum proletar. Kemudian, FDR yang terisi oleh beragam organ, menggabungkan diri dengan PKI, dipimpin oleh Musso. Solo semakin mencekam hingga meledak pada 14 September 1948. Tentara pro Amir yang sebagian besar anggota Panembahan Senopati semakin jelas posisinya dipihak oposisi pemerintah.

15 September Divisi Siliwangi dapat merebut dan meredamkan situasi. Musso dan kelompoknya menuju Madiun dan mengambil alih kekuasaan disana sejak 18 September dan lahirlah Pembrontakan PKI Madiun 1948 disana. Musso menuduh Soekarno-Hatta akan menjual Indonesia kepada Belanda, Inggris, dan Amerika. Akhirnya Musso mendeklarasikan berdirinya negara Soviet Indonesia Di kota tersebut Musso mendeklarasikan berdirinya negara Soviet Indonesia. Gerakan eksplosif golongan kiri ini sering disebut Peristiwa Madiun 1948. Namun, kudeta yang masih premature ini dapat ditumpas oleh tentara yang setia pada pemerintah Hatta. Musso mati pada 30 Oktober saat pertempuran. Amir Sjyarifuddin dan orang-orang terdekatnya ditangkap di sekitar Gunung Wilis awal Desember, kemudian di hukum mati. Ribuan massa PKI yang ikut-ikutan pun banyak yang dibunuh oleh rakyat (terutama santri Masyumi). Sejak peristiwa Madiun ini, PKI lumpuh dan baru bisa aktif lagi di arena politik mulai 1950 dengan pemimpin-pemimpin baru dan muda.


Pemerintahan republik Indonesia, setelah baru saja jeda perang melawan saudaranya sendiri dikagetkan oleh serangan yang dilancarkan Belanda. Pada 19 Desember 1948 Desember Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dengan menguasai Yogyakarta (Ibukota). Petinggi negara ditangkapi. Soekarno, Hatta, Agus Salim dan tak terkecuali Sjahrir. Soekarno ditahan di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara bersama Sjahrir dan Agus Salim. Sedangkan Hatta dan menteri-menteri lainnya ditempatkan di Pulau Bangka Jenderal Soedirman, selaku Panglima Besar menyiapkan strategi gerilya untuk menyerang balik Belanda. Bersamaan dengan itu, tentara Divisi Siliwangi long march kembali ke wilayah Jawa Barat untuk persiapan menyerang balik. Belanda mengira posisinya sekarang telah menumbangkan kedaulatan Republik. Padahal, Hatta telah memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Bukittinggi. Sepanjang Januari hingga Februari, pimpinan pemerintahan yang diasingkan sibuk di penahanannya. Dengan bermodalkan radio, mereka terus mendengarkan berita-berita mutakhir terkait kekalahan Belanda di ajang internasional. Dewan Keamanan PBB mengecam aksi Belanda yang kembali melanggar perjanjian gencatan senjata sejak perundingan Renville ditandatangani. Militer Belanda yang gilang-gemilang menaklukkan wilayah Indonesia dengan cepat, bernilai nol ketika karena kalah di meja PBB.

Sementara itu, tentara yang masih bergerilya di hutan-hutan terus melakukan sabotase dan taktik hit and run. Tanggal 1 Maret 1949, tentara Republik berhasil merebut kembali kuasa atas Yogyakarta yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Atas tindakan Belanda yang mengkhianati kesepakatan dengan PBB, karena dulu telah disaranai untuk melangsungkan perundingan, akhirnya mengancam bahwa tidak akan memberikan bantuan dana pembangunan apabila Republik Indonesia tidak dibebaskan pada 1 Juli 1949. Belanda mengembalikan pimpinan Republik ke Yogyakarta 6 Juli dan meminta syarat kepada mereka bahwa harus diberlakukan gencatan senjata setibanya di ibukota. 7 Juli Soekarno mengindahkan tuntutan tersebut. Belanda pun berjanji akan menggelar perundingan baru, yaitu Konferensi Meja Bundar. Kemudian Ketua Presidium Pemeritah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Syafruddin Prawiranegara menyerahkan kembali mandatnya kepada Soekarno- Hatta pada 13 July 1949 yang kemudian disahkan oleh KNI-P pada 25 Juli 1949.


Republik Indonesia kembali membenahi situasi yang baru saja kacau diacak-acak Belanda. Konferensi Inter Indonesia digelar dari tanggal 19 – 22 Juli 1949 tanpa ada campur tangan pihak asing. Tujuannya adalah untuk menyiapkan diri menghadapi perang selanjutnya yang telah menunggu, yaitu Konferensi Meja Bundar. Kesimpulan dari Konferensi tersebut antara lain :
  1. Negara Indonesia serikat disetujui dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) yang berdasarkan demokrasi dan federalisme.
  2. RIS akan dipimpin oleh seorang presiden yang dibantu oleh menteri-menteri
  3. RIS akan menerima kedaulatan, baik dari Republik Indonesia maupun dari Kerajaan Belanda.
  4. Angkatan Perang RIS adalah angkatan perang nasional, Presiden RIS adalah Panglima Tertinggi Angkatan Perang RIS
  5. Pertahanan negara adalah semata-mata hak pemerintah RIS, negar-negra bagian tidak akan mempunyai angkatan perang sendiri.

Sidang kedua Konferensi Inter Indonesia di selenggarakan di Jakarta pada tanggal 30 Juli dengan keputusan
  1. Bendera RIS adalah Sang Merah Putih
  2. Lagu kebangsaan Indonesia Raya
  3. Bahasa resmi RIS adalah Bahsa Indonesia
  4. Presiden RIS dipilih wakil RI dan BFO
  5. Pengisian anggota MPRS diserahkan kepada kebijakan negara-negara bagian yang jumlahnya enam belas negara. 
Kedua delegasi juga setuju untuk membentuk panitia persiapan nasional yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan Konferensi Meja Bundar.


Kesepakatan perjanjian antara Republik Indonesia dengan negara federal buatan Belanda pasca perundingan Renville adalah satu tonggak kembalinya persatuan secara utuh. Mengenai persiapan menuju KMB, Sjahrir menolak untuk menjadi  ketua delegasi Indonesia yang berangkat ke Den Haag. Soekarno pun dinilai lemah di meja perundingan, selain itu tidak terlalu mengenal delegasi-delegasi Belanda yang dulunya berkawan dengan Sjahrir dan Hatta semasa mahasiswa. Kemudian pada tanggal 4 Agustus 1949 Hatta menyerahkan mandatnya lagi pada Presiden Soekarno

Wednesday, December 30, 2015

Red Drive Proposals - Perundingan Sarangan 21 Juli 1948, Mitos Amerika Serikat di Kaki Gunung Lawu

Peristiwa Madiun 18 September 1948 adalah sebuah rangkaian peristiwa pertikaian politik dan idiologi yang menjangkiti Indonesia terkait Perang Dingin antara Uni Soviet yang Komunis dan Amerika Serikat yang Liberalis-Kapitalis. Setelah Kanbinet Amir Sjarifoeddin II Jatuh. Hatta yang berkuasa sejak akhir Januari 1948 berusaha menjalin hubungan serta mencari dukungan internasional untuk mengakhiri penjajahan Belanda atas Indonesia. Salah satunya adalah meminta bantuan pada Amerika Serikat.

Pada bulan Juli 1948 tersiar sebuah kabar rahasia yang menyatakan adanya Pertemuan sarangan yang isinya terkait rencana pembasmian kaum merah (Komunis) yang sedang berkembang pesat di Jawa turut mempercepat kudeta Madiun 1948. Pada Het Corps Algemene Politie te Batavia laporan yang sangat rahasia bertanggal 1 April 1948 dan berbunyi antara lain se bagai berikut: "Sementara itu telah diadakan pertemuan rahasia antara Graham, Sukarno dan Sukiman. Graham menyatakan, bahwa Indonesia dianggap layak untuk dimasukkan dalam pelaksanaan bantuan rencana Marshall (Marshall-plan) untuk Asia Tenggara dan agar supaya pemerintah membendung semua kegiatan Sayap Kiri".

Seiring dengan peristiwa itu John Coast, G. Hopkins dan 5 orang "diplomat" Amerika Iainnya dipindalikan dari Bangkok dan New Delhi ke ibukota RI. Pemindahan mereka ini bukan kebetulan.

Kemudia tersiar kabar pada tanggal 21 Juli 1948 secara rahasia telah diadakan pertemuan di hotel "Huisje Hansje" Sarangan (Madiun). Pertemuan itu dihadiri oleh: Gerald Hopkins (penasihat politik Presiden Truman), Merle Cochran (wakil baru Amerika, pengganti Graham, dalam Komisi Jasa-jasa Baik), Sukarno, Hatta, Sukiman (ketua Masyumi dan menteri dalam negeri), Mokhamad Rum (anggota Masyumi) dan Kepala Polisi Sukanto (menurut: Roger Vailland dalam buku "Borobudur"). Dalam pertemuan ini tidak hadir orang dari PNI. Dalam pertemuan Sarangan ini, yang belakangan terkenal dengan sebutan "Perundingan Sarangan", dihasilkan "Red Drive Proposals" atau Rencana Pembasmian Kaum Merah".

Setelah pertemuan Sarangan ini, atas laporan Cochran, State Department (Kementerian Luar Negeri A.S.) berpendapat bahwa posisi Hatta harus cepat diperkuat agar supaya dapat menahan perkembanaan Komunisme. Setelah pertemuan Sarangan ini pula Kepala Polisi Sukanto dikirim ke Amerika untuk mengurus bantuan. Temyata tidak tanggung-tangggng bantuan yang diterima oleh Hatta: 56 juta dollar AS dari State Department Amerika. Uang ini oleh Hatta antara lain untuk memperlengkapi pasukanan dalan Pemerintah, divisi Siliwangi.

Jadi pernyataan Hatta di depan BP-KNIP yang berbicara  : "Mestikah kita bangsa Indonesia, yang memperjuangkan bangsa dan negara kita, hanya harus memilih antara pro Rusia dan pro Arnerika?",


maka peristiwa diatas menjawab kearah mana politik luar negeri Hatta membawa bangsa Indonesia selama pemerintahanya untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia seutuhnya.

Sunday, December 20, 2015

D.N. Aidit, Pemimpin Besar PKI (Bagian II)


Gondolayu, Yogyakarta
Aidit bebas tujuh bulan kemudian, Bulan Juni 1946, cuma sehari di Jakarta, dia lalu menyusul teman-temannya ke Yogyakarta (ibu kota sementara). Aidit bahkan sempat aktif di markas kelompok sayap kiri di bilangan Gondolayu, Yogyakarta, tempat para pemuda radikal memusatkan aktivitasnya.


Aidit Dan Awal Karir Di Partai Komunis Indonesia (PKI)
Setelah merdeka pada tahun 1945, Bung Hatta memperkenankan rakyat Indonesia untuk membuat partai-partai politik. Pada bulan November 1945, PKI muncul kembali. Pada akhir April 1946, mereka menggelar Kongres di Solo, Jawa Tengah dan mendeklarasikan PKI kembali sebagai partai legal. Masih di tahun yang sama, Ketua PKI Sardjono, eks tahanan Digul, memindahkan kantor pusat PKI di Solo, ke Jalan Bintaran, Yogyakarta. Aidit  lalu bergabung ke dalam partai tersebut.

Tidak lama setelah itu kader-kader komunis Indonesia yang dipenjarakan di luar negri, “pulang kampung” ke Indonesia. Mereka membawa buku-buku tentang teori Marxisme, yang membuat Aidit berkesempatan memperdalam pengetahuannya tentang Marxisme. Aidit menghabiskan sebagian besar waktunya pada periode 1946-1948 dengan berkutat dalam berbagai aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI). Bersama beberapa yang tersisa, Aidit  mencoba  membangun kembali  partai.

Pada Bulan Maret 1947 di Malang, Aidit lalu masuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), cikal bakal badan legislatif di Indonesia, dan menjadi Ketua Fraksi PKI. Awal 1948, Aidit kemudian  masuk Komisi  Penterjemah  PKI, yang salah satu tugasnya menerjemahkan Manifes Partai Komunis karya Karl Marx dan Friedrich Engels.

Awal 1948 juga Aidit diserahi tugas untuk membidangi bidang Agitasi dan Propaganda (Agitprop), untuk menyebarkan  lagi  paham  revolusioner  dan  anti-imperialis. Di bawah bimbingan seniornya Alimin (Tokoh PKI), Aidit menerbitkan majalah  dwibulanan Bintang Merah, terbitan PKI yang punya arti strategis. Lalu pada  Agustus  1948, Aidit menjadi anggota  Comite  Central (CC) PKI, dan mengurus agraria.

Aidit Dan Keluarga
Awal tahun 1948, Aidit (25  tahun) menikahi Soetanti atau Tanti (24  tahun), secara Islam  tanpa pesta,  di  rumah KH  Raden  Dasuki, sesepuh PKI  Solo,  yang bertindak sebagai  penghulu. Ayah Tanti Moedigdo, Ibunya Siti Aminah, dan empat adik Soetanti datang. Hanya Murad dan Sobron, dua adik Aidit, yang mewakili keluarga Belitung.

Tanti adalah mahasiswi  tingkat  tiga  Perguruan  Tinggi  Kedokteran  di  Klaten Yogyakarta juga anggota Sarekat Mahasiswa Indonesia (SMI). Mereka bertemu sekitar tahun 1946 di kantor Bintang Merah. Sutanti adalah anak dari pasangan aktivis pergerakan yang cukup radikal. Ayahnya seorang ningrat keturunan bangsawan Tuban dan pegawai negeri di Kantor Pajak. Dia menjadi anggota Partai Sosialis pimpinan Amir Syarifuddin dan Terlibat dalam Madiun Affair , sehingga akhirnya ditembak mati. Ibunya Siti Aminah, ketika itu menjadi anggota KNIP mewakili Partai Sosialis dan wakil ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sampai kemudian ditahan dan diberhentikan tahun 1965.

Pernikahannya dengan Aidit kian meneguhkan darah aktivis yang ia warisi dari kedua orangtuanya. Ia tahu benar resiko menjadi aktivis politik sekaligus menjadi istri pemimpin tertinggi PKI. Dari pernikahannya itu, Aidit dikaruniai lima orang anak yaitu, Ibarruri Putri Alam, Ilya, Iwan, lalu Ilham dan Irfan (Kembar).

Aidit Dan Pemberontakan Madiun
Berawal ketika Muso (Tokoh Pendiri PKI sekaligus arsitek pemberontakan 1926), yang buron dan lari ke Rusia, kembali diam – diam ke Indonesia pada tahun 1948 dan masuk kembali kedalam PKI. Pemikiran Muso mengenai “Jalan Baru bagi Republik” sejalan dengan pandangan Aidit selama ini. Muso yang saat itu mencoba mendirikan “Soviet Republik Indonesia” didukung penuh olehnya dengan turut melakukan pemberontakan di berbagai daerah. Madiun, Magetan, Cepu, Blora, dan sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikuasai massa PKI. Baginya, kehadiran Muso menjanjikan aksi, bukan sekadar angan revolusi.

Setelah Muso menjadi ketua partai, Bulan Agustus 1948, Aidit (25 Tahun)ditugasi mengkoordinasi seksi perburuhan partai. Posisi strategis ini merupakan kepercayaan besar baginya.

Hanya  sebulan  setelah  Aidit  menerima  jabatan  koordinator  seksi  perburuhan  partai, tepatnya pada dini hari 18 September 1948, puluhan ribu buruh dan tani merangsek mengambil alih kekuasaan pemerintah di daerah-daerahdi Madiun, Jawa Timur. Peristiwa ini dikenal dengan “Pemberontakan Madiun”.

Sehari setelahnya, tanggal 19 September 1948, pemberontakan tersebut gagal dan berhasil ditumpas oleh Divisi Siliwangi pimpinan Kol. Gatot Subroto. Mayoritas pimpinan  partai  tertangkap, lalu dihukum mati seperti Muso dan Amir Syarifuddin. Pemerintah lalu menyatakan kasus Madiun selesai dan menjadi tonggak  perang antara PKI dan tentara.

Aidit berhasil lolos dari pembunuhan. Aidit sempat dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogyakarta tapi dibebaskan karena tak ada yang mengenalnya. Ibarruri Putri Alam,  putri sulung Aidit,  melukiskan, ayahnya  bisa  lolos  ke Jakarta  dengan  menyamar menjadi pedagang  Cina.  ”Rambutnya  digundul  habis,  Papa  ikut  iring-iringan  konvoi barang.”

Dari Yogyakarta, Aidit ”hijrah” ke Jakarta, dan dikabarkan kabur ke Beijing, Cina. Ada juga versi yang mengatakan kabur ke Vietnam Utara Namun. Ada  yang  menyebut  bahwa sebenarnya  ia hanya mondar-mandir Jakarta-Medan. menurut  buku  karangan  Murad Aidit,  sang  abang  bersembunyi  di  daerah  pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia memakai nama samaran Ganda. Sejak saat itu dia menghilang.

Aidit Dan Partai Komunis Indonesia (PKI) Pasca Pemberontakan Madiun
Setelah kegagalan pemberontakan Madiun, PKI dihancurkan tetapi tidak dilarang. padapertengahan 1950,  Aidit (27  tahun) ”muncul” lagi. Pada saat itu PKI sedang menata kembali roda organisasi yang nyaris mati akibat pembersihan pasca Madiun Affair. Bersama Lukman dan Njoto, ia lalu memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa dibilang, dalam  kurun waktu inilah karier politik Aidit sesungguhnya dimulai.

Mereka diam-diam memperluas jaringan PKI di Jakarta dengan membentuk Onder Seksi Comite  di  tingkat  kecamatan dan organisasi  dijalankan  lewat  sistem  komisariat  diComite Central. Situasinya sulit karena setiap kabinet alergi komunisme. Sampai-sampai itu  membuat  trio  Aidit-Lukman-Njoto  harus  bersembunyi  dengan menyamar. Aidit memilih  strategi  defensif sebab penyesuaian perlu dilakukan. Ia juga membawa pembaharuan yang  sangat  drastis.

Tak cuma berorganisasi,  untuk  meluaskan jaringan, mereka mendirikan sekolah, dari tingkat dasar sampai universitas. Aidit dan Lukman juga kembali menerbitkan Bintang Merah  pada  15  Agustus  1950.

Mengkudeta Tokoh Tua
Pada kongres PKI 7 Januari 1951, Aidit bersama golongan muda berhasil mengisiPolitbiro (eksekutif dalam partai) PKI. Golongan-golongan tua hanya diberi tempat sebagai anggota CC PKI yang tidak memiliki fungsi strategis apapun, itu pun tidak permanen. Kongres  PKI tahun 1954, pengurus PKI  beralih  ke  generasi  muda. Tokoh tua Politbiro seperti  Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Aidit menganggap mereka terlalu lembek, elitis, dan pragmatis. Aidit (31 Tahun) lalu terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI dan menjadi Sekretaris Jenderal PKI. Aidit adalah Sekjen PKI yang termuda, sekaligus yang terakhir. Ia kian sibuk dengan bepergian  ke  luar negeri, mengunjungi dan menghadiri rapat-rapat internasional komunis  di  Vietnam,  Tiongkok,  dan  Rusia.

“Jalan Baru”
Langkah awal yang dilakukan Aidit adalah membangun partai melalui konsepsi “Jalan Baru”, dengan meluncurkan dokumen perjuangan partai  berjudul ”Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi”. Tujuan dari konsep tersebut adalah adalah menunjukkan kepada rakyat bahwa PKI berjuang melalui garis pelembagaan negara (Perjuangan Parlemen) yang lebih menggunakan cara aman, damai, dan demokratis. Jadi pada permulaannya, Aidit menggunakan strategi kanan untuk membangun kembali kekuatan PKI.

Aidit berusaha untuk memuluskan jalannya dengan menjalin kerjasama dengan partai politik yang non-komunis dan anti penjajahan dan melawan kelas borjuis komprador dan kelas feodal. Aidit membuat suatu “front persatuan nasional” untuk memuluskan jalannya dan terbukti berhasil meningkatkan kekuatan PKI.

Aidit membangun  aliansi kekuatan dengan Partai  Nasional  Indonesia  (PNI)  untuk memperkuat PKI. PNI dipilih karena, selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno yang  bisa  dipakai  mengatasi  tekanan  lawan-lawan  politik  mereka. Aidit juga mendekati Nahdatul Ulama (NU), karena dia memandang NU adalah sebuah partai borjuis setelah memisahkan diri dari Masyumi. Strategi Aidit dalam mendari sekutu di antara aliran-aliran politik lainnya mengandung arti bahwa sebenarnya PKI menyesuaikan diri dengan struktur sosial yang di dalamnya kesetiaan budaya, agama, dan politik lebih bersifat vertikal atau komunal (apa yang disebut aliran) daripada horizontal seperti dalam suatu masyarakat yang sadar kelas.

Aidit, PKI dan Pemilu 1955
Puncaknya Pada Pemilu pertama di Bulan September  1955, PKI masuk ”empat besar” setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina. Itu artinya, di tangan Aidit, PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis. Di tangan Aidit, PKI menjelma menjadi sebuah partai yang disegani. Kerja keras Aidit membuahkan hasil.

Di tahun 1956  Presiden Sukarno meminta agar partai-partai dibubarkan dan mempunyai konsepsi baru yakni “demokrasi terpimpin”. Aidit yang sangat membutuhkan perlindungan Sukarno mendukung konsepsi barunya tetapi berharap agar partai-partai tidak dibubarkan, karena PKI telah begitu berhasil di dalam parlemen. Pada tahun 1957, Sukarno menyatakan bahwa partai-partai tidak wajib membubarkan diri, sehingga Aidit semakin mendukung kebijakan Sukarno tersebut.

Selain kebijakan untuk menambah anggotanya, Aidit juga mengadakan kursus-kursus umum pemberantasan buta huruf dan kursus-kursus pendidikan dasar sebelum partai ini dapat mengungkapkan gagasan-gagasan Marxis-Leninis kepada sebagian besar pengikutnya yang dengan cepat bertambah banyak itu. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Pada tahun 1957, dalam pemilihan daerah, jumlah suara untuk PKI meningkat hampir 40 persen, bahkan  di  beberapa  daerah  mereka  mayoritas.  Jumlah  anggotanya  yang semula  hanya 4.000 orang meningkat puluhan kali lipat. Aidit dengan bangga melaporkan bahwa jumlah  perempuan  anggota  partai  sudah mencapai 100 ribu. Pada usia 32  tahun Aidit  sudah  menjadi  pemimpin  salah  satu  kekuatan  politik  pasca-revolusi  yang  paling signifikan dan hidup.

Strategi politik yang Aidit lakukan selalu mendapat rintangan dari lawan-lawannya yang takut akan berkembangnya PKI. Beberapa kendala PKI adalah para politisi sipil yang non-komunis dan militer. Angkatan Darat yang telah “sakit hati” akibat peristiwa Madiun selalu mengawasi PKI dan menghalangi perkembangan PKI.

Bulan Juli 1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat dan pada BulanSeptember 1957, Masjumi secara terbuka menuntut supaya PKI dilarang. Pada tahun1959, militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun demikian, kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal dan Presiden Soekarno sendiri memberi angin pada komunis dalam sambutannya.

Pada tahun 1960, Soekarno melancarkan slogan Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra dalam politik Soekarno dilembagakan. Di bawah bendera Nasakom, kelompok Komunis secara de facto merupakan unsur terkuat dan dominan dibandingkan dengan dua unsur lainnya, baik kelompok Agama maupun kelompok Nasional.

Sukarno memasukan Aidit dan Nyoto menjadi anggota Front Nasional untuk memperjuangkan Irian Barat sehingga berhasil diselesaikan pada 15 Agustus 1962 danpada Maret 1962, Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat.

PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer. karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.

Periode 1963 hingga September 1965, ditengah pro dan kontranya, menjadi masa paling ‘cemerlang’ bagi karir Aidit dan PKI. Pada masa itu, PKI menjadi partai paling ‘revolusioner’, ofensif, dan tercatat sebagai partai yang terdepan dalam berbagai inisiatif politik. PKI kemudian tumbuh pesat menjadi kekuatan politik berpengaruh. Tahun 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan.

Aidit Dan Gerakan 30 September PKI
Gerakan 30 September (Gestapu atau G 30 S) adalah suatu peristiwa penculikan dan pembunuhan  yang dilakukan suatu kelompok militer yang dipimpin Let. Kol. Untungterhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama Angkatan Darat yang diduga sebagai “Dewan Jendral” yang akan menggulingkan kekuasaan Soekarno. Dibalik berjuta kontroversinya, Panglima Kostrad, Mayjen Soeharto, sebagai petinggi AD, mengumumkan bahwa  PKI sebagai  pihak  yang  harus  bertanggung  jawab atas peristiwa tersebut. Sebagai pimpinan partai, Aidit dituduh sebagai dalang peristiwa ini, walaupun kenyataannya tak  pernah ada  jawaban  tunggal atas siapa sebenarnya “dalang”prahara  tersebut.

Apapun itu, siapapun dalangnya, kenyataannya pada saat itu PKI tetap divonis sebagai “biang kerok” atas peristiwa tersebut, Walaupun keterlibatan langsung PKI belum pernah diungkap secara jelas. Tanggal 1 Oktober dilakukanlah GESTOK (Gerakan 1 Oktober), yang  langsung dipimpin langsung oleh Soeharto untuk memburu dan menangkap para pemimpin PKI dan simpatisannya, dan Aidit menjadi tokoh utamanya. Terjadilah pembantaian massal  1965 di  Jawa  Tengah,  Bali  yang menyebabkan setengahjuta orang dibunuh dan  dilakukan atas  prakarsa Soeharto (Pasca G 30 S).

Pelarian, Penangkapan dan Kematian Aidit
Dalam salah satu kesaksiannya dr Tanti Aidit (Istri Aidit), pada 30 September 1965 malam hari DN Aidit, suaminya, diculik tentara. Murad Aidit (Adik Aidit) yang juga sedang berada di rumah yang sama tidak memberikan gambaran kecuali "dibawa dengan mobil oleh orang yang tidak kukenal" bersama ajudannya Kusno. Memori seorang anak berumur 6 tahun, Ilham Aidit (Anak Aidit), agaknya lebih jernih, "Ibunya membentak dua orang berseragam militer warna biru di depan rumah" (Tempo, 7 Okt 2007). Salah seorang yang menjemputnya ialah Mayor Udara Suyono (dengan seragam AU warna biru) dan membawa DN Aidit ke lingkungan Pangkalan Angkatan Udara Halim. Di Halim ia kemudian ditemui oleh Ketua BC PKI Syam.

Persembunyian
Pada tanggal 1 atau 2 Oktober 1965 tengah malam, Aidit disuruh oleh Sam untuk segera naik pesawat yang sudah tersedia untuk terbang ke Yogya bersama pendampingnyaKusno. Keberadaan Aidit di Yogya akhirnya diketahui pihak lain, maka untuk menghilangkan jejak, kemudian perjalanan diteruskan ke Salatiga. Beberapa hari kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Solo.

Penangkapan
Sesampainya Aidit di Solo, dia ditempatkan secara terus berpindah-pindah. Sampai akhirnya ia tinggal dirumah Sri Harto, Ketua SBIM (Sarekat Buruh Industri Metal) di pabrik panci Blima, dan salah satu simpatisan PKI. Tetapi dengan berbagai alasan dan versi, keberadaan Aidit di Solo tersebut akhirnya diketahui para senior Pemuda Pelajaryang memang mencarinya. Saat rumah dimana Aidit tersebut ditempatkan digerebeg oleh sepasukan polisi, Aidit sudah dipindahkan ke kampung Sambeng.

Berdasarkan informasi yang diberikan Brigif 4, malam 21 November 1965, ABRI dan pasukan-pasukan eks Tentara Pelajar di bawah komando operasi Kolonel Jazir Hadibroto, dikerahkan untuk mengepung Kampung Sambeng, Kelurahan Mangkubumen, Solo. Di sebuah rumah di ujung Gang Sidareja, di tepi  sebuah sungai dekat sebuah kuburan. Rumah itu milik seorang perempuan tua bernama Mbok Harjo, seorang pensiunan pegawai Bea & Cukai.

Akhirnya dengan berbagai versi cerita, Aidit tertangkap di rumah tersebut di sebuah kamar rahasia di balik sebuah lemari makan. Dengan paras lusuh dan pucat, ia kedapatan sedang duduk meringkuk memeluk lutut. Dipa Nusantara Aidit puntertangkap.

Misteri Kematian  Aidit
Banyak versi tentang kematian DN Aidit. Versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum "diberesi". Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati.

Versi kedua, mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

Versi ketiga, mengatakan, sesaat setelah penangkapan, Jendral Soeharto (sebagai panglima Kostrad), memerintahkan agar Aidit dibawa ke Jakarta. Konon kemudian didapat kabar bahwa dalam perjalanan ke Jakarta tersebut ditengah jalan Aidit dihabisi dan tak tentu rimbanya.


Atau ada juga versi lainya, yang diterima Istrinya Dr. Sutanti di pengujung November 1965, bahwa sang suami telah dieksekusi di daerah Jawa Tengah. Mungkin di Boyolali atau Solo. Ada juga yang bilang di Tegal.  Pada sebuah subuh di bulan November 1965, Aidit dieksekusi. Tubuhnya diberondong senapan AK sampai habis satu magasin. Jasadnya lalu dikuburkan di sebuah liang (sumur) di dalam markas Kodim, Boyolali, Jawa Tengah. Tanpa tanda, tanpa nisan. Yang jelas, dari berbagai sumber tersebut, DN Aidit meninggal secara misterius di Jawa Tengah, 22/23 November 1965 pada umur 42 tahun.

D.N. Aidit, Pemimpin Besar PKI (Bagian I)

Dipa Nusantara Aidit (D. N. Aidit) adalah salah satu sosok yang paling bertanggungjawab dalam mengarahkan penerapan ideologiMarxisme-Leninisme dalam konteks kehidupan di Indonesia. Ia juga bertanggungjawab sepenuhnya atas berbagai tindakan yang ditempuh Partai Komunis Indonesia (Periode 1948-1965) dalam rangka mengarahkan partai untuk mengambil cara-cara yang dipandang relevan untuk diambil, tentu saja dengan memperhitungkan ragam rintangan yang melintang.

Pemimpin muda PKI ini dikenal sangat dinamis, berani, bergerak cepat, dengan daya tahan fisik dan mental luar biasa, bisa jadi sejumlah kawannya terkadang tertinggal dengan geraknya. Di samping itu ia pun tak lupa menekankan akan pentingnya kesabaran revolusioner dalam perjuangan jangka panjang. Di masa inilah PKI tumbuh menjadi salah satu Partai Komunis terbesar di Asia bahakan di dunia diluar negara-negara yang menganut paham komunis berkat kepiawaian Aidit membangun partai lagi pasca peristiwa Madiun 1948,

Meski dia dikenal sebagai dalang pembrontakan G 30 S/PKI dan dianggap sebagai salah satu "monster" paling menakutkan selama kekuasaan Orde Lama bersama Partainya PKI namun dalam masa penjajahan dan upaya mempertahankan kemerdekaan, ia juga memiliki andil dalam masa perjuangan. Untuk itu pada artikel kali ini kami akan membahas tentang sosok Aidit secara gamblang dari berbagai sisi

  
Keluarga Terpandang
Lahir dari  keluarga  terpandang, Achmad Aidit lahir pada tanggal 30 Juli 1923 di Jalan Belantu  3,  Pangkal alang, Tanjung Pandan Pulau Belitung, Sumatera Selatan. Ayahnya,  Abdullah  Aidit,  adalah seorang mantan mantri  kehutanan,  jabatan yang cukup  terpandang  di Belitung ketika itu. Ibunya, Mailan, lahir dari keluarga ningrat. Ayah Mailan Ki Agus Haji Abdul Rachman (Titel “Ki” pada nama itu mencirikan ningrat), seorang tuan tanah.

Abdullah  punya  delapan  anak.  Semua  lelaki.  Dari  perkawinan  dengan  Mailan,  lahirAchmad ,  Basri,  Ibrahim  (meninggal  dunia  ketika  dilahirkan)  dan  Murad.  Abdullah kemudian  menikah  lagi  dengan  Marisah (ibu tiri Achmad bersaudara) dan  melahirkan Sobron  dan  Asahan.  Keenam anaknya itu menyandang  nama belakang Aidit (nama keluarga, namun bukan marga). Dua  anak  lainnya, Rosiah dan  Mohammad Thaib, adalah anak bawaan Marisah dengan suami sebelumnya.
Aidit masuk di sekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), milik  pemerintah Belanda, setingkat Sekolah Dasar, juga merupakan sekolah paling tinggi di Belitung ketika itu. Aidit dikenal juga sebagai anak yang pintar.

Anak Yang Baik
Walau dididik di sekolah Belanda, keluarga Aidit tumbuh dalam keluarga yang rajin beribadah. Ayahnya adalah tokoh pendidikan Islam di Belitung, pendiri Nurul Islam, organisasi  pendidikan Islam  dekat yang berorientasi kepada Muhammadiyah. Aidit dan saudaranya belajar mengaji dengan pamannya,  Abdurrachman. Aidit bahkan khatam Al Qur’an sebanyak tiga kali dan dikenal juga sebagai tukang  adzan di kampungnya, karena suaranya keras.
Walaupun keluarga terpandang, secara ekonomi, keluarga Aidit hidup sederhana. Sebagai anak sulung, dia suka membantu keluarganya, misalnya dengan berjualan dari mulai kerupuk hingga buah nanas yang telah dikerat-kerat,  setiap ada pertandingan sepakbola di kampungnya. Suatu hari, adiknya Basri pernah ceroboh melepaskan 15 ekor itik dari  kandang milik keluarganya. Ayahnya yang mendengar kejadian ini marah besar. Aidit pun mengaku  dialah penyebab  kaburnya itik-itik itu, sehingga dia yang harus ke sana-kemari mencari itik itu.

Bergaul Dengan Berbagai Kalangan
Aidit bergaul dengan siapa saja. Dia bergaul dari mulai kelas buruh sampai none - none Belanda. Berbagai macam  kelompok atau “geng” remaja di  Belitung  ia  dekati.  seperti geng kampung, anak benteng (anak polisi), geng Tionghoa, dan geng Sekak (yaitu mereka  yang datang dari  keluarga  yang  sering  berpindah  tempat  tinggal, semacam kaum gypsy di Eropa).
Aidit juga bergaul  dengan  buruh  - buruh tambang yang bekerja di Gemeenschapelijke Mijnbouw Billiton, sebuah perusahaan tambang timah milik Belanda. Sehingga ia tau tentang kehidupan mereka yang setiap hari selalu bekerja berlumur  lumpur,  bermandi keringat,  dan  hidup  susah, sementara para meneer Belanda dan tuan-tuan nya dari Inggris berpesta hura-hura.

Aidit mempunyai kepekaan lebih tajam dibanding teman sebaya dan juga rasa empati terhadap sesama manusia apa yang terjadi di lingkungannya. Mungkin tambang  ini lah awal mula yang  menjadi  semangat  anti-Belanda dan perjuangan antikelas di kemudian hari. Pergaulan dengan kaum buruh itulah yang menentukan jalan pikiran dan sikap politik  Aidit setelah  di  Jakarta.

Merantau Ke Batavia
Awal tahun 1936, Setelah menyelesaikan sekolah di HIS, Achmad Aidit (13 tahun), meminta  izin kepada ayahnya untuk melanjutkan sekolah setingkat SMP atau yang dikenal dengan  nama  Meer Uitgebreid  Lager  Onderwijs (MULO), di Batavia (Jakarta). Akhirnya ia pun pergi ke Batavia dengan ditemani pamannya, setelah memenuhi syarat – syarat umum untuk merantau, yaitu bisa  memasak  sendiri,  bisa  mencuci  pakaian sendiri,  sudah disunat, dan sudah khatam mengaji.

Setibanya di Batavia tahun 1936, Aidit tinggal di rumah kawan ayahnya, Marto, seorang mantri polisi,  di kawasan  Cempaka  Putih.  Sayangnya, pendaftaran  MULO  sudah ditutup ketika  Aidit  tiba, sehingga ia pun bersekolah di Middestand  Handel  School (MHS), sebuah sekolah dagang di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Bakat kepemimpinan Aidit dan idealismenya langsung menonjol di antara  kawan sebayanya. Misalnya saja,  Aidit  mengorganisasi  kawannya melakukan  bolos  massal untuk  mengantar  jenazah  pejuang  kemerdekaan  Muhammad Husni  Thamrin,  yang ketika  itu  akan  dimakamkan. Karena  terlalu aktif di  luar  sekolah, Aidit tidak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya di MHS.

Menambah Relasi dan Berorganisasi
Tahun 1939, Aidit lalu pindah dan indekos di di Tanah Tinggi 48, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Setelah itu adiknya Murad datang menyusul dari Belitung, juga untuk bersekolah di Jakarta. Hal Ini membuat Abdullah, ayah Aidit, keteteran untuk membiayai mereka. Aidit lalu  membuat biro pemasaran iklan dan langganan surat kabar bernamaAntara di daerah Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Lama-kelamaan, selain biro iklan, Antara juga berjualan buku dan majalah.

Aidit kemudian berkongsi dengan teman satu kostannya, Mochtar, penjahit yang punya toko lumayan besar di Pasar Baru. Ditempat inilah Aidit mulai bergaul dengan para pemuda aktivis masa itu,  seperti  Adam Malik dan Chaerul Saleh, sehingga jaringan relasi Aidit meluas. Dengan bakat dan relasinya itu, Aidit langsung tertarik dengan dunia organisasi pergerakan, yang memang lagi ramai di Indonesia.

Tahun 1939 juga, Aidit bergabung dengan Persatuan Timur  Muda (PERTIMU). Pekumpulan ini dimotori Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo),  sebuah organisasai kepemudaan berhaluan “kiri” pimpinan Amir Syariffudin. Hanya dalam waktu singkat, Aidit diangkat menjadi Ketua Umum. Dalam organisasi inilah persinggungan Aidit dengan politik makin menjadi-jadi.


Aidit Dan Asrama Menteng 31
Dari perkenalannya dengan dunia organisasi itulah, Aidit lalu  bergabung ke dalam kelompok Pemuda di jalan Menteng No. 31 Jakarta, yang dikenal dengan nama Menteng 31. Asrama ini dulunya hotel bernama Schomper I, namun setelah Belanda pergi dan Jepang datang ke Indonesia, tahun 1942 tempat itu terkenal sebagai  basecamp  para pemuda aktivis “garis keras”.

Disini mereka di gembleng oleh para senior mereka seperti Bung Karno, Bung Hatta, Amir Syarifuddin, Ahmad Subarjo, Sunaryo dan Ki Hajar Dewantara. Bung Karno dan Bung Hatta Hatta  bahkan mengenal Aidit dengan baik sejak periode  awal Angkatan  Baru  Indonesia  di  Asrama Menteng 31. Aidit juga banyak belajar dan terpilih untuk ikut kursus-kursus yang diadakan para pemuda Angkatan Indonesia Baru. Beragam diploma, piagam kursus bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Ilmu Hitung Dagang, Mengetik Cepat hingga Stenografi, diperoleh Aidit dari kursus-kursus yang ditempuhnya.

Pada  tahun 1944, Aidit terpilih  masuk  Barisan  Pelopor  Indonesia, yaitu sayap pemuda  yang dibentuk oleh Jepang, yang bertugas menjaga keselamatan Soekarno dan Hatta. Pascakemerdekaan, organisasi ini dikenal dengan nama Barisan Benteng.

Merubah Nama
Di  balik  karier  politiknya  yang  mulai  naik, Aidit  seperti  mencoba  menghilangkan bayang-bayang keluarga dan masa lalunya di Belitung. Misalnya saja ketika Murad berkali-kali meminta bantuan finansial, Aidit selalu menolak. Suatu kali Aidit bahkan pernah berkata, bahwa persamaan  di  antara  mereka  hanyalah  faktor  kebetulan, karena  dilahirkan  dari  ibu  dan bapak yang sama. ”Selebihnya, tak ada hubungan apa pun di antara kita,” katanya. Achmad Aidit  juga memutuskan  berganti  nama.  Dia memilih memakai nama Dipa Nusantara Aidit, biasa disingkat D.N.

Menurut adiknya, pergantian nama itu lebih dipicu perhitungan politik Aidit. Dia mulai membaca risiko, karena sejak  namanya  berubah, tak  banyak  orang  yang  tahu  asal-usulnya. Proses perubahan nama itu juga tak mudah. Abdullah, ayah Aidit, tak bisa dengan segera menerima pergantian itu, sebelum akhirnya Abdullah menyerah.

Teman-temannya di Menteng 31 mengusulkan nama Dipa Nusantara, karena sudah terlalu banyak yang bernama Ahmad di kalangan pemuda Menteng 31 (Harsutejo, 2003). Dipa Nusantara sendiri dipakai Aidit untuk menghormati jasa pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Aidit berharap, penggunaan nama Dipa itu bisa menjadi inspirasi dan semangatnya untuk membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme. Dia sering juga disebut-sebut berdarah Minangkabau, dan D.N. di depan namanya adalah singkatan ”Djafar Nawawi.

Ada juga  versi dari adiknya Asahan. Bahwa perubahan nama sudah ada sejak dia dilahirkan. Sumber yang digunakan Asahan adalah sebuah akte kelahiran Aidit sendiri. Akte itu dibuat tahun 1923, tahun kelahiran Aidit, dan ditandatangani langsung oleh Bapaknya Abdullah Aidit. Asahan ingat betul, akte yang berhiaskan lukisan indah itu masih menggunakan bahasa Melayu agak kuno. Di akte itulah tertulis: “Anak dari Abdullah Aidit yang lahir pada 1923 yang saya beri nama Ahmad Aidit, bila dia telah menginjak usia dewasa akan menggunakan nama Dipa Nusantara Aidit”. Jadi jelas, tegas Asahan, nama Dipa Nusantara bukanlah ciptaan abangnya ketika ia udah di Batavia, melainkan nama yang memang diciptakan oleh ayahnya langsung.

Bergbung dalam Kelompok Kiri
Seiring dengan pergaulan di dunia organisasi, Aidit lalu terlibat dengan kelompok “kiri”. Ia memilih jalan komunis, karena dirasakan sesuai dengan idealismenya. Ia pun berguru ke tokoh-tokoh komunis senior seperti Widarta, penanggung  jawab  organisasi  bawah tanah  PKI  Jakarta, dan Wikana, seorang pemuda sosialis dan pemimpin PKI Jawa Barat yang terkenal cerdas.  Ia pun banyak mempelajari  buku-buku  bertema  Marxisme  dan sosialisme.

Sekitar tahun 1944, Aidit dan Wikana kian dekat setelah Laksamana Maeda, pimpinan Angkatan Laut Jepang di Indonesia,  mendirikan  sekolah  Dokuritsu Juku  (Asrama Kemerdekaan), dan Wikana  menjadi  kepala  sekolah  tersebut, sedangkan Aidit menjadi  siswa. ”Meski  tak  menyelesaikan kuliah, pelajar  sekolah ini ikut  berperan dalam mendirikan  Republik” , ujar Nishijima,  salah  seorang  pengasuh  sekolah  ini“ (Tempo,  Agustus, 1987). Di sekolah inilah  diam-diam  Aidit,  Chalid  Rasjidi, dan  Salammembentuk  organisasi  semi-militer yang beraksi menyerang tentara-tentara Jepang dengan nama Banteng Merah. Dari sini, jiwa “merah” Aidit mulai semakin tumbuh.

Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa Rengas Dengklok adalah peristiwa penculikan Soekarno – Hatta pada hariKamis  16 Agustus 1945 ke Rengasdengklok Karawang, oleh sekelompok pemuda (Menteng 31) yang dipimpin oleh Soekarni, untuk mendesak agar Soekarno – Hatta mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Sehingga dengan jasa para pemuda inilah Bung Karno dan Bung Hatta, akhirnya membacakan teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di rumah Bung Karno diJl.Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Ada beragam versi peran Aidit (22 tahun), tentang keterlibatan langsung dalam peristiwa ini. Ada yang menyebut Aidit memang ikut serta dalam rombongan pemuda, tapi  banyak juga rekaman sejarah yang tak menyebut keterlibatan Aidit dalam kejadian itu. Yang jelas pada saat itu, Aidit memang aktif bersama para pemuda anti-fasis di Menteng 31.

Melawan Jepang
Setelah  proklamasi  kemerdekaan,  pada  awal  September 1945,  aktivis  Menteng  31 membentuk Angkatan  Pemuda  Indonesia  (API), yang diketuai Wikana. Sementara Aidit menjadi Ketua API Jakarta Raya. Di  bidang keorganisasian mereka membentukBarisan Rakyat yang mengorganisasi pada petani. API pun segera  menjadi “ancaman” bagi  Jepang dan sekutu (yang datang kemudian) yang datang ke Indonesia.

Penjara Jatinegara dan Pulau Onrust
Pada tanggal 19 September 1945, di  lapangan Ikada (sekarang Monas ), API bersama barisan buruh dan tani mengadakan rapat raksasa dan aksi untuk menunjukkan dukungan rakyat kepada para  pimpinan  negara. Hal ini membuat  tentara  Jepang marah dan merazia  Asrama Menteng  31.  Para  pemimpin API, termasuk Aidit, dimasukan ke dalam penjara di Jatinegara.


Aidit  dan  teman-teman  berhasil  menyogok  penjaga  penjara  dan  kabur. Sejak  itu aktivitas Menteng 31 berhenti. Aidit pun kembali ke jalan, memimpin API Jakarta dengan melakukan serangan-serangan ”kecil” kepada tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang datang membonceng sekutu pada 28 September 1945. Hampir setiap hari mereka menembaki patroli sekutu yang lewat, hingga akhirnya tentara sekutu meledakkan markas API. Puncaknya pada tanggal 5 November 1945, ketika Aidit memimpin sekelompok pemuda menyerbu  pos  pertahanan  Koninklijke  Nederlands Indische  Lege  atau  Tentara  Kerajaan Hindia Belanda (tentara sekutu). Namun mereka kepergok tentara Inggris yang berpatroli. Sekitar 30 aktivis tertangkap, termasuk Aidit. Tentara Inggris menyerahkan  mereka ke Belanda, yang lalu membuang mereka kePulau Onrust, di gugusan Kepulauan Seribu, utara Jakarta.