Showing posts with label Kemerdekaan. Show all posts
Showing posts with label Kemerdekaan. Show all posts

Wednesday, February 24, 2016

Sejarah Berdirinya Negara Venezuela

Sejarah Berdirinya Negara Venezuela


Kedatangan Bangsa Eropa
Venezuela ditemukan oleh Christopher Columbus pada saat pelayarannya yang ketiga menuju dunia baru. Pada tanggal 1 Agustus 1489 Columbus tercatat sebagai orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya didaratan utama Amerika Selatan. Kemudian Ia menghabiskan waktu dua minggu untuk meneliti daerah delta Rio Orinoco.

Penjajahan Spanyol
Penjajahan Spanyol di daratan Venezuela dimulai tahun 1522, ketika koloni Spanyol mendirikan permukiman permanen pertama, di Selatan permukiman Amerika yang di masa kini disebut sebagai Cumana. Pada abad ke-16, Jerman juga mencoba untuk memulai kolonisasi, di bawah pimpinan Klein-Venedig (1528-1546). Namun, sejarah mencatat, Jerman tidak berhasil membangun koloni di tempat ini. Sejak awal, pembangunan koloni asing telah mendapatkan perlawanan dari penduduk asli Venezuela, ( Caciques). Pimpinan Caciques, antara lain adalah Guacaipuro (1530-1568) dan Tamanaco (meninggal 1573). Keduanya memimpin penduduk asli untuk mencoba menahan serbuan Spanyol. Namun akhirnya Spanyol keluar sebagai pemenang dan mereka menangkap para pemimpin Caciques untuk kemudian dihukum mati. Spanyol kemudia melebarkan kekuasaanya dengan mulai membangun pusat peradaban di Venezuela, dengan mendirikan kota Caracas.

Selama masa kependudukan Spanyol, pada abad ke-16, ajaran agama Katolik Roma mulai mengonversi kepercayaan religi animisme yang dianut oleh pribumi yang disebut Mariches, para keturunan Karibia. Pemilihan beberapa nama tempat, seperti Caracas, Chacao, dan Los Teques sempat ditolak karena dinilai terlalu berbau Katolik. Akan tetapi, penolakan itu berhasil ditundukkan oleh hegemoni para pendatang dari tanah Eropa. Permukiman kolonial awal difokuskan di pantai utara. Tetapi, pada pertengahan abad ke-18, bangsa Spanyol kemudian masuk lebih jauh hingga ke pedalaman, di sepanjang Sungai Orinoco. Disekitar sungai itulah, kelompok pribumi Ye’kuana yang dikenal sebagai Makiritare melakukan perlawanan besar sepanjang tahun 1775-1776.

Permukiman timur Spanyol di Venezuela masuk dalam kekuasaan Provinsi New Andalusia, yang diperintah oleh Audencia Royal Santo Domingo,sejak awal abad ke-16. Sedangkan sejak abad ke-18, sebagian besar Venezuela menjadi bagian dari Kerajaan Granada Baru. Konon, perampasan Venezuela oleh bangsa Spanyol berjalan lambat dan sulit, tetapi berangsur-angsur mereka berhasil merebut kawasan itu dan membangun jaringan kota. Selama masa penjajahan ini, Venezuela diperintahkan oleh perwakilan kerajaan Spanyol. Para birokrat kerajaan memegang pucuk pemerintahan, sedangkan para pastur Spanyol memegang jabatan gereja tertinggi. Golongan Criollos, kulit putih kelahiran Amerika, memiliki lahannya dan mengendalikan politik dan agama, tetapi hanya pada tingkat lokal.

Golongan Mestizo, ditempatkan pada posisi yang lebih rendah oleh golongan minoritas kulit putih. Suku Indian yang hidup di pedalaman benarbenar terpisah dari kehidupan social dan budaya Eropa, sedangkan golongan Negro diperkerjakan sebagai budak di perkebunan pantai Karibia. Karena rasa tidak puas, baik dari golongan Kreol yang paling kaya maupun yang amat miskin, terjadilah gerakan untuk kemerdekaan. Venezuela tidak pernah bisa menerima segala bentuk imperialisme. Negeri ini dihuni oleh mereka yang memiliki nasionalisme kokoh, dan berharap surga mereka tidak berubah menjadi penjara hegemoni politik dan ekonomi asing. Perlawanan tidak henti-hentinya senantiasa dikobarkan untuk mempertahankan keindahan Venezuela.

Kemerdekaan
Beberapa kali perlawanan kelompok kecil dari penduduk asli, Caciques, terhadap Spanyol berakhir dengan kekalahan, maka Venezuela mulai belajar bagaimana cara untuk melakukan perlawanan besar-besaran. Di bawah kepemimpinan Francisco de Miranda, seorang marshal Venezuela yang pernah ikut berjuang dalam Revolusi Amerika dan Perancis memulai perlawanan dan akhirnya pada 5 Juli 1811, tujuh dari sepuluh provinsi mendeklarasikan kemerdekaan di Venezuela yang menandai kemerdekaan Venezuela dan era berdirinya Republik Pertama di Venezuela . 

Upaya mempertahankan Kemerdekaan dari Spanyol
Namun Spanyol tidak tinggal diam  begitu saja, mereka kemudian menyerbu kelompok pro-kemerdekaan. Setahun kemudian, akhirnya Spanyol dapat menguasai Venezuela lagi setelah negara itu mengalami kekalahan karena diguncang gempa bumi dan Perang La Victoria. 

Setahun pasca kekalahan dari Spanyol, Simon Bolivar setelah menghadapi pertempuran besar melawan Spanyol di Kota Cucuta akhirnya dapat merebut kembali kedaulatan Venezuela pada tahun 1813 yang menandai era berdirinya Republik Kedua.

Namun, periode kemerdekaan ini juga tidak berlangsung lama karena bermasalah dengan pemberontakan lokal serta pendudukan kembali pasukan Spanyol akhirnya pertengahan tahun 1814 Venezuela jatuh lagi ketangan Spanyol dan Bolivar beserta pasukanya menyingkar kelluar Venezuela. 

Bolivar dan para pejuang lain tidak menyerah kemudian pada tahun 1817 mereka memulai perlawanan kembali terhadap Spanyol bahkan target mereka bukan hanya membebaskan Venezzuela tapi Granada Baru (Kolombia, sebagian Venezuela, Ekuador, Panama, dan sebagian Peru) akhirnya pada tahun 10 Agustus 1819, Bolivar dapat mengusir Spanyol dari kota Bogota yang menandai era berdirinya Republik Grand Colombia (Kolombia, sebagian Venezuela, Ekuador, Panama, dan sebagian Peru) dan berakhirnya kolonialisme Spanyol di Venezuela karena setelah itu Venezuela lebih banyak menghadapi konflik internal antar faksi dan idiologi untuk meraih kekuasaan tertinggi di negara kaya minyak tersebut



Thursday, February 18, 2016

Sejarah Berdirinya Republik Rakyat China

Pada 10 Oktober tahun 1911, meletuslah Revolusi China dimana rakyat China yang mayoritas suku Han berhasil mengakhiri 200 tahun pemerintahan Kekaisaran Dinasti Qing (1644-1912) yang didominasi oleh minoritas etnis Manchu,yang dinilai korup dan lemah dalam membendung intervensi asing. Setelah revolusi ini sistem pemerintahan China berganti dari Monarki menjadi Republik sehingga menempatkan China sebagai negara pertama di Asia yang berbentuk republik.
Pada 29 Desember 1911, Sun Yat-sen terpilih sebagai presiden oleh majelis Nanjing yang mewakili tujuh belas provinsi yang kemudian pada tanggal 1 Januari 1912, ia secara resmi dilantik secara resmi menjadi Presiden pertama Republik China
Namun sayangnya Dr Sun Yat Sen hanya menjabat Presiden selama tiga bulan ( 29 Desember 1911-10 Maret 1912. Hal ini dikarenakan intrik-intrik gerakan para tuan tanah yang banyak mengontrol pemerintahan dan kehidupan negara serta minimnya dukungan militer pada pemerintahanya.
Ia kemudian menyerahkan kursi kepresidenan kepada Jenderal Yuan Shikai, yang merupakan mantan perdana menteri pemerintahan Dinasti Qing. Yuan secara resmi terpilih sebagai presiden pada tahun 1913. Dalam menjalankan pemerintahanya ia menggunakan kekuatan militer dan mengabaikan lembaga republik yang didirikan oleh pendahulunya. Setelah menduduki jabatanya, Dia membuat keputusan kontroversial dengan segera menghapuskan kekuasaan Kuomintang (KMT), melarang "organisasi rahasia" (yang secara implisit termasuk KMT). Selanjutnya pada tahun 1915 Yuan menyatakan dirinya sebagai Kaisar China.
Penguasa baru China ini mencoba untuk meningkatkan sentralisasi pemerintahan dengan menghapuskan sistem provinsi, namun langkah ini mengundang perlawanan para bangsawan dan gubernur provinsi. Kemudian banyak provinsi menyatakan kemerdekaan dan menjadi negara panglima perang. Tindaka-tindakanya membuat para pendukungnya meninggalkanya sehingga akhirnya, Yuan menyerah menjadi Kaisar pada tahun 1916 dan meninggal beberapa waktu kemudian.
Setelah kematian Yuan, para pengikutnya membentuk pemerintahan di Beijing sementara partai (nasionalis) Kuomintang Sun Yat-Sen membentuk pemerintahan tandingan di Kanton. Sepuluh tahun selanjutnya, China terlibat dalam perang sipil. Pada tahun 1919, terjadi protes mahasiswa terhadap respon pemerintah yang lemah terhadap Perjanjian Versailles yang berisi Jepang mengambil alih koloni Jerman di China, yang dianggap tidak adil oleh para intelektual China. Kebencian pada barat ini membuat paham komunis mulai menyebar di China dan akhirnya pada tahun 1920 berdiri Partai Komunis China
Yuan Shikai meninggal dunia dengan mewariskan kesimpangsiuran perundang-undangan dan angkatan bersenjata Tentara China Utara tanpa seorang panglima yang diakui sebagai pemimpinnya. Akibatnya era 1916-1928 di China dikenal sebagai periode warlordisme atau periode para jenderal perang. Selama masa ini para warlord saling berperang untuk mendapatkan pengaruh kekuasaan.
Sementara itu di wilayah China Selatan Sun Yat Sen masih memiliki pengaruh yang besar. Dengan bantuan Rusia, Sun Yat Sen mengorganisasi ulang Partai Kuomintang. Dalam kebijakanya, ia mengizinkan anggota Partai Komunis untuk bergabung untuk mempersatukan China kembali.

Dekade Nanjing
Setelah kematian Sun pada bulan Maret 1925, Chiang Kai-shek menjadi pemimpin Partai Kuomintang. Pada tahun 1926, Chiang memimpin Ekspedisi Utara untuk tujuan mengalahkan panglima perang dan mempersatukan China. Dalam ekpedisi tersebut Chiang menerima bantuan Uni Soviet dan Kaum komunis. Namun, ditengah perjalanan ia memutuskah hubungan dengan Uni Soviet karena curiga Soviet ingin menyingkirkan Kuomintang yang dikenal sebagai Nasionalis dan akan berbalik mendukung komunis untuk menguasai China. Setelah itu pecahlah pertempuran antara Kuomintang dan China yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban.
Pada saat yang sama, konflik kekerasan terjadi di Tiongkok Selatan, yang merupakan basis kaum Komunis disana mereka membantai pendukung Nasionalis. Peristiwa ini akhirnya mengarah pada Perang Saudara Tiongkok antara Nasionalis dan Komunis. Chiang Kai-shek berusaha menekan pihak Komunis ke pedalaman saat ia berusaha untuk menghancurkan mereka, sehingga Partai Komunis terpaksa mengadakan long march ke daerah barat daya dan mendirikan basis gerinya di Provinsi Yan'an dan Shaanxi. Selama long march ini, muncul pemimpin PKC yang baru Mao Zedong.
Setelah berhasil mempersatukan China dan mendesak komunis, Chiang Kai Sek akhirnya mendirikan pemerintahan dengan Nanking sebagai ibukota pada tahun 1927. Kemudian pada tahun 1928, tentara Chiang menjatuhkan pemerintah Beiyang yang menjadi penanda dimulainya Dekade Nanjing.
Pada tahun 1930 pihak Nasionalis yang mengambil alih kekuasaan militer dan menyatukan Tiongkok memulai tahap kedua dengan menetapkan sebuah konstitusi sementara dan memulai periode yang disebut "pengawasan”
Undang-undang disahkan dan kemudian menggelar kampanye mempromosikan hak-hak perempuan. Selanjutnya gerakan pembangunan yang dimulai dari desa muali digalakkan. Selain itu Pemerintah Nasionalis juga mengumukan rencananya membuat konstitusi baru pada 5 Mei 1936.
Selama zaman ini serangkaian perang besar-besaran terjadi di Tiongkok barat, termasuk Pemberontakan Kumul, Perang Tiongkok-Tibet dan Invasi Soviet ke Xinjiang. Meskipun pemerintah pusat berusaha secara penuh mengendalikan seluruh negara selama periode ini, namun secara kenyataanya sebagian besar wilayah China di bawah kekuasaan semi-otonom oleh panglima perang lokal, pemimpin militer provinsi atau koalisi panglima perang. Pemerintahan Nasionalis terkuat berada di wilayah timur di sekitar ibukota Nanjing, tapi militeris regional seperti Feng Yuxiang dan Yan Xishan mempertahankan otoritas lokal.

Invasi Jepang ke China
Industrialisasi besar-besaran di Jepang serta pertunbuhan penduduk yang tinggi dan juga faktor kemenangan Faksi militer dalam pemerintahan Jepang membuat Jepang memerlukan bahan baku dan daerah pemasaran untuk industrinya selain itu Jepang juga perlu daerah baru untuk penduduknya karena wilayah Jepang yang sempit, akhirnya Jepang pun mulai menyusun ekspansi militernya secara matang
Pada bulan September 1931 Jepang merebut Manchuria dari China kemudian  mendirikan negara boneka bernama Manchukuo dengan mengangkat kaisar Qing Puyi sebagai kepala negaranya pada tahun 1932. Hilangnya Manchuria membuat pukulan besar bagi perekonomian China dibawah Kuomintang. Liga Bangsa-Bangsa yang didirikan pada akhir Perang Dunia I, tidak dapat bertindak apa-apa dalam menghadapi pembangkangan Jepang.
Setelah berhasil menguasai Manchuria, Jepang kemudian berusaha menguasai wilayah China lainya, namun pada saat itu pemerintahan Chiang pada saat itu lebih sibuk dengan kampanye pemusnahan Komunis dibandingkan dengan melawan penjajah Jepang. Pada bulan Desember 1936, terjadi peristiwa yang terkenal dengan nama Insiden Xian, dalam peristiwa tersebut Chiang Kai-shek, dalam sebuah acara diculik oleh Zhang Xueliang dan dipaksa untuk bersekutu dengan Partai Komunis untuk melawan Jepang, dan Chiang pun setuju dan akhirnya terbentuklah Persatuan Partai Kuomintang –Partai Komunis China melawan Jepang.
Perlawanan China mulai memanas setelah pada 7 Juli 1937, terjadi bentrokan antara pasukan China dan Jepang di luar Beijing dekat Jembatan Marco Polo. Pertempuran ini menyebabkan awal perang terbuka antara China dan Jepang, meskipun kedua pihak tidak menyatakan perang. Setelah insiden tersebut Shanghai jatuh ke tangan Jepang setelah tiga bulan pertempuran selanjutnya Ibu kota Nanjing juga jatuh pada bulan Desember 1937. Kejatuhan Nanjing diikuti oleh insiden pembunuhan dan perkosaan massal yang dikenal sebagai Pembantaian Nanjing. Ibu kota negara sementara akhirnya dipindahkan ke Wuhan yang kemudian diganti menjadi Chongqing yang menjadi pusat pemerintahan sampai 1945.
Pada 1940 Jepang mendirikan pemerintahan boneka di China dengan menunjuk Wang Jingwei sebagai Presidenya.
Front Persatuan antara Kuomintang dan Partai Komunis China memberikan keuntungan besar bagi pihan PKC untuk menyebarkan ajaran dan propagandanya pada masyarakat China
Setelah tahun 1940 konflik antara Kuomintang dan Komunis menjadi lebih sering terjadi di daerah-daerah yang tidak di bawah kendali Jepang. Masuknya Amerika Serikat ke Perang Pasifik setelah 1941 mengubah sifat hubungan mereka. Komunis memperluas pengaruh mereka, dan Kuomintang berusaha untuk menetralisir penyebaran pengaruh komunis. Sementara itu Tiongkok utara telah disusupi secara politik oleh politisi Jepang di Manchukuo yang menggunakan fasilitas, seperti Wei Huang Gong.
Pada tahun 1945 Republik Tiongkok muncul dari perang, nominal dengan kekuatan militer yang besar namun sebenarnya ekonomi terpuruk dan di ambang perang saudara habis-habisan. Ekonomi memburuk, dilemahkan oleh tuntutan militer dari perang asing dan perselisihan internal, dengan inflasi spiral, pengambilan keuntungan oleh pihak Nasionalis, spekulasi dan penimbunan. Kelaparan datang setelah perang, dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan kondisi tidak menentu di banyak bagian negara.
Situasi semakin rumit setelah kesepakatan Sekutu di Konferensi Yalta pada bulan Februari 1945 dengan masuknya pasukan Uni Soviet ke Manchuria untuk mempercepat kekalahan Jepang. Kuomintang awalnya yakin bahwa niat Soviet menduduki Manchuria adalah membantu mereka mengalahkan Jepang dan tidak ada kepentingan lain.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945, Pemerintah Nasionalis-Kuomintang memindahkan ibukota kembali ke Nanjing. Dengan bantuan Amerika, tentara Nasionalis pindah ke utara seiring menyerahnya Jepang di daerah itu. Uni Soviet yang masih menduduki Manchuria kemudian membantu Partai Komunis agar bisa lebih kuat lagi dalam menghadapi konflik dengan Kuomintang.

Berdirinya Republik Rakyat China
Menjelang berakhirnya Perang Dunia II perang, Amerika Serikat mengerahkan kapal perang US Marines untuk mengantisipasi Uni Soviet menyerang Beijing dan Tianjin serta sebagai upaya memberikan dukungan logistik pada  pasukan Kuomintang di sebelah utara dan timur laut Tiongkok.
Untuk membantu tujuan ini, pada 30 September 1945 Divisi Marinir Pertama tiba di Tiongkok dan diberi tugas dengan tuntutan keamanan di wilayah Semenanjung Shandong dan bagian timur Provinsi Hebei.
Melalui pengaruh mediasi Amerika Serikat gencatan senjata militer disepakati pada bulan Januari 1946, namun setelah itu pertempuran kembali terjadi antara Kuomintang dan Komunis. Ditengah isu permasalahan ketidakberesan korupsi yang mnjangkiti pemerintah Republik China pimpinan Kuomintang, serta meningkatnya hasutan dan propaganda yang dilakukan Partai Komunis, rakyat China mulai ragu pada Kuomintang dan berpaling bersimpati pada Partai Komunis.
Meski terlambat, pemerintah saat itu berusaha untuk menarik simpati dan dukungan rakyat melalui reformasi internal. sayangnya usaha ini sia-sia karena korupsi merajalela dan kekacauan politik dan ekonomi telah merajalela. Pada akhir 1948 posisi Kuomintang kian suram dan terjepit. Militer Kuomintang  mengalami demoralisasi, sehingga meskipun Kuomintang memiliki keuntungan dalam jumlah angkatan bersenjata dan senjata, serta menguasai wilayah dan populasi yang jauh lebih besar dan menikmati dukungan internasional yang cukup besar namun mereka terus mengalami banyak kekalahan dari Tentara Pembebasan Rakyat, Partai Komunis China.
Pada Januari 1949 Beijing diambil alih oleh Komunis tanpa perlawanan. Antara April dan November Kuomintang kehilangan kota-kota besar kepada Komunis dengan sedikit perlawanan. Dalam kebanyakan kasus pedesaan dan kota-kota kecil sekitarnya telah berada dibawah pengaruh komunis, jauh sebelum kota. Akhirnya, pada tanggal 1 Oktober 1949, pihak Komunis mendirikan Republik Rakyat China.
Sementara itu Parta Kuomintang pimpinan Chiang Kai-shek pada 1 Oktober 1949 bersama para pendukungnya yang kurang lebih berjumlah dua juta serta ratusan ribu pasukan meninggalkan China daratan menuju ke Pulau Taiwan. Selanjutnya pada 7 Desember 1949 Chiang menyatakan Taipei sebagai ibukota sementara Republik China.





Friday, February 12, 2016

Sejarah Kemerdekaan Vietnam

Vietnam adalah sebuah negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara atau lebih tepatnya pada kawasan yang dijuluki Indo-China,. Kawasan ini banyak dipengaruhi oleh budaya dari India maupun China. Sejaka zama kuno hingga saat ini kawasan ini terkenal sebagai kawasan yang sering dilanda konflik. Salah satu negara besar yang ada di negara tersebut adalah Vietnam. Vietnam adalah sebuah negara yang memiliki sejarah panjang dalam merebut kemerdekaanya menghadapi kolonial Perancis, Jepang dan terakhir Amerika Serikat yang berusaha menghancurkan Vietnam karena berpaham komunis. Berikut adalah sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Vietnam untuk mendeklarasikan kemerdekaanya pada September 1945

Sejarah Bangsa Vietnam
Dari tahun 179 Sebelum Masehi sampai dengan tahun 938, Vietnam berada dibawah kekuasaan raja-raja China. Baru pada tahun 938, dibawah pimpinan Ngo Quyen, orang-orang Vietnam berhasil mengalahkan militer Tiongkok di Sungai Bach Dang dan mendapatkan kemerdekaan setelah 10 abad di bawah kontrol Tiongkok. Mereka mendapatkan otonomi secara lengkap satu abad kemudian

Setelah itu, Monarki Vietnam berada dibawah Pemerintahan Dinasti Ngo (938 - 969), Dinasti Dinli (969 - 979), Dinasti Le (980 - 1009), Dinasti Ly (1010 - 1225), Dinasti Tran (1224 - 1400) Pada masa pemerintahan Dinasti Tran, Dai Viet mengalahkan tiga usaha invasi Mongol di bawah Dinasti Yuan. Tiga kali dengan pasukan yang sangat besar juga dengan persipan yang hati-hati untuk serangan mereka, tetapi tiga kali berturut-turut orang-orang Mongol dikalahkan sama sekali oleh Dai Viet. Secara kebetulan, pertempuran terakhir dimana jendral Vietnam Tran Hung Dao mengalahkan kebanyakan militer Mongol diadakan lagi di Sungai Bach Dang seperti nenek moyangnya kurang lebih 300 tahun yang lalu
Dinasti Ho (1401 - 1406). Pada periode tahun 1407 - 1427, Vietnam kembali ditakhlukkan oleh China dibawah Dinasti Ming. Vietnam kembali menjadi negara merdeka dibawah kuasa Dinasti Le (1428 - 1527). Pada masa ini feudalisme di Vietnam mencapai titik puncaknya, khususnya selama masa pemerintahan Kaisar Le Thanh Tong. Antara abad ke 11 dan 15, Vietnam memperluas wilayahnya ke arah Sealatan dalam proses yang disebut Nam Tien (Perluasan ke Selatan). Mereka akhirnya menaklukan kerajaan Champa dan banyak kekaisaran Khmer.
Pada tahun 1527 Dinasti Le jatuh dan diganti oleh Dinasti Mac (1527 - 1592), akan tetapi, semenjak itu banyak perlawanan anti Dinasti Mac yang menjadikan Negara Vietnam terpecah belah dan terjadi perang saudara, melaui berbagai perang besar antara lain Perang Le-Mac (1543 - 1592), Perang Trinh-Nguyen (1627 -1672). Perang saudara tersebut akhirnya membuat Vietnam terbelah menjadi dua yaitu : Dang Ngoai (utara) dengan Raja Trinh dan Dang Trong (Selatan) dengan Raja Nguyen yang mendirikan ibukota di Phu Xuan (sekarang Hue).

Kedatangan Bangsa Eropa
Vietnam berada di daerah yang disebut sebagai Indo-China. Wilayah ini terletak di Asia bagian tenggara-timur. Wilayah Indo-China yang sekarang terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Vietnam, Kamboja, dan Laos. Peradaban Indo-China berasal dari dua peradaban besar, yaitu India (di Kamboja dan Laos) dan China (di Vietnam). Nama Indo-China (India-China) menggambarkan pengaruh dari dua bangsa besar di kawasan ini. Penduduk di Indo-China terdiri atas tiga macam bangsa, yaitu bangsa Khmer (Kamboja dan Cochin-China, Thai (Siam, Laos dan wilayah utara) dan Annam (Annam dan Tongkin). Bangsa Annam adalah termasuk bangsa China.
Vietnam seluruhnya merupakan kesatuan yang terbentuk dari: Cochin-China, Annam, Tongkin. Cochin-China adalah pusat kekuasaan Perancis pada masa kolonialisme Perancis di Indocina sebelum pecahnya Perang dunia II.
Sebelum Perancis masuk di Vietnam, sebenarnya Portugis telah menegakkan hubungan dagang teratur dikedua wilayah yaitu Annam dan Tongkin sebelum abad 16 . Tujuan utama Portugis berhubungan dagang dengan Tongking adalah untuk membeli bahan sutera guna dipasarkan ke Jepang. Selain usaha dagang, Portugis juga melakukan penyebaran agama Katholik. Misionaris Katholik Portugis yang mengawali penyebaran agama adalah berkata usaha Alexander Of Rhodes tahun 1625 yang berhasil mengirim misi ke Chochin-China dan Tongking. Namun, usaha penyebaran agama ini selalu mengalami kegagalan, bahkan pada tahun 1630 misi tersebut diusir oleh Trinh Trang. Selain itu juga diadakan pengiriman misi ke Tongking berada dibawah pimpinan Francisco Bussoni. Berkat perlindungan Sai Vuong (Nguyen Phuc Nguyen) (1613-1635, misi dibawah pimpinan Francisco Bussoni tersebut bisa tinggal di Annam hingga tahun 1639).
Berkat Alexander of Rhodes itu pulalah Perancis tertarik untuk mengirimkan misionaris ke Indo-China dengan jalan menyamar atau bertindak sebagai pedagang yang bekerja pada Compagnie Des Indes Orientaux (Perusahaan India Timur). Kemudian pada tahun 1662 mendirikan Societe des Missions Etrangers (Masyarakat Misi Luar Negeri), yang berpusat di Ayut’ia. Dari Ayut’ia inilah dilakukan pengiriman misi ke Kamboja, Annam, dan Tongking. Akan tetapi misionaris Perancis ini selalu mengalami kegagalan, karena beberapa faktor, antara lain:
  1. Adanya penolakan dan perlawanan, pengejaran, penahanan, penyiksaan bahkan pembunuhan dari raja-raja setempat terhadap para misionaris dan pengikut katholik.
  2. Setelah tahun 1682, Gereja Katholik Roma melarang para misionaris melibatkan diri dalam urusan perdagangan.
  3. Terjadinya pertentangan antar aliran misionaris.
  4. Kurangnya tenaga dan sarana sebagai faktor kunci penyebaran Agama Katholik


Awal Masuknya Imperialisme Perancis di Vietnam
Tujuan utama Perancis datang pertama kali ke Vietnam adalah untuk berdagang. Kemudian lama kelamaan Perancis ingin menjadikan Vietnam menjadi tanah jajahannya, sebab Vietnam mempunyai banyak potensi hasil bumi dan kekayaan alam dan bahkan menjadi lumbung padi bagi seluruh kawasan Indo-China, maka berbagai cara ditempuh Perancis untuk mendapatkan Vietnam.
Sejak zaman kuno hinggga modern, kawasan Indo-china merupakan daerah yang penuh dengan gejolak, baik berupa perebutan kekuasaan maupun dan perang saudara maupun melawan imperialisme asing. Di antara bangsa asing atau bangsa barat yang berhasil menanamkan kekuasaannya di Indo-China khususnya di Vietnam adalah bangsa Prancis. Ketika di kerajaan Annam, baik Annam Utara di bawah kekuasaan dinasti Le-Loi maupun Annam Selatan di bawah pemerintahan dinasti Nguyen-Hoang pada tahun 1773-1802 mulai terjadi kekacauan karena adanya pemberontakan Tay-Son tahun 1773. Pada tahun 1782 para pemberontak telah berhasil menguasai Saigon, Hue, Cochin-China dan mengadakan pengejaran serta pembunuhan keluarga raja Nguyen-Hoang. Di antara keluarga kerajaan yang selamat yaitu Nguyen Phuc-Anh (Nguyen-Anh), seorang putra mahkota kerajaan yang baru berusia 15 tahun. Pada tahun 1785 berhasil lolos dan melarikan diri ke Ayut’ia. Dalam pelarian ke Ayut’ia inilah Nguyen-Anh bertemu denagn Pigneau de Bahaine, seorang pendeta yang sedang mengadakan misi penyebaran Katholik di Ayut’ia. Berkat pendidikan dan bantuan atau perantaraan Pigneau de Bahaine Nguyen-Anh dapat bekerja sama dengan Perancis, sehingga terjadi perjanjian antara Nguyen-Anh dengan Perancis. Isi perjanjian tersebut secara garis besar adalah: Perancis bersedia memberi bantuan kapal-kapal perang, tentara dan pasukan dengan syarat pulau Condore dan Teluk Tourane diserahkan kepada Perancis. Dengan bantuan militer Perancis, Nguyen-Anh berhasil mengalahkan para pemberontak Tay-Son serta menyatukan kerajaan Annam kembali. Kemudian pada tanggal 1 Juni 1802 ia berhasil merebut tahta sebagai penguasa Vietnam di Hue dengan gelar Gia-Long hingga tahun 1820. Nguyen-Anh inilah yang dikenal sebagai pendiri dinasti Nguyen yang berkuasa di Vietnam sampai tahun 1945 . Sebagai ucapan terima kasih Nguyen memberi perlindungan kepada misi-misi Prancis di Vietnam dan memberi hak-hak istimewa kepada para pedagang Prancis dan menyerahkan pulau Condore dan Teluk Tourane kepada Perancis
Dibawah pemerintahan Nguyen Anh yang bergelar Gia Long (1802-1820) agama Katholik Roma dibiarkan dapat berkembang dengan leluasa. Tetapi akhirnya Gia Long sendiri curiga terhadap mereka dan mulai membatasi gerak-gerik mereka.
Pengganti-pengganti Gia Long, adalah: Minh Mang (1820-1840), Thieu Tri (1840-1847) dan Tu Duc (1847-1883), semuanya adalah anti-Khatolik Roma sehingga berusaha menindas tiap aktivitas penyebaran agama tersebut yang kemudian dijadikan Perancis menyerang Indo-China. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Tu-Duc

Vietnam dibawah Kolonial Peramcis 
Tu Duc yang memerintah Vietnam dari tahun 1847-1883, Di bawah pemerintahanya, dia berusaha mendindas kaum Katholik dan mencoba menutup Indo-China bagi bangsa asing karena takut akan bernasib sama dengan China yang dikalahkan Inggris dalam Perang Candu sehingga harus kehilangan sebagian wilayahnya. Perancis kemudian menyerbu Cochin-China pada tahun 1858. Tentara Vietnam dapat dikalahkan, tetapi Perancis gagal dalam serbuannya ke Hue, ibukota Vietnam. Perang ini berlangsung selama 4 tahun (1858-1862). Setelah itu Vietnam dipaksa menanda tangani  Perjanjian Saigon yang berisi 
  • Bagian timur Cochin-China menjadi milik Perancis (milik Perancis pertama di Indo-China yang merupakan pijakan dan pangkalan operasi nanti untuk menguasai seluruh Indo-China).
  • Pelabuhan-pelabuhan Tourane, Balat, Kuang-An, dibuka untuk Perancis.
  • Kebebasan beragama Katholik Roma.

Daerah Chochin-China adalah daerah penghasil beras bagi seluruh Indo-China. Vietnam tanpa Chochin-China tidak dapat hidup, karena penduduk Vietnam (terlebih di Tongkin) sangat padat dan hampir selalu kekurangan pangan. Namun hal ini berhasil ditutup dengan beras dari Chochin-China yang berkelebihan beras. Karena itu, siapa yang menggenggam Chochin-China berarti juga menggenggam seluruh Indo-China. Hal ini Perancis sangat tepat dalam memilih Chochin-China.
Pada tahun 1873-1874, Prancis dibawah pimpinan Francis Garnier Tongking dan menduduki Hanoi, namun tindakannya dapat dikalahkan oleh tentara Vietnam. Dengan segera Perancis menawarkan penyelesaian soal Hanoi ini, namun Tuc Duc melakukan kesalahan politik dengan menyetujui Perjanjian Saigon tahun 1874 yang ternyata sangat merugikan pihak yang menang, yaitu Vietnam.
Isi Perjanjian ini memuat:
  •  Hanoi dikembalikan oleh Perancis kepada Vietnam.
  • Vietnam mengakui Cochin-China seluruhnya sebagai seluruhnya sebagai milik Perancis. 
  • Vietnam berjanji akan menyesuaikan politik luar negerinya dengan dengan politik luar negeri Perancis.

Dengan ini imperialisme Perancis di Indo-China kembali menguat. Tu Duc terlambat mengetahui kesalahannya, karena pada waktu itu Perancis di Eropa telah kuat kembali. Kemudian Tu Duc berusaha menjalin hubungan dengan China untuk menghadapi Perancis. Hal ini membuat Perancis marah dan menuduh Tu Duc melanggar perjanjian Saigon 1874. Kemudian meletus lagi perang antara Vietnam dan Perancis, akhirnya Vietnam kalah. Kemudian terjadilah Perjanjian Hue 1883 yang menetapkan bahwa Vietnam berada dibawah kekuasaan Perancis yang mengakhiri kemerdekaan Vietnam. Perancis kemudian menduduki Vietnam sampai masuknya tentara Jepang.
Munculnya Gerakan Perlawanan dan Nasionalisme di Vietnam
Penjajahan dan eksploitasi yang dilakukan Perancis membuat tumbuhnya nasionalisme dan cita-cita membuat negara yang merdeka, apalagi sikap nasionalisme ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan asimilasi yang dilakukan pihak Perancis dalam bidang pendidikan yang meningkatkan nasionalisme dalam golongan terpelajar Vietnam
Sebab-sebab lahirnya kembali nasionalisme di Vietnam adalah;

  1. Penindasan Perancis di Indo-China, baik politik maupun ekonomi.
  2. Timbulnya kaum terpelajar yang telah mempelajari demokrasi tetapi dilarang mempraktekkannya.
  3. Kemenangan Perang Jepang atas Rusia 1905 yang membangkitkan nasionalisme diseluruh Asia.
  4. Revolusi Nasional Tiongkok 1911 memperkuat keinginan untuk merdeka.
  5. Dalam Perang Dunia I, Perancis mengirimkan orang-orang Indo-China ke Eropa sebagai tentara dan pekerja perang. Mereka ini kembali ke Indo-China dengan membawa faham-faham liberialisme.

   Kebijakan politik asimilasi yang dijalankan Perancis di Vietnam melahirkan kaum-kaum intelektual yang memiliki kesadaran nasionalisme tinggi dan bercita-cita mewujudkan Negara Vietnam merdeka  melalui berbagai organisasi perjuangan antara lain sebagai berikut :
  1. Partai Restorasi Anam League (Partai  Politik Pertama)
  2.  Partai Revolusi Pemuda Anam
  3. Partai Nasionalis Indo-China (VNQDD=Viet Nam Quak Dan Dang)
  4. Partai Komunis Indo-China (Doundong Cong San Dang)
  5. Partai Demokrat Indo-China (Viet Nam Dan Chu Dang)
  6. Partai Sosialis Indo China (Viet Nam Xa Hoi Dang),

Gerakan nasionalisme pertama pasca politik asimilasi yang berjuang melawan kolonialisme Perancis  yang pertama dengan mengangkat senjata adalah Liga Restorasi Vietnam (Vietnam Restoration League), yang didirikan dan dipimpin oleh Cuong De pada tahun 1907 karena terinspirasi kemenangan Jepang terhadap Rusia tahun 1905 . Namun gerakan ini dapat mudah dipatahkan Perancis.
Gerakan kemerdekaan Vietnam tak bisa dilepaskan dari peran gerakan kaum komunis Vietnam yang berada di bawah kendali Komitern (Komunis Internasional) yang berpusat di Moskow. Dalam Konggres Komintern ke-2 pada tahun 1920, Lenin mencetuskan bahwa kekuatan komunis harus bekerjasama dengan kekuatan non-komunis untuk saling membantugerakan gerakan kemerdekaan. Arahan kebijakan Comitern itulah yang nantinya digunakan pijakan bagi Komunis Vietnam untuk bekerjasama dengan golongan non komunis untuk merebut kemerdekaan Vietnam dari para kolonial.
Pada tanggal 3 Februari 1930 berdiri Partai Komunis Indochina (Communist Party of Indochina) dibawah pimpinan Nguyen Ai Quoc (Ho Chi Minh), yang melakukan perjuangan pembebasan dengan tujuan untuk mencapai : Kemerdekaan Nasional, Demokrasi dan Sosialisme. Melalui pergerakan-pergerakan seperti Pergerakan Nge Tinh Soviet (1930-1931), Pergerakan Demokratik (1936-1939), dan Pergerakan bagi Penyelamatan Nasional selama Perang Dunia Kedua (1939-1945)

Vietnam masa Perang dunia II
Setelah Jepang menghancurkan Pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Peral Harbour pada 7 Desember 1941, Jepang melancarkan serangan kilat menguasai negara-negara di sekitar kawasan Asia Pasifik khususnya Asia Tenggara.
Ketika kolonial Inggris dan Perancis di Asia Pasifik melemah karena lebih berfokus mempertahankan negara induknya di Eropa menghadapi Jerman, sehingga pertahan mereka di daerah jajahan berkurang. Kesempatan ini dimanfaatkan Jepang untuk menduduki daerah-daerah jajahan Inggris. Belanda dan Perancis, tak terkecuali Indocina. Kekalahan Perancis atas Jerman pada Mei 1940, membuat Perancis membuat Pemerintahan boneka dengan nama Republik Vichy yang bersekutu dengan Jerman. Sehingga setelah kekalahan tersebut semua daerah jajahan Perancis berada dibawah kekuasaan pemerintahan Vichy. Hubungan dekat antara pemerintah Vichy dan Jerman dimanfaatkan oleh Jepang yang merupakan sekutu Jerman guna menguaai Indo-China. Pada tanggal 22 September 1940 Vichy mengijinkan Jepang menduduki Tongking, kemudian pada tanggal 29 Juli 1941 tercapai persetujuan antara Jepang dan Perancis yang sangat menguntungkan pihak Jepang. Dalam perjanjian tersebut Jepang diberi hak jalan dan hak menggunakan pangkalan-pangkalan Perancis utnuk kepentingan ekonomi dan politik Jepang di Asia Timur.
Ditengah berkecamuknya Perang Asia Pasifik yang dikobarkan Jepang. Gerakan komunis Vietnam kian aktif memantau perkembangan yang terjadi. Untuk menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang tersebut ( Jepang dan Perancis) kaum komunis menggunakan metode (United National Front), hal ini dimaksudkan agar dapat memperkuat barisan kaum komunis dengan merangkul kekuatan dari pihak non komunis. Pada saat terjadi pergantian kekuasaan dari Perancis kepada Jepang di Indocina pada bulan Mei 1941, kaum komunis mengadakan Konggres di Chiangsi-provinsi Kwangsi. Dalam Konggres ini kaum komunis mengundang wakil-wakil dari pemuda dan golongan nasionalis. Hasil dari pertemuan ini pada Juli 1941 terbentuklah suatu wadah perjuangan bersama sebagai Liga Kemerdekaan Vietnam yang diberi nama Vietnam Doc Lap Minh atau lebih dikenal dengan nama Vietminh dengan ketua Ho Chi MinhAdapun tujuannya adalah ingin mencapai kemerdekaan Vietnam.
Gerakan Vietminh yang merupakan organisasi persatuan baik kaum komunis maupun nasionalis kemudian berubah menjadi organisasi massa yang besar dan berhasil merekrut banyak massa karena organisasi ini berjuang untuk bersama-sama mengajak rakyat mewujudkan Vietnam merdeka.

Kemerdekaan Vietnam
Pada 15 Agustus 1945 Jepang mengalami kekalahan atas tentara Sekutu namun tetap harus menjaga status quo. Selain itu gerkan Viet Minh semaikin kuat dengan mempropagandakan sebagai gerakan nasionalis sehingga mendapat banyak dukungan dari rakyat Vietnam. Viet minh kemudian memaksa Raja Boneka buatan Jepang, Bao Dai untuk menyerahkan kekuasaan pada tanggal 25 Agustus 1945. Setelah terjadinya masa Vacuum of Poweryang terkait pemerintahan yang berkuasa di Vietnam, Ho Chi Minh pada 2 September 1945 mengumumkan kemerdekaan Vietnam dengan sebutan Republik Demokrasi Vietnam yang berpusat di Hanoi.
Akhirnya setelah perjuangan yang panjang Vietnam dapat memproklamirkan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat. Namun masalah besar kemudian terjadi pasca kemerdekaan karena Perancis dan Amerika Serikat berniat menghancurkan Vietnam karena menerapkan idiologi komunis dalam pemerintahanya sehingga mereka nantinya terlibat perang panjang selama 30 tahun dalam Perang Vietnam yang sangat mengerikan.



Tuesday, February 9, 2016

Sejarah Kemerdekaan Israel

Asal –Usul Bangsa Israel
Bangsa Israel dipercaya merupakan keturunan Nabi Ibrahim As. yang lahir antara periode (2000-1500 SM) Beliau diketahui memiliki 2 istri. Dari pernikahanya dengan Siti Hajar mempunyai beliau memiliki anak Nabi Ismail A.s. yang dipercaya sebagai “Bapak dari Bangsa Arab“ dan dari Siti Sarah beliau mempunyai anak Nabi Ishak As. yang kemudian mempunyai anak Nabi Ya’qub A.s. alias Israel (Israil, Qur’an). Anak keturunannya nantilah yang disebut dengan Bani Israel yang berjumlah sebanyak 12 orang.

Ketika masa paceklik, Nabi Ya’qub A.s. bersama keluarganya bermigrasi ke Mesir kemudian lambat laun populasi mereka makin besar dan membentuk etnis tersendiri di Mesir yang disebut Bani (Suku) Israel atau anak keturunan Israel (Nabi Ya’qub A.s.) .
Pada periode 1550 SM – 1200 SM Politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi Negara Mesir. Karena banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.
Pada periode tahun 1200 SM – 1100 SM Bangsa Israel dipimpin Nabi Musa A.s. meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju tanah yang dijanjikan, yaitu Palestina

Asal Kata Penyebutan Yahudi Bagi Bani Israel
Sulit mengetahui asal-usul penyebutan nama Yahudi bagi Suku Israel, apalagi dinisbatkan kepada Yehuda. Dalam Kitab Perjanjian Lama, kata “Yahudi” baru mulai ditemukan pada kitab Ezra. Sedangkan pada kitab-kitab sebelumnya hanya disebut anak-anak Israel atau Bani Israel. Di dalam Alquran atau Hadits sendiri anak keturunan Nabi Ya’qub disebut Bani Israil, sedangkan penyebutan “Yahudi” lebih sering bermakna golongan yang dimurkai Allah, Sedangkan Yahudi sebenarnya adalah Agama seperti halnya Nasrani, Sabiin, Majusi dan Islam
Pada periode 1000 SM – 922 SM Nabi Daud (David) A.s. (anak Nabi Musa A.s.) dapat mengalahkan Raja Goliath (Jalut)  yang lalim dari Filistin Daud kemudian menjadi raja menggantikan Raja Thalut. Pada priode ini Bangsa Yahudi mengalami zaman keemasanya, Wilayahnya membentang dari tepi sungai Nil hingga sungai Efrat di Iraq.

Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel Raya seperti yang dipimpin raja Daud. Bendera Israel adalah dua garis biru (sungai Nil dan Eufrat) dan Bintang Daud.

Kepemimpinan Daud A.s. diteruskan oleh anaknya, Nabi Sulaiman A.s. (922 SM – 800 SM) Sepeninggal Sulaiman A.s., Israel dilanda perang saudara yang berlarut-larut, hingga akhirnya kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian Utara bernama Israel beribukota Samaria dan Selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.
Lalu pada tahun 800 SM – 600 SM Palestina dikuasai oleh kerajaan Asyiria. Kemudian periode 600 SM – 500 SM, Kerajaan Yehuda kemudian dikuasai Nebukadnezar dari Babylonia . Dalam masa kepemimpinanya Nebukadzer bertindak kejam pada Yahudi diusir dari  Yerusalem dan dipenjara di Babylonia .
Selanjutnya tahun 500 SM – 400 SM Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem. Kemudian tahun 330 SM – 322 SM Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani dijadikan bahasa resmi Israel.
300 SM – 190 SM Yunani dikalahkan Romawi, maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.

Diaspora Yahudi
Selama periode 100 – 300 M dikuasai oleh Romawi.  Pada tahun 115 M – 117 M – Perang Kitos yang merupakan perang terakhir orang-orang Yahudi terhadap Kerajaan Roma dan Kaisar Hadrian. Komunitas-komunitas Yahudi yang sudah mengungsi ke Cypus, Libya, Mesir, Syria dan Iraq telah memberontak terhadap Roma sehingga pembunuhan massal ratusan ribu masyarakat Yahudi menyusul dan sisanya terbuang untuk mengembara di berbagai bangsa di dunia. Lalu pada Tahun131 M – 136 M – Kaisar Hadrian membunuh 580.000 ribu Yahudi, mengubah nama Yerusalem menjadi Aelia Capitolina, dan nama Israel diubah menjadi Syria Palestina dalam usaha Kaisar Hadrian untuk memusnahkan total bangsa Yahudi.
Namun demikian tetap ada sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina.
Dengan masuknya Islam kemudian, serta dipakainya bahasa Arab di dalam kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk Islam.
Pada Tahun 313 M Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.
Pada Priode 638 M – 1453 M Tanah Israel direbut dari Kekaisaran Bizantium (Romawi) sekitar tahun 636 oleh tentara Arab-Islam sampai Kerajaan Ottoman (Turki) berkuasa.
Pada Periode Tahun1453 M – 1918 – Israel adalah bagian dari Kerajaan Ottoman.
Pada tahun 1516, Tanah Israel lebih dikenal dengan nama Palestina menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah, yang memerintah wilayah tersebut sampai pada abad ke-20.
Pengusiran besar-besaran Yahudi atau yang biasa disebut Diaspora Yahudi, menyebabkan tersebarnya Yahudi ke berbagai negara. Pada permulaan abad ke-12, penindasan Yahudi oleh Katolik mendorong perpindahan orang-orang Yahudi Eropa kembali ke Palestina. Dan perpindahan itu meningkatkan jumlah populasi Yahudi setelah pengusiran orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1492.
Selama abad ke-16, komunitas-komunitas besar Yahudi kebanyakan berpusat pada Empat Kota Suci Yahudi, yaitu Yerusalem, Hebron, Tiberias, dan Safed.
Pada pertengahan kedua abad ke-18, keseluruhan komunitas Hasidut yang berasal dari Eropa Timur telah berpindah ke Palestina Tanah Suci. Migrasi dalam skala besar tersebut di mulai pada tahun 1881 pada saat orang-orang Yahudi melarikan diri dari pogrom di Eropa Timur.
Karena besarnya eksodus Bangsa Yahudi ke Palestina maka pada tahun 1891 Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “The Sick Man at Bosporus”) sehingga Sultan tak dapat mencegah dengan kuat eksodus tersebut.

Gerakan Zionisme.
Pada dekade 1900-an di Eropa muncul gerakan antisemit, Yahudi yang selalu menjadi korban diskriminasi dari negara-negar tempat mereka tinggal lalu berfikir untuk membentuk sebuah negara Yahudi tersendiri melalui gagasa dari Dr. Theodore Herzl (1896), yang merupakan seorang Yahudi Hongaria di Paris. Menurut Herzl, satu-satunya obat mujarab untuk menanggulangi antisemitisme adalah adalah dengan menciptakan suatu tanah air bagi bangsa Yahudi.
Melalui pamfletnya yang berjudul “Der Yuden Staat,” Herzl mulai mempropagandakan cita-citanya tersebut. Awalnya Herzl belum menegaskan di mana letak tanah air bangsa Yahudi akan dibangun. Mula-mula disebut Argentina, Uganda atau Palestina. Tetapi dalam kongres kaum Zionis pertama di Basel, Swiss tahun 1897, mereka menetapkan Palestina sebagai pilihannya karena Palestina atau tepatnya bukit Zion adalah tempat leluhur mereka berasal sehingga gerakan pendirian gerakan Israel disebut Gerakan Zionisme.
Alasan pemilihan Palestina sendiri adalah karena leluhur mereka berasal dari Bukit Zion di Kota Yerusalem Palestina selain itu mereka ingin
mengembalikan ”Haikal Sulaiman” yang merupakan lambang puncak
kejayaan Kerajaan Yahudi di tanah Palestina (sekitar 975 – 935 SM).
Pada saat Sultan Abdul Hamid dari Khalifah Turki Utsmani menguasai Palestina, Yahudi berusaha membujuk Sultan untuk menyerahkan atau menjual Palestina pada mereka namun permintaan itu ditolak oleh Sultan
Pada Perang Dunia I (1914-1918), Turki Utsmani bergabung dengan Poros
Sentral (Jerman, Austria-Hungaria) melawan Sekutu mengalami kekalahan sehingga harus merelakan tanah jajahan mereka di Timur Tengah Sekutu. Kemudia pada tahun 1916, Inggris Prancis dan Rusia menandatangani Perjanjian Sykes Picot untuk membagi wilayah Timur Tengah. Setelah itu tepatnya pada tahun 1918 kontrol wilayah Palestina berada di tangan Inggris

Balfour Declarations
Sebelum kejatuhan Palestina ke tangan Inggris pada tahun 1917 Menteri luar negeri Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, menandatangani Deklarasi Balfour yang isinya dukungan Inggris pada bangsa Yahudi untuk mendirikan negara di Palestina. Setahun kemudian, secara resmi mandat atas Palestina diberikan kepada Inggris oleh LBB.
Gerakan Eksodus Yahudi ke Palestina
Setelah pada tahun 1930-an Partai NAZI menguasai Jerman dan mencanangkan gerakan pembersihan etnis yang kabarnya menelan korban lebih dari 6 Juta etnis Yahudi dalam peristiwa Holocaust, Gelombang eksodus Yahudi ke Palestina makin membesar hingga menimbulkan perlawanan dari bangsa Arab-Palestina antara tahun 1936-1939, sehingga memaksa Inggris membatasi imigrasi dengan mengeluarkan Buku Putih 1939. Namun Yahudi tak patah arang melalui gerakan bawah tanah, mereka terus melakukan migrasi ke Palestina.
Pada akhir Perang Dunia II, tercatat jumlah populasi orang Yahudi telah mencapai 33% dari populasi Palestina, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya 11% pada tahun 1922.
Pada tahun 1947, pemerintah Inggris menyatakan menarik diri dari Mandat Palestina, dan menyatakan tidak dapat mencapai solusi yang diterima baik oleh orang Arab maupun Yahudi.

Resolusi PBB untuk Palestina
Badan PBB yang baru saja dibentuk kemudian menyetujui Rencana Pembagian PBB (Resolusi Majelis Umum PBB 18) pada 29 November 1947. Rencana pembagian ini membagi Palestina menjadi dua negara, satu negara Arab, dan satu negara Yahudi. Yerusalem ditujukan sebagai kota Internasional – corpus separatum – yang diadministrasi oleh PBB untuk menghindari konflik status kota tersebut.
Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut, tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Pada 1 Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendeklarasikan pemogokan selama 3 hari, dan kelompok-kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi.
Perang saudara pun dimulai ketika kaum Yahudi yang mula-mulanya bersifat defensif perlahan-lahan menjadi ofensif. Ekonomi warga Arab-Palestina runtuh dan sekitar 250.000 warga Arab-Palestina diusir ataupun melarikan diri.

Kemerdekaan Israel
Pada 14 Mei 1948, atau sehari sebelum habisnya masa perwalian Inggris atas tanah Palestina. Pemimpin gerakan warga Yahudi di Palestina ketika itu, Ben Gurion di Tel aviv, membacakan deklarasi pendirian negara Israel
Setelah itu kelompok Yahudi kemudian berusaha menguasai kawasan Palestina yang menjadi bagian mereka yang telah diberikan PBB sejak tahun 1947 . Karena jumlah warga Palestina di daerah itu lebih banyak dari warga Yahudi, Ben Gurion kemudian berusaha mengusir warga Palestina keluar dari daerah Israel. Akhirnya terjadilah pertempuran antara kelompok bersenjata Yahudi dan Arab. Ben Gurion ingin mengusir lebih dari satu juta warga Palestina ke luar kawasan Israel.
Warga Palestina kemudian mengungsi ke negara-negara Arab lain dan ke kawasan Palestina yang tidak dikuasai Israel, yaitu kawasan Jalur Gaza dan Tepi Barat Yordan. Selama pertempuran itu, sekitar 750.000 warga Palestina terpaksa mengungsi. 530 desa dan 13 kota Palestina hancur. Israel menyebut pertempuran ini sebagai "perang kemerdekaan“. Warga Palestina melihat perang ini sebagai invasi Israel atas wilayah mereka, yang mendapat legitimasi dari PBB.
Negara-negara Arab di sekitar Israel, yaitu Lebanon, Mesir, Yordania dan Suriah mengerahkan pasukan untuk memukul mundur tentara Israel. Namun pasukan Israel dapat mempertahankan wilayahnya dan mengusir tentara Arab keluar dari Israel. Tahun 1949 dicapai kesepakatan gencatan senjata yang rapuh.


Thursday, December 31, 2015

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Garda Utama Kemerdekaan

Pada tanggal 6 Agustus 1945 Sekutu menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima yang membuat keadaan Jepang dalam Perang Dunia II makin terpojok dan membutuhkan bantuan negara-negara jajahanya dengan menarik simpati mereka dengan janji pemberian kemerdekaan dikemudian hari setelah Jepang memenangkan Perang Dunia II tersebut. Sehari setelah pemboman Kota Hiroshima tersebut atau tepatnya tanggal 7 Agustus 1945, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", telah selesai melakukan tugasnya dan untuk melanjutkan tugasnya maka dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau disebut juga “Dokuritu Junbi Inkai” dalam bahasa Jepang.

Tujuan PPKI
PPKI dibentuk dengan tujuan untuk menindaklanjuti tugas yang telah diselesaikan oleh BPUPKI. Dengan kata lain tujuan pembentukan PPKI adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem pemerintahan suatu negara merdeka.
Keanggotaan PPKI
Keanggotaan PPKI pada awalnya PPKI berjumlah 21 orang (12 orang dari Jawa, 3 orang dari Sumatra, 2 orang dari Sulawesi, 1 orang dari Kalimantan, 1 orang dari Nusa Tenggara, 1 orang dari Maluku, 1 orang dari golongan Tionghoa). Susunan awal anggota PPKI adalah sebagai berikut:
1)    Ir. Soekarno (Ketua)
2)    Drs. Moh. Hatta (Wakil Ketua)
3)    Prof. Mr. Dr. Soepomo (Anggota)
4)    KRT Radjiman Wedyodiningrat (Anggota)
5)    R. P. Soeroso (Anggota)
6)    Soetardjo Kartohadikoesoemo (Anggota)
7)    Kiai Abdoel Wachid Hasjim (Anggota)
8)    Ki Bagus Hadikusumo (Anggota)
9)    Otto Iskandardinata (Anggota)
10) Abdoel Kadir (Anggota)
11) Pangeran Soerjohamidjojo (Anggota)
12) Pangeran Poerbojo (Anggota)
13) Dr. Mohammad Amir (Anggota)
14) Mr. Abdul Abbas (Anggota)
15) Mr. Mohammad Hasan (Anggota)
16) Dr. GSSJ Ratulangi (Anggota)
17) Andi Pangerang (Anggota)
18) A.H. Hamidan (Anggota)
19) I Goesti Ketoet Poedja (Anggota)
20) Mr. Johannes Latuharhary (Anggota)
21) Drs. Yap Tjwan Bing (Anggota)
Selanjutnya tanpa sepengetahuan Jepang, keanggotaan PPKI ditambah lagi 6 orang, yaitu :
1)    Achmad Soebardjo ( Ketua Penasehat)
2)    Sajoeti Melik (Anggota)
3)    Ki Hadjar Dewantara (Anggota)
4)    R.A.A. Wiranatakoesoema (Anggota)
5)    Kasman Singodimedjo (Anggota)
6)    Iwa Koesoemasoemantri (Anggota)
Pelantikan PPKI dilakukan pada tanggal 9 Agustus 1945 di kota Dalat Vietnam yang dilakukan oleh Jenderal Terauchi, Panglima Tertinggi Jepang untuk Kawasan Asia Tenggara,  dengan mengundang tiga tokoh nasional Soekarno, Hatta dan Radjiman W pimpinan PPKI untuk mendengarkan segala instruksi dari pemerintah Jepang terhadap langkah selanjutnya dari PPKI. Kemudian pada pertemuan tangal 12 Agustus, Terauci mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia akan dilakukan pada tanggal 24 Agustus 1945 dengan wilayah Indonesia meliputi seluruh wilayah bekas Hindia-Belanda. Setelah itu kemudian Soekarno dan rombongan kembali ke Indonesia. Namun pada tanggal 15 Agustus terjadi peristiwa besar yang seakan-akan memupuskan kemerdekaan Indonesia, Jepang menyerah kepada Sekutu dan menyuruh Jepang untuk tetap mempertahankan status quo. Janji kemerdekaan hilang, janji status quo yang datang
Kemudian terjadilah Peristiwa Rengasdengklok yang mana terjadi perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua. Pangkal utama dari permasalahannya adalah mengenai waktu dan pelaksana proklamasi. Golongan muda ingin segera, golongan tua nanti dulu. Golongan muda menolak proklamasi dilakukan oleh PPKI, sedangkan golongan tua akan ingin mengadakan rapat PPKI terlebih dahulu pada tanggal 16 Agustus untuk membahas Proklamasi Kemerdekaan. Untuk mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemederkaan, para pemuda bertindak nekad dengan menculik kedua tokoh tersebut ke Rengasdengklok. Pada akhirnya setelah Mr. Achmad Subardjo perwakilan golongan tua berhasil menemui serta membujuk Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan diri kemerdekaan tanah ibu pertiwi dari penjajahan dengan dibacakan oleh Soekarno- Hatta.
Sidang –Sidang PPKI
Setelah itu, PPKI memerankan hal yang penting dalam proses penyusunan lembaga-lembaga Negara dengan melakukan tiga kali sidang sebagai berikut,
Sidang pertama PPKI tanggal 18 Agustus 1945 memtuskan hal berikut
  1. Mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945
  2. Memilih Ir. Soekarno sebagai Presiden dan Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil
  3. Dibentuk Komite Nasional untuk membantu tugas Presiden sementara, sebelum dibentuknya MPR dan DPR.
Sidang II PPKI 19 Agustus 1945 memutuskan
a.  Pembagian wilayah, terdiri atas 8 provinsi.
b.  Membentuk Komite Nasional (Daerah).
c.   Menetapkan 12 Departemen dan 4 Kementerian negara.
Sidang PPKI ke-3 22 Agustus 1945
  1. Pembentukan Komite Nasional.
  2. Membentuk Partai Nasional Indonesia.
  3. Pembentukan Badan Keamanan Rakyat.

Dan setelah terbentuknya berbagai alat kelengkapan utama pemerintahan melalui Sidang ketiga PPKI pada 22 Agustus 1945, maka hari itu pula PPKI dibubarkan, karena telah dianggap selesai melakukan tugasnya.