Showing posts with label Rusia. Show all posts
Showing posts with label Rusia. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

Vladimir Putin, Sang Penguasa Rusia Modern

Masa Kecil 
Vladimir Putin lahir St. Petersburg, Rusia pada tanggal 7 Oktober 1962 dengan nama asli Vladimimr Vladimirovich Putin. Vladimir Putin lahir merupakan anak tunggal dari pasangan suami istri Vladimir Spiridonovih Putin dan Maria Ivanovna Putina. Ayahnya bekerja sebagai Tentara Angkatan Laut Uni Soviet dan meninggal pada akhir abad ke-20 Sementara Ibunya hanya seorang karyawan lepas di sebuah pabrik yang meninggal 6 bulan lebih awal dari ayahnya. Ia sebenarnya memiliki dua orang saudara, namun keduanya meninggal yang akhirnya membuat Putih menjadi anak tunggal. Saudara pertamanya meninggal ketika lahir dan yang kedua meninggal karena difteri saat masih kecil. Vladimir Putin yang saat muda memiliki nama panggilan Putka. Meskipun pun mengakui pemerintahan komunis, Putin pun sa’at masih kecil sempat dibaptis berdasarkan kepercayaan Gereja Ortodoks. Putin memiliki kemampuan berbahasa yang baik, terutama dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Ia juga memiliki keterampilan dalam bela diri, khususnya sambo, bela diri dari Rusia, dan judo. Ia juga bukan seorang perokok atau tipe pemabuk berat.

Keluarga
Pada 28 Juli 1983 putin menikahi Lyudmila Aleksandrovna  seorang sarjana di bidang filologi di Universitas Negeri Leningrad setelah lulus Lyudmila bekerja sebagai pramugari di Kaliningrad dan sekarang ia bekerja sebagai pengajar. Sama seperti suaminya, ia juga memiliki kemampuan berbahasa yang baik, terutama dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Spanyol. Mereka memiliki dua orang anak perempuan yaitu, Mariyana Putina (lahir pada 28 April 1985 di St Petersberg) dan Yekaterina Putina (lahir pada 31 Agustus 1986 di Dresden) Namun pada akhirnya setelah menjalani kehidupan rumah tangga selama lebih dari 30 tahun akhirnya Putin dan Lyudmilla memutuskan resmi bercerai pada April 2014 lalu secara baik dengan alasan yang dirahasiakan.

Karier Putin
Setelah menyelesaikan mendapatkan gelar sarjana hukum pada tahun 1975 dari Universitas negeri di Leningrad, Putin bergabung dalam Dinas Intelijen Uni Soviet Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnost (KGB) dan menjalankan pelatihannya di Leningrad. Semasa berdinas di KGB, Putin ditempatkan di Dresen, Jerman Timur. Dia juga menjadi saksi mata sejarah kejatuhan pemerintahan komunis Jerman timur tahun 1990 lalu.
Namun pada tahun 1990 Putin kembali lagi ke Leningrad dan mengundurkan diri dari KGB dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Lalu pada tahun 1991 Kelompok komunis melakukan Kudeta terhadap Mikhail Gorbachev karena tidak setuju dengan ide pembaharuan berupa Glasnost dan Prestroika-nya yang membuat Uni Soviet runtuh, meski demikian kudeta itu berhasil ditumpas dan Gorbachev kembali ke pemerintahan
Lalu setelah pensiun dari KGB pada tahun 1990 dia menjalin aliansi dengan Anatoly Sobchak, walikota St Petersburg, serta berkerja padanya sebagai asisten sejak Maret 1994. Mulai saat itu, karir politik Putin terus menanjak. Pada tahun 1996, Sobchak kehilangan jabatannya dan Putin direkomendasikan sebagai pejabat administrasi kepresidenan oleh Deputi Perdana Menteri Anatoly Chubais. Pada tahun bulan Juli 1998, Putin menggantikan Nikolai Kovalyov sebagai kepala Federal Security Bureau (FSB), sebuah Dinas Rahasia Rusia yang baru. Pada tahun 1999, Putin menjabat sebagai Perdana Menteri, menggantikan Sergei Stephasin yang diberhentikan oleh Presiden Boris Yeltsin. Pada 31 Desember 1999, Boris Yeltsin mengundurkan diri, melihat kekosongan kekuasaan ini putin mengangkat dirinya sendiri sebagai Pejabat Presiden.
Pada pemilihan presiden tanggal 26 Maret 2000 dengan Partai Politiknya, Rusia Bersatu,Putin memenangkan Pemilu dengan mendapatkan perolehan suara 52.94%  pemilih, lalu setelah itu dia dilantik secara resmi sebagai presiden pada tanggal 7 Mei 2000
.
Pasca kemenanganya muncul berbagai komentar positif mengenai Putin, Boris Yeltsin menyatakan kepada seluruh rakyat Rusia bahwa "Dia (Putin) dapat mengulangi kejayaan Rusia yang baru pada abad 21" sementara itu Sergei Stepashin, pejabat yang digantikannya mengatakan bahwa Putin adalah seorang yang jujur dan mantan Presiden amerika Serikat pun memberikan komentar bahwa, Putin mampu untuk menjadikan Rusia sebagai negara yang berprospek dan kuat. Sedangkan mantan Presiden Uni Soviet  Mikhail Gorbachev ketika bertemu dengan Putin pada bulan Agustus 2000 memastikan dia (Putin) tidak akan merusak Demokrasi Rusia.

Tanpa harus diperjelas oleh berbagai pendapat tokoh-tokoh lainya, Putin memang bercita-cita untuk mengembalikan masa-masa kejayaan Rusia yang dirindukan seluruh masyarakat Rusia pada masa Uni Soviet. Langkah awal Putin adalah mengganti lagu kebangsaan Rusia pada masa Yeltsin, “Patrioticheskaya Pesnya” atau yang berarti “Lagu Patriotik” yang tanpa lirik dengan menggunakan lagu kebangsaan Uni Soviet, “Gimn Sovetskogo Soyuza” atau “Himne Uni Soviet” aransemen tahun 1977. Putin mengganti judulnya menjaadi “Gosudarstvenniy gimn Rossiyskoy Federatsii” atau “Himne Federasi Rusia” dengan aransemen gubahan Aleksander Aleksandrov.

Gebrakan selanjutnya melakukan penangkapan terhadap para pengusaha hitam antara lain menahan pengusaha miyak  Yukos Mikhail Khodorovsky lalu menjual sahamnya, serta perlahan lahan melakukakn nasionalisasi terhadap beberapa perusahaan. Beberapa media baik nasional Rusia maupun internasional menyebut bahwa Putin secara perlahan lahan sedang memusatkan kekuasaannya di Kremlin sebagaimana Uni Soviet dahulu. Langkahnya  ini dapat dibaca dari pernyataannya adalah dengan mengatakan bahwa kejatuhan Uni Soviet adalah sebuah tragedi nasional.

Dalam masa kepemimpinannya, Putin dapat membuktikan harapan yang dimiliki orang-orang terhadap dirinya. Ia mampu mengangkat kembali negaranya setelah kejatuhannya yang menjadi tragedi nasional kejatuhan Uni Soviet, dengan menghasilkan banyak kemajuan di berbagai bidang, di antaranya adalah bidang ekonomi, industri, energi nuklir, pertahanan dan militer, lingkungan, serta olahraga. Dalam bidang perekonomian, selama delapan tahun berturut-turut, ekonomi negeri ‘Beruang Merah’ ini tumbuh rata-rata 7% per tahunya, Pendapatan Domestik Bruto pun naik sebesar 72%. Selain itu, Putin juga mampu menjalin hubungan internasional yang baik dengan beberapa segara seperti Amerika Serikat, Inggris, China, Iran, Australia, dan negara-negara Amerika Latin. Dengan begitu banyak hal yang telah ia lakukan untuk negaranya, popularitas Putin selama menjabat sebagai presiden tidak pernah di bawah 65%. Pada bulan Agustus 1999, poplaritas Putin adalah 31%. Dalam tiga bulan, popularitasnya meningkat tajam menjadi 80% dan terus tinggi.
Karena konstitusi Rusia membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode, Putin yang ingin berkuasa kembali di Rusia setelah menjabat sebagai Presiden selama dua periode (2000-2004 dan 2004-2008) mengajukan orang dekatnya, Dmitry Medvedev untuk bertarung dalam Pemilu 2008. Akhirnya Dimitri Medvedev bersama Partai Rusia bersatu memenangkan Pemilu sehingga mengantarkan Medvedev menjabat sebagai Presiden, lalu dia menunjuk Putin sebagai Perdana Menteri. Pada masa pemerintahan Medvedev ini diadakan amandemen terhadap Konstitusi untuk menghapus masa jabatan presiden yang hanya dibatasi selama dua perode serta menambah masa jabatan Presiden yang sebelumnya hanya empat tahun menjadi enam tahun Pada Pemilu 2012 lalu, Putin kembali terpilih sebagai presiden dengan total perolehan suara sebanyak 63,6% serta melakukan ‘ukir kekuasaan’ menunjuk Dimitri Medvedev sebagai Perdana Menteri


Yang membuat sosok Vladimir Putin kian menjadi perhatian bagi banyak pengamat politik adalah pandangan dan kebijakan politik yang diterapkan Putin yang sering bertolak belakang dengan negara Barat yang dimotori Amerika Serikat. Seperti menentang Invasi atas Irak pada tahun 2003, Penolakan pemberlakukan sanksi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta sempat juga muncul ketegangan atas tindakan terhadap rencana pembangunan sistem pertahanan misil Eropa yang dikhawatirkan akan mengancam Rusia. Putin juga aktif menjalin kemitraan dengan sejumlah negara yang memusuhi Amerika Serikat seperti halnya Kuba dan Venezuela, Iran dan Suriah, Pencaplokan atas Krimea yang membuat Rusia dikeluarkan dari keanggotaan G-8 pada Tahun 2014 dan yang terbaru pada awal Oktober 2015 ini ikut terlibat aktif dalam konflik Suriah dengan mendukung pemerintahan Bashar Ashad melawan pembrontak Suriah yang didukung Amerika Serikat .

Republik Federasi Rusia, Beruang Merah Raksasa yang Bangkit Lagi

Rusia Kuno
Sejarah bangsa Russia dimulai sejak jaman purba, ketika nenek moyang orang-orang, Bangsa Slavia, muncul di Eropa. Di wilayah Rusia, fosil manusia purba (homo sapiens) ditemukan yang usianya diperkirakan 45-35 ribu tahun SM. Terbentuknya Negara Rusia diawali dengan munculnya konflik antar bangsa Slavia yang tinggal di utara sekitar kota Novgorod yang untuk saling berebut kekuasaan, untuk mengakhiri konflik tersebut, mereka meminta bantuan tetangganya di utara, yaitu Bangsa Skandinavia (Varangian). Lalu pada tahun 862 M Bangsa Skandivania yang dipimpin oleh Pangeran Rurik menyebrangi Laut Baltik untuk tiba di Kota  Novgorod dan membentuk pemerintahan disana untuk menjadi pemegang kekuasaan terhadap orang-orang Rusia, dan sejak itulah dimulailah sejarah awal Negara Rusia  

Penerus Pangeran Rurik, adalah Pangeran Oleg yang berhasil meluaskan wilayahnya ke utara termasuk menguasai Kiev, Lalu Pusat pemerintahan dipindahkan Pada awal abad X Bangsa Slavia yang sebelumnya terpisah-pisah, seperti Novgorod, Kiev dan lainnya berhasil dipersatukan di bawah pemerintahan Pangeran Oleg dan pemerintahanya dikenal dengan nama Kiev Rusia.

Pada tahun 989 Vladimir I berhasil meluaskan wilayahnya hingga Kaukasus dan Laut Hitam serta menetapkan ajaran Kristen Ortodoks sebagai agama resmi Negara. Pemerintahan Kiev Rus berkembang baik di bidang ekonomi, perdagangan dan hubungan dengan pemerintahan-pemerintahan yang ada di Eropa Barat dan lainnya. Selain itu berkembang pula bidang pendidikan, antara lain munculnya tulisan bangsa Slavia akibat pengaruh masuknya agama Kristen Orthodoks. Huruf tulisan Slavia tersebut diciptakan oleh dua orang pendeta bersaudara, Kiril dan Mefodiy yang disebut “Cyrillic”.

Pada masa pemerintahan Yaroslav Mudry (Yaroslav the Wise), Kiev Rus menjadi salah satu pemerintahan yang besar dan kota Kiev menjadi salah satu pusat kebudayaan terpenting di Eropa. Kemudian pada masa pemerintahan Vladimir Monomakh, cucu Yaroslav Mudry, Kiev Rus mengembangkan hubungan dengan Barat. Akan tetapi, setelah kematian Vladimir Monomakh mulai terjadi perebutan kekuasaan di antara anak-anak dan cucu-cucunya sehingga Kiev Rus terpecah-pecah dan runtuh. Selanjutnya, Kerajaan Kiev Rus berakhir setelah serangan Mongol pada tahun 1237 oleh Batu Khan, cucu Genghis Khan.

Selanjutnya bangsa Mongol berhasil dikalahkan oleh Rusia dibawah pimpinan Dimitri Donskoy pada tahun 1380 dengan kemenangan di Kulikovo. Kemudian daerah-daerah yang tercerai berai disatukan kembali oleh Ivan IV, Ia berhasil menaklukan Kazan (1552), Astrakhan (1516) serta menguasai Siberia.  Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh keturunanya hingga Dinasti Romanov naik tahta yang diawali dengan diangkatnya oleh Michael Romanov sebagai Tsar pada tahun 1613. Dinasti Romanov berkuasa selama 304 tahun hingga tahun 1917 dengan Tsar Nikolai II sebagai tsar terakhir.

Pada tahun 1917 kekuasaan monarki runtuh akibat Gerakan Revolusi Februari dan Kaisar Nikolai II diminta turun tahta dan pemerintahan beralih kepada pemerintahan sementara (Gregorian) Tanggal 1 September 1917 berdasarkan dekrit Kepala Pemerintahan Sementara, Aleksander Kerensky, Bentuk Pemerintahan Rusia beralih menjadi Republik Rusia.

Uni Soviet
Setelah Gerakan Revolusi Februari 1917, Pemerintahan Republik Rusia sementara yang terbentuk ternyata tidak dapat menghentikan berbagai kekacauan yang menyebar di Rusia. Akibatnya pada 25 Oktober 1917, Partai Bolshevik (Partai Pekerja Sosial Demokrasi Rusia/RSDRP) dibawah pimpinan Vladimir Ilyich Lenin melakukan kudeta, lalu mengumumkan berdirinya Republik Soviet Rusia . Peristiwa ini dikenal dengan sebuta Revolusi Bolshevik

Pada malam tanggal 16 ke tanggal 17 Juli 1918 seluruh Keluarga Tsar di eksekusi mati di Yekaterinburg .Pada tahun 1918-1922 terjadi perang saudara antara penentang kaum Bolshevik (putih) dan pendukung kaum Bolshevik (merah). Tanggal 30 Desember 1922 Rusia bersama Ukraina dan Belarusia dan Federasi wilayah Kaukasue membentuk Uni Republik Sosialis Uni Soviet atau lebih dikenal dengan nama Uni Soviet.

Setelah kematian Lenin tahun 1924, pemerintahan dilanjutkan oleh Joseph Stalin. Tahun 1929-1939 terjadi periode industrialisasi. Tahun 1939-1940 sebagai akibat dari serangkaian aksi politik dan peperangan, beberapa wilayah lainnya bergabung ke Uni Soviet, seperti Belarusia barat, Ukraina barat, Moldova, Karelia, barat, dan negra-negara kawasan Baltik (Latvia, Lithuania dan Lithuania) Wilayah-wilayah tersebut pada zaman dahulu sebelumnya pernah menjadi bagian Rusia. Pada tahun 1941 Uni Soviet melakukan agresi terhadap Finlandia karena konflik perbatasan, akibatnya, mereka  dikeluarkan dari Liga Bangsa-Bangsa.

Tanggal 22 Juni 1941 terjadi perang melawan Jerman. Jerman dan sekutunya berhasil menguasai banyak wilayah di Eropa Timur dan hamper saja menguasai Moskow, namun pada Bulan Agustus 1944 terjadi titik balik perang Pasukan Jerman yang masih berada di Leningrad terjebak oleh musim salju, lalu pasukan Uni Soviet yang sudah terbiasa cuaca salju melakukan serangan balik cepat sehingga dapat mengalahkan Jerman pada 7 bulan Mei 1945. Setiap tanggal 7 Mei Rusia memperingati sebagai Hari Kemenangan atas Jerman pada PD II.


Pertengahan abad XX terjadi Perang Dingin antara Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet bersama Sekutunya dengan Blok Barat pimpinan Amerika Serikat bersama sekutunya. Mereka juga membentuk aliansi militer yang tangguh yaitu Soviet membentuk  Pakta Warsawa dan Amerika Serikat dengan NATO nya. Sebagian besar anggaran negara baik Uni Soviet maupun Amerika Serikat diperuntukan kebutuhan persaingan persenjataan.

Republik Federasi Rusia
Pada tahun 1985 Uni Soviet dibawah pimpinan Mikhail Gorbachev yang menggagas Reformasi dengan dua platform besarnya Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (Restukturisasi) . Akan tetapi reformasi politik tersebut menyebabkan krisis yang mendalam dan kehancuran Uni Soviet. Negara-negara bagian Uni Soviet meminta memisahkan diri kepada pemerintah pusat untuk menjadi negara berdaulat. Pada tangal 12 Juni 1990 Kongres Wakil Rakyat SRusia memutuskan Deklarasi pemerintahan berdaulat Republik Rusia.
Pada tanggal 18 Agustus 1991 pihak konservatif Uni Soviet bersama militer melakukan upaya penyelamatan pemerintahan Soviet atau semacam kudeta dibawah pimpinan Komisi Pemerintah Keadaan Darurat (GKCP) Uni Soviet. Tujuanya yaitu mengasingkan Mikhail Gorbachev dari pemerintahan, pembatasan pembentukan demokratisasi dan pencegahan runtuhnya negara.  Akan tetapi tanggal 21 Agustus terjadi aksi massa besarbesaran, yang membuat Aksi GKCP mengalami kegagalan dan membuat mereka menarik semua pasukan militer dari Moskow

Runtuhnya Uni Soviet
Kemudian negara-negara bagian Soviet menyatakan kedaulatannya dan keluar dari Uni Soviet. Namun Tanggal 8 Desember 1991 Perdana Menteri Rusia, Ukraina dan Belarusia menandatangani persetujuan pembentukan Persemakmuran Negara-negara Merdeka (Commonwealth of Independent States/CIS). Pada tanggal 25 Desember 1991 di Kremlin (Moskow) Perdana Menteri Mikhail Gorbachev mengundurkan diri diirringi penurunan dan penggantian secara simbolis bendera Uni Soviet dengan bendera tiga warna Rusia. Peristiwa ini dikenal sebagau Keruntuhan Uni Soviet

Perkembangan Rusia Modern
Setelah Runtuhnya Uni Soviet, pemerintahan Federasi Rusia dipimpin oleh Presiden Boris Yeltsin sejak tahun 1991. Pembangunan politik Rusia saat itu diiringi dengan reformasi ekonomi. Akan tetapi hal ini tidak membawa perkembangan pembangunan perekonomian Rusia yang berarti. Pada awal tahun 1990-an sebagian besar perusahaan diprivatisasi. Namun ebijakan ini tidak dapat membantu menutupi utang negara yang jumlahnya sangat besar. Pada bulan Agustus 1998 terjadi kemerosotan nilai mata uang Rusia, Rubel tehadap mata uang utama dunia. Devaluasi tahun 1998 sangat menyulitkan kehidupan rakyat Rusia. Mulai tahun 1999 perekonomian Rusia mulai bangkit kembali.

Pada 31 Desember 1999, Presiden Boris Yeltsin mengundurkan diri dan digantikan oleh Pejabat Sementara sekaligus Perdana Menteri Vladimir Putin. Pada pemilihan presiden tanggal 26 Maret 2000 Vladimir Putin terpilih sebagai Presiden Republik Federasi Rusia dengan perolehan suara 52.94% pemilih. Putin berupaya mengembalikan Rusia sebagai negara kuat dan berpengaruh di dunia. Pada tahun 2000-an pemerintah melakukan serangkaian reformasi  sosial dan ekonomi, seperti perpajakan, pertanahan, dana pensiun, perbankan, ketenagakerjaan, energi listrik dan transportasi kereta api. Pada saat itu, dalam ekonomi Rusia terjadi kestabilan anggaran negara, pertumbuhan GDP, pertumbuhan produksi industri dan pertanian, pembangunan, pendapatan penduduk yang nyata dan juga penurunan inflasi.

Untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup rakyat, pada bulan September 2005 dicanangkan “Program Nasional” yang dititikberatkan pada sektor kesehatan, pendidikan, perumahan dan pertanian. Pada tahun 2000-2008 pertumbuhan ekonomi Rusia rata-rata mencapai 7% per tahunya sebagai hasil dari reformasi yang dilakukan, kestabilan politik dan keamanan juga diupayakan untuk menjaga kestabilan pertumbuhna ekonomi Rusia. Sejak menjabat sebagai Presiden, Putin berusaha memperkuat pemerintahan pusat atau federal dan melakukan nasionalisasi sejumlah perusahaan. Hal ini untuk memperbesar pengaruh pemerintah pusat dan menghindari perpecahan Rusia.

Vladimir Putin dan Kembalinya Kejayaan Rusia
Dibawah kekuasaan Putin sejak tahun 2000 Rusia tumbuh kembali menjadi kekuatan Ekonomi, sosial dan politi yang disegani dunia, namun bagi Putin itu tidak cukup dia juga bertekad mengembalikan kejayaan Rusia seperti masa Uni Soviet dahulu kala untuk menjadi Negara Adi kuasa (Super Power), Langkah awalnya untuk mencapai cita-citanya terganjal oleh konstitusi Rusia yang membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode, Putin yang ingin berkuasa kembali di Rusia setelah menjabat sebagai Presiden selama dua periode (2000-2004 dan 2004-2008) mengajukan orang dekatnya, Dmitry Medvedev untuk bertarung dalam Pemilu Presiden 2008. Akhirnya Dimitri Medvedev memenangkan Pemilu sehingga mengantarkan Medvedev sebagai Presiden, lalu dia menunjuk Putin sebagai Perdana Menteri. Pada masa pemerintahan Medvedev ini diadakan amandemen terhadap Konstitusi untuk menghapus masa jabatan presiden yang hanya dibatasi selama dua perode serta menambah masa jabatan Presiden yang sebelumnya hanya empat tahun menjadi enam tahun . Lalu Pada Pemilu 2012, Putin kembali bertarung dalam Pemilihan Presiden dan terpilih sebagai presiden serta melakukan ‘ukir kekuasaan’ menunjuk Dimitri Medvedev sebagai Perdana Menteri

Berbagai tindakan Vladimir Putin untuk membuat Rusia merebut kembali statusnya sebagai Negara Adi Kuasa antara lain mengambil sikap pandangan dan kebijakan politik yang sering bertolak belakang dengan negara Barat yang dimotori Amerika Serikat. Seperti menentang Invasi atas Irak pada tahun 2003, Penolakan pemberlakukan sanksi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta melancarkan ancaman keras terhadap rencana pembangunan sistem pertahanan misil Eropa yang dikhawatirkan akan mengancam Rusia. Selain itu Putin juga aktif menjalin kemitraan dengan sejumlah negara yang memusuhi Amerika Serikat seperti halnya Kuba dan Venezuela, Iran dan Suriah, Pada Maret 2014 Ukraina, Negara Tetangga Rusia di sebelah barat itu berencana menjadi Negara NATO, atas rencana tindakan Ukraina tersebut, Rusia mengeluarkan ancaman dan protes keras karena Ukraina adalah daerah Buffer (Penyangga) antara Rusia dan Eropa, sehingga jika nantinya Ukraina menjadi anggota NATO maka akan mengancam jalur akses antara Rusia dan Eropa jika suatu saat terjadi Perang, Namun Ukraian tetap bersikeras dengan rencana tersebut, rakyat Ukraina pun menggulingkan Presiden-nya karena Pro-Rusia, menyikapi hal tersebut Rusia yang merasa terancam melakukan serangkaiaan tindakan memutus pasokan gas ke Ukraina dan Eropa Mencaplok Wilayah Krimea  serta mendukung Gerilyawan sparatis Anti-Ukraina di Ukraina Selatan dan Timur. Serangkaian tindakan Rusia tersebut membuatnya dikeluarkan dari keanggotaan G-8 pada serta mendapat embargo sangsi dari Uni Eropa pada Tahun 2014 dan yang terbaru pada awal Oktober 2015 ini ikut terlibat aktif dalam konflik Suriah dengan mendukung pemerintahan Bashar Ashad melawan pembrontak Suriah yang didukung Amerika Serikat . Seringkaian sangsi ekonomi itu tak dapat menghentikan Aksi Rusia ini kian meneguhkan Posisi Rusia Sebagai Salah satu kekuatan ekonomi, Politik dan Milter berpengaruh di Dunia serta Amerika Serikat bersama sekutunya tak berdaya melawan aksi Rusia.

Sunday, October 4, 2015

Rusia Menggebrak di Suriah

Setelah kurun waktu hampir empat tahun hanya diam menyaksikan konflik di Suriah dan hanya membantu secara diplomatis dan persenjataan, akhirnya Rusia kini benar-benar turun langsung melibatkan diri dalam konflik Suriah dengan mengirim sejumlah armada pesawat tempurnya untuk membantu menggempur musuh-musuh sekunya Bashar al Assad serta untuk memperkuat kehadiran armada lautnya di perairan Suriah demi mengamankan pengaruhnya di Timur Tengah melalui Suriah dan Iran.

Mengamankan Kepentingan Rusia
Kehadiran Angkatan Udara Negeri Beruang Merah ini juga bertujuan untuk mengusir angkatan udara Amerika Serikat dari wilayah udara Suriah karena militer Amerika selama ini dikenal sebagai penyokong utama gerilyawan pembrontak Suriah yang berhaluan Islam-Sunni yang ingin menggulingkan kekuasaan Diktotor Bashar Al Assad yang menganut paham Syi’ah. Armada udara militer Rusia yang terdiri dari belasan pesawat tempur jenis MiG-29 dan Su-34 itu ditargetkan untuk menghancurkan musuh-musuh Assad seperti kelompok ISIS dan juga kelompok pembrontah Syiriah, Free Syrian Army

Kehadiran militer Rusia di Suriah sebenarnya sudah berlangsung lama sekali bahkan sudah ada sejak tahun 1970an. Namun baru kali ini Negeri pimpinan Vladimir Putin ini benar-benar menerjunkan langsung pasukannya untuk terlibat langsung dalam konflik bersenjata di Suriah. Kehadiran Pesawat tempur mereka ini sebenarnya juga untuk mengamankan pangkalan militer di Lattakia, Suriah serta mengamankan pengaruhnya di kawasan Timut Tengah karena tanpa Suriah, maka Rusia akan kehilangan akses langsung ke Negara sekutunya Iran. Diperkirakan juga untuk mengamankan kepentinganya itu, Rusia diprediksi juga akan mengirim Angkatan Daratnya ke suriah untuk menngelar kampanye perang darat menghantam musuh-musuh sekutunya, Assad di Suriah.

Perang Makin Runyam
Amerika Serikat dan sekutunya mengkhawatirkan Rusia juga akan mengirimkan kapal induknya, Admiral Kuznetsov ke Suriah, karena di kota pelabuhan Tarttus Suriah, Rusia juga memiliki pangkalan militer untuk armada lautnya sehingga dikhawatirkan dengan dalih mengamankan kepentingan militernya, Rusia akan mengirimkan Kapal induk lengkap dengan personil dan persenjataan militernya untuk membantu militer Suriah serta terlibat langsung dalam konflik ini sehingga membuat perang ini akan semakin runyam karena merupakan ajang Perang Adu kekuatan serta pengaruh di Timur Tengah antara Rusia yang mendukung Rezim Suriah sekarang serta Amerika Serikat yang menyokong pembrontak Suriah.



Respon Berbagai Pihak
Keterlibatan Rusia dalam konflik ini mendapatkan tanggapan beragam dari berbagai pihak, Amerika Serikat, serta sekutunya Arab Saudi yang menganut paham Sunni sebagai penyokong utama Pembrontak Suriah mengecam keterlibatan Rusia di Suriah bahkan puluhan akademisi dan ulama' Arab saudi mengeluarkan seruan bagi umat islam berpaham Sunni untuk jihad terhadap militer Rusia di Suriah, Turki Negara anggota NATO serta menganut paham Sunni melakukan protes keras pada Rusia karena pesawat-pesawat Rusia untuk mencapai Suriah melanggar kedaulatan wilayah udara Turki

Respon negatif dari luar negeri ini berlawanan sekali dengan respon dalam negeri Suriah yang memberikan tanggapan positif bahkan mengelu-elukan Rusia dan Vladimir Putin sebagai Pahlawan dan Juru selamat bagi negara mereka dari serangan pembrontak dan ISIS.