Showing posts with label Tokoh Politik. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Politik. Show all posts

Sunday, December 20, 2015

D.N. Aidit, Pemimpin Besar PKI (Bagian I)

Dipa Nusantara Aidit (D. N. Aidit) adalah salah satu sosok yang paling bertanggungjawab dalam mengarahkan penerapan ideologiMarxisme-Leninisme dalam konteks kehidupan di Indonesia. Ia juga bertanggungjawab sepenuhnya atas berbagai tindakan yang ditempuh Partai Komunis Indonesia (Periode 1948-1965) dalam rangka mengarahkan partai untuk mengambil cara-cara yang dipandang relevan untuk diambil, tentu saja dengan memperhitungkan ragam rintangan yang melintang.

Pemimpin muda PKI ini dikenal sangat dinamis, berani, bergerak cepat, dengan daya tahan fisik dan mental luar biasa, bisa jadi sejumlah kawannya terkadang tertinggal dengan geraknya. Di samping itu ia pun tak lupa menekankan akan pentingnya kesabaran revolusioner dalam perjuangan jangka panjang. Di masa inilah PKI tumbuh menjadi salah satu Partai Komunis terbesar di Asia bahakan di dunia diluar negara-negara yang menganut paham komunis berkat kepiawaian Aidit membangun partai lagi pasca peristiwa Madiun 1948,

Meski dia dikenal sebagai dalang pembrontakan G 30 S/PKI dan dianggap sebagai salah satu "monster" paling menakutkan selama kekuasaan Orde Lama bersama Partainya PKI namun dalam masa penjajahan dan upaya mempertahankan kemerdekaan, ia juga memiliki andil dalam masa perjuangan. Untuk itu pada artikel kali ini kami akan membahas tentang sosok Aidit secara gamblang dari berbagai sisi

  
Keluarga Terpandang
Lahir dari  keluarga  terpandang, Achmad Aidit lahir pada tanggal 30 Juli 1923 di Jalan Belantu  3,  Pangkal alang, Tanjung Pandan Pulau Belitung, Sumatera Selatan. Ayahnya,  Abdullah  Aidit,  adalah seorang mantan mantri  kehutanan,  jabatan yang cukup  terpandang  di Belitung ketika itu. Ibunya, Mailan, lahir dari keluarga ningrat. Ayah Mailan Ki Agus Haji Abdul Rachman (Titel “Ki” pada nama itu mencirikan ningrat), seorang tuan tanah.

Abdullah  punya  delapan  anak.  Semua  lelaki.  Dari  perkawinan  dengan  Mailan,  lahirAchmad ,  Basri,  Ibrahim  (meninggal  dunia  ketika  dilahirkan)  dan  Murad.  Abdullah kemudian  menikah  lagi  dengan  Marisah (ibu tiri Achmad bersaudara) dan  melahirkan Sobron  dan  Asahan.  Keenam anaknya itu menyandang  nama belakang Aidit (nama keluarga, namun bukan marga). Dua  anak  lainnya, Rosiah dan  Mohammad Thaib, adalah anak bawaan Marisah dengan suami sebelumnya.
Aidit masuk di sekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), milik  pemerintah Belanda, setingkat Sekolah Dasar, juga merupakan sekolah paling tinggi di Belitung ketika itu. Aidit dikenal juga sebagai anak yang pintar.

Anak Yang Baik
Walau dididik di sekolah Belanda, keluarga Aidit tumbuh dalam keluarga yang rajin beribadah. Ayahnya adalah tokoh pendidikan Islam di Belitung, pendiri Nurul Islam, organisasi  pendidikan Islam  dekat yang berorientasi kepada Muhammadiyah. Aidit dan saudaranya belajar mengaji dengan pamannya,  Abdurrachman. Aidit bahkan khatam Al Qur’an sebanyak tiga kali dan dikenal juga sebagai tukang  adzan di kampungnya, karena suaranya keras.
Walaupun keluarga terpandang, secara ekonomi, keluarga Aidit hidup sederhana. Sebagai anak sulung, dia suka membantu keluarganya, misalnya dengan berjualan dari mulai kerupuk hingga buah nanas yang telah dikerat-kerat,  setiap ada pertandingan sepakbola di kampungnya. Suatu hari, adiknya Basri pernah ceroboh melepaskan 15 ekor itik dari  kandang milik keluarganya. Ayahnya yang mendengar kejadian ini marah besar. Aidit pun mengaku  dialah penyebab  kaburnya itik-itik itu, sehingga dia yang harus ke sana-kemari mencari itik itu.

Bergaul Dengan Berbagai Kalangan
Aidit bergaul dengan siapa saja. Dia bergaul dari mulai kelas buruh sampai none - none Belanda. Berbagai macam  kelompok atau “geng” remaja di  Belitung  ia  dekati.  seperti geng kampung, anak benteng (anak polisi), geng Tionghoa, dan geng Sekak (yaitu mereka  yang datang dari  keluarga  yang  sering  berpindah  tempat  tinggal, semacam kaum gypsy di Eropa).
Aidit juga bergaul  dengan  buruh  - buruh tambang yang bekerja di Gemeenschapelijke Mijnbouw Billiton, sebuah perusahaan tambang timah milik Belanda. Sehingga ia tau tentang kehidupan mereka yang setiap hari selalu bekerja berlumur  lumpur,  bermandi keringat,  dan  hidup  susah, sementara para meneer Belanda dan tuan-tuan nya dari Inggris berpesta hura-hura.

Aidit mempunyai kepekaan lebih tajam dibanding teman sebaya dan juga rasa empati terhadap sesama manusia apa yang terjadi di lingkungannya. Mungkin tambang  ini lah awal mula yang  menjadi  semangat  anti-Belanda dan perjuangan antikelas di kemudian hari. Pergaulan dengan kaum buruh itulah yang menentukan jalan pikiran dan sikap politik  Aidit setelah  di  Jakarta.

Merantau Ke Batavia
Awal tahun 1936, Setelah menyelesaikan sekolah di HIS, Achmad Aidit (13 tahun), meminta  izin kepada ayahnya untuk melanjutkan sekolah setingkat SMP atau yang dikenal dengan  nama  Meer Uitgebreid  Lager  Onderwijs (MULO), di Batavia (Jakarta). Akhirnya ia pun pergi ke Batavia dengan ditemani pamannya, setelah memenuhi syarat – syarat umum untuk merantau, yaitu bisa  memasak  sendiri,  bisa  mencuci  pakaian sendiri,  sudah disunat, dan sudah khatam mengaji.

Setibanya di Batavia tahun 1936, Aidit tinggal di rumah kawan ayahnya, Marto, seorang mantri polisi,  di kawasan  Cempaka  Putih.  Sayangnya, pendaftaran  MULO  sudah ditutup ketika  Aidit  tiba, sehingga ia pun bersekolah di Middestand  Handel  School (MHS), sebuah sekolah dagang di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Bakat kepemimpinan Aidit dan idealismenya langsung menonjol di antara  kawan sebayanya. Misalnya saja,  Aidit  mengorganisasi  kawannya melakukan  bolos  massal untuk  mengantar  jenazah  pejuang  kemerdekaan  Muhammad Husni  Thamrin,  yang ketika  itu  akan  dimakamkan. Karena  terlalu aktif di  luar  sekolah, Aidit tidak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya di MHS.

Menambah Relasi dan Berorganisasi
Tahun 1939, Aidit lalu pindah dan indekos di di Tanah Tinggi 48, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Setelah itu adiknya Murad datang menyusul dari Belitung, juga untuk bersekolah di Jakarta. Hal Ini membuat Abdullah, ayah Aidit, keteteran untuk membiayai mereka. Aidit lalu  membuat biro pemasaran iklan dan langganan surat kabar bernamaAntara di daerah Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Lama-kelamaan, selain biro iklan, Antara juga berjualan buku dan majalah.

Aidit kemudian berkongsi dengan teman satu kostannya, Mochtar, penjahit yang punya toko lumayan besar di Pasar Baru. Ditempat inilah Aidit mulai bergaul dengan para pemuda aktivis masa itu,  seperti  Adam Malik dan Chaerul Saleh, sehingga jaringan relasi Aidit meluas. Dengan bakat dan relasinya itu, Aidit langsung tertarik dengan dunia organisasi pergerakan, yang memang lagi ramai di Indonesia.

Tahun 1939 juga, Aidit bergabung dengan Persatuan Timur  Muda (PERTIMU). Pekumpulan ini dimotori Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo),  sebuah organisasai kepemudaan berhaluan “kiri” pimpinan Amir Syariffudin. Hanya dalam waktu singkat, Aidit diangkat menjadi Ketua Umum. Dalam organisasi inilah persinggungan Aidit dengan politik makin menjadi-jadi.


Aidit Dan Asrama Menteng 31
Dari perkenalannya dengan dunia organisasi itulah, Aidit lalu  bergabung ke dalam kelompok Pemuda di jalan Menteng No. 31 Jakarta, yang dikenal dengan nama Menteng 31. Asrama ini dulunya hotel bernama Schomper I, namun setelah Belanda pergi dan Jepang datang ke Indonesia, tahun 1942 tempat itu terkenal sebagai  basecamp  para pemuda aktivis “garis keras”.

Disini mereka di gembleng oleh para senior mereka seperti Bung Karno, Bung Hatta, Amir Syarifuddin, Ahmad Subarjo, Sunaryo dan Ki Hajar Dewantara. Bung Karno dan Bung Hatta Hatta  bahkan mengenal Aidit dengan baik sejak periode  awal Angkatan  Baru  Indonesia  di  Asrama Menteng 31. Aidit juga banyak belajar dan terpilih untuk ikut kursus-kursus yang diadakan para pemuda Angkatan Indonesia Baru. Beragam diploma, piagam kursus bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Ilmu Hitung Dagang, Mengetik Cepat hingga Stenografi, diperoleh Aidit dari kursus-kursus yang ditempuhnya.

Pada  tahun 1944, Aidit terpilih  masuk  Barisan  Pelopor  Indonesia, yaitu sayap pemuda  yang dibentuk oleh Jepang, yang bertugas menjaga keselamatan Soekarno dan Hatta. Pascakemerdekaan, organisasi ini dikenal dengan nama Barisan Benteng.

Merubah Nama
Di  balik  karier  politiknya  yang  mulai  naik, Aidit  seperti  mencoba  menghilangkan bayang-bayang keluarga dan masa lalunya di Belitung. Misalnya saja ketika Murad berkali-kali meminta bantuan finansial, Aidit selalu menolak. Suatu kali Aidit bahkan pernah berkata, bahwa persamaan  di  antara  mereka  hanyalah  faktor  kebetulan, karena  dilahirkan  dari  ibu  dan bapak yang sama. ”Selebihnya, tak ada hubungan apa pun di antara kita,” katanya. Achmad Aidit  juga memutuskan  berganti  nama.  Dia memilih memakai nama Dipa Nusantara Aidit, biasa disingkat D.N.

Menurut adiknya, pergantian nama itu lebih dipicu perhitungan politik Aidit. Dia mulai membaca risiko, karena sejak  namanya  berubah, tak  banyak  orang  yang  tahu  asal-usulnya. Proses perubahan nama itu juga tak mudah. Abdullah, ayah Aidit, tak bisa dengan segera menerima pergantian itu, sebelum akhirnya Abdullah menyerah.

Teman-temannya di Menteng 31 mengusulkan nama Dipa Nusantara, karena sudah terlalu banyak yang bernama Ahmad di kalangan pemuda Menteng 31 (Harsutejo, 2003). Dipa Nusantara sendiri dipakai Aidit untuk menghormati jasa pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Aidit berharap, penggunaan nama Dipa itu bisa menjadi inspirasi dan semangatnya untuk membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme. Dia sering juga disebut-sebut berdarah Minangkabau, dan D.N. di depan namanya adalah singkatan ”Djafar Nawawi.

Ada juga  versi dari adiknya Asahan. Bahwa perubahan nama sudah ada sejak dia dilahirkan. Sumber yang digunakan Asahan adalah sebuah akte kelahiran Aidit sendiri. Akte itu dibuat tahun 1923, tahun kelahiran Aidit, dan ditandatangani langsung oleh Bapaknya Abdullah Aidit. Asahan ingat betul, akte yang berhiaskan lukisan indah itu masih menggunakan bahasa Melayu agak kuno. Di akte itulah tertulis: “Anak dari Abdullah Aidit yang lahir pada 1923 yang saya beri nama Ahmad Aidit, bila dia telah menginjak usia dewasa akan menggunakan nama Dipa Nusantara Aidit”. Jadi jelas, tegas Asahan, nama Dipa Nusantara bukanlah ciptaan abangnya ketika ia udah di Batavia, melainkan nama yang memang diciptakan oleh ayahnya langsung.

Bergbung dalam Kelompok Kiri
Seiring dengan pergaulan di dunia organisasi, Aidit lalu terlibat dengan kelompok “kiri”. Ia memilih jalan komunis, karena dirasakan sesuai dengan idealismenya. Ia pun berguru ke tokoh-tokoh komunis senior seperti Widarta, penanggung  jawab  organisasi  bawah tanah  PKI  Jakarta, dan Wikana, seorang pemuda sosialis dan pemimpin PKI Jawa Barat yang terkenal cerdas.  Ia pun banyak mempelajari  buku-buku  bertema  Marxisme  dan sosialisme.

Sekitar tahun 1944, Aidit dan Wikana kian dekat setelah Laksamana Maeda, pimpinan Angkatan Laut Jepang di Indonesia,  mendirikan  sekolah  Dokuritsu Juku  (Asrama Kemerdekaan), dan Wikana  menjadi  kepala  sekolah  tersebut, sedangkan Aidit menjadi  siswa. ”Meski  tak  menyelesaikan kuliah, pelajar  sekolah ini ikut  berperan dalam mendirikan  Republik” , ujar Nishijima,  salah  seorang  pengasuh  sekolah  ini“ (Tempo,  Agustus, 1987). Di sekolah inilah  diam-diam  Aidit,  Chalid  Rasjidi, dan  Salammembentuk  organisasi  semi-militer yang beraksi menyerang tentara-tentara Jepang dengan nama Banteng Merah. Dari sini, jiwa “merah” Aidit mulai semakin tumbuh.

Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa Rengas Dengklok adalah peristiwa penculikan Soekarno – Hatta pada hariKamis  16 Agustus 1945 ke Rengasdengklok Karawang, oleh sekelompok pemuda (Menteng 31) yang dipimpin oleh Soekarni, untuk mendesak agar Soekarno – Hatta mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Sehingga dengan jasa para pemuda inilah Bung Karno dan Bung Hatta, akhirnya membacakan teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di rumah Bung Karno diJl.Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Ada beragam versi peran Aidit (22 tahun), tentang keterlibatan langsung dalam peristiwa ini. Ada yang menyebut Aidit memang ikut serta dalam rombongan pemuda, tapi  banyak juga rekaman sejarah yang tak menyebut keterlibatan Aidit dalam kejadian itu. Yang jelas pada saat itu, Aidit memang aktif bersama para pemuda anti-fasis di Menteng 31.

Melawan Jepang
Setelah  proklamasi  kemerdekaan,  pada  awal  September 1945,  aktivis  Menteng  31 membentuk Angkatan  Pemuda  Indonesia  (API), yang diketuai Wikana. Sementara Aidit menjadi Ketua API Jakarta Raya. Di  bidang keorganisasian mereka membentukBarisan Rakyat yang mengorganisasi pada petani. API pun segera  menjadi “ancaman” bagi  Jepang dan sekutu (yang datang kemudian) yang datang ke Indonesia.

Penjara Jatinegara dan Pulau Onrust
Pada tanggal 19 September 1945, di  lapangan Ikada (sekarang Monas ), API bersama barisan buruh dan tani mengadakan rapat raksasa dan aksi untuk menunjukkan dukungan rakyat kepada para  pimpinan  negara. Hal ini membuat  tentara  Jepang marah dan merazia  Asrama Menteng  31.  Para  pemimpin API, termasuk Aidit, dimasukan ke dalam penjara di Jatinegara.


Aidit  dan  teman-teman  berhasil  menyogok  penjaga  penjara  dan  kabur. Sejak  itu aktivitas Menteng 31 berhenti. Aidit pun kembali ke jalan, memimpin API Jakarta dengan melakukan serangan-serangan ”kecil” kepada tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang datang membonceng sekutu pada 28 September 1945. Hampir setiap hari mereka menembaki patroli sekutu yang lewat, hingga akhirnya tentara sekutu meledakkan markas API. Puncaknya pada tanggal 5 November 1945, ketika Aidit memimpin sekelompok pemuda menyerbu  pos  pertahanan  Koninklijke  Nederlands Indische  Lege  atau  Tentara  Kerajaan Hindia Belanda (tentara sekutu). Namun mereka kepergok tentara Inggris yang berpatroli. Sekitar 30 aktivis tertangkap, termasuk Aidit. Tentara Inggris menyerahkan  mereka ke Belanda, yang lalu membuang mereka kePulau Onrust, di gugusan Kepulauan Seribu, utara Jakarta.

Tuesday, December 1, 2015

Sutan Sjahrir, "The Smiling Diplomat" yang Berakhir Tragis

Sutan Sjahrir adalah satu dari Tujuh Begawan Revolusi Indonesia seperti.Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka, Sudirman, dan A.H. Nasution-dalam kadar berbeda menentukan arah pergerakan pada masa Revolusi indonesia. Kegimilangan karirnya dalam bidang diplomasi harus diakhiri dengan nasib yang tragis, dengan meninggal karena penyakit stroke dalam keadaan masih menjadi tahanan karena kerap bersebrangan pandangan politik dengan Presiden Soekarno.

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumbar, 5 Maret 1909. Ia lahir dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat . Ayahnya menjabat sebagai penasehat sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan.

Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah pertama (MULO) terbaik di Medan. Pada 1926, setelah ia menyelesaikan pendidikanya di MULO, masuk sekolah menengah atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, (Cahaya Universitas Rakyat).

Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Sjahrir dikenal sebagai siswa yang sering menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas sosial, yang kemudian menjurus menjadi kegiatan politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada tanggal 20 Februari 1927, Syahrir bersama sembilan tokoh pemuda lainya menggagas pendirian perhimpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda II yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

Syahrir lalu melanjutkan pendidikanya ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian ketat mengawasi aktivitas organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memasukkan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.

Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.

Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.

Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven-Digoel. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.

Pada masa pendudukan Jepang, sementara Soekarno-Hatta menjalin "kerja sama" dengan Jepang, Sjahrir yang tidak setuju dengan cara Soekarno-Hatta membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis karena yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, sehingga kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat.

Pada 15 Agustus 1945 Syahrir yang mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri mendengar berita kekalahan Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada hari itu juga karena Jepang sudah menyerah. Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945.

Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI adalah buatan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.

Perjuangan mereka membuahkan hasil dengan diproklamasikannya Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta. Sutan Sjahrir kemudia menjabat Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) merangkap Ketua Badan Pekerja KNIP pada 16 Oktober-28 November 1945.

Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.

Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dan lain-lain, karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.

Pada November 1945, Syahrir yang didukung kalangan pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Sjahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.

Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.

Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran Agresi militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan masalah Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah yang tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III) diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB.

Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir menguraikan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Eelco van Kleffens. Dengan begitu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional.

PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya. Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB, suatu kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir
Kegemilangan aksi diplomasi Sjahrir tersebut membuat dia pun dijuluki "The Smiling Diplomat". Syahrir sendiri mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.


Sejak akhir Januari 1950, Sutan Sjahrir tidak lagi memegang suatu jabatan negara. Pada tahun 1955, Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Sjahrir gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia dengan hanya meraih 14 kursi saja di parlemen.

Setelah kasus pembrontakan PRRI yang banyak didukung oleh tokoh-tokoh PSI pada tahun 1958 serta pembubaran PSI pada tahun 1960, hubungan antara Sutan Sjahrir dengan Presiden Soekarno semakin memburuk

Bahkan, tahun 1962 hingga tahun 1965 , beliau ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili, hingga pada tahun 1965 Sjahrir menderita penyakit "stroke". Setelah itu, Sjahrir diijinkan untuk berobat ke Zurich, Swiss, hingga meninggal dunia di sana pada tanggal 9 April 1966 pada usia 57 tahun.  Sutan Sjahrir wafat dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Sunday, November 1, 2015

Ahok, Tionghoa Pertama Penguasa Jakarta


Basuki Tjahaja Purnama atau yang sering disapa dengan nama Ahok merupakan politisi asal Belitung yang juga merupakan Gubernur Jakarta karena “ kecelakaan” setelah pasanganya pada Pilkada Jakarta 2012 lalu, Joko Widodo dilantik menjadi Presiden. Sebelumnya, Ahok pernah menjabat sebagai Bupati Belitung Timur.

Ahok lahir di Belitung pada tanggal 29 Juni 1966, merupakan anak pertama dari pasangan Indra Tjahaja Purnama (ayah) dan Buniarti Ningsing (ibu) yang merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia. Bersama ketiga adiknya, Ahok menghabiskan masa kecilnya di Desa gantung, Belitung Timur, sampai tamat sekolah menengah pertama.Kemudian Ahok pindah hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya.

Di Jakarta, Ahok mengambil Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Mineral di Universitas Trisakti. Setelah mendapatkan gelar Insinyur Geologin pada tahun 1989, Ahok kembali ke kekampung halamannya dan mendirikan sebuah CV Panda yang bergerak pada bidang kontraktor pertambangan Timah.

Dua tahun setelah itu, Ahok melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya. Setelah mendapatkan gelar tersebut, dia kemudian bekerja di PT Simaxindo Primadaya sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek.

Dengan mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan pengalamannya bekerjanya, Ahok kemudian mendirikan PT Nurindra Ekapersada, yang merupakan awal perjalanan dari Gravel Pack Sand (GPS). Ahok kemudian berhenti bekerja di PT Simaxindo dan mendirikan pabrik pengolahan pasir kuarsa pertama di Belitung. Perusahaan tersebut Ahok dirikan dengan mengadopsi dan mengadaptasi teknologi dari Amerika Serikat dan Jerman. Bersamaan dengan perkembangan pabrik tersebut, juga mengembangkan kawasan industri dan pelabuhan samudra. Saat ini kawasan tersebut dikenal dengan nama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).

Tepat pada tahun 2004, Ahok berhasil meyakinkan seorang investor Korea untuk membuat Tin Smelter atau peleburan bijih timah di KIAK. Pada tahun itu pula, Ahok bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB) dan diamanahkan sebagai ketua DPC PIB Kabupaten Belitung. Ahok terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung saat pemilu tahun 2004. Satu tahun setelah itu, Ahok menjabat sebagai Bupati Belitung Timur setelah mendapatkan 37% lebih suara rakyat. Pada masa pemerintahannya, Ahok membebaskan biaya kesehatan seluruh warga tanpa kecuali. Hanya saja karena karena ingin maju dalam pemilihan gubernur Bangka Belitung, pada tanggal 22 Desember 2006, Ahok mengundurkan diri dan menyerahkan jabatannya sebagai Bupati Belitung Timur kepada Khairul Effendi yang merupakan wakilnya pada saat itu.

Selanjutnya pada tahun 2007 Ahok mencalonkan diri menjadi Gubernur Bangka Belitung dengan bermodal dukungan dari Gus Dur  (Presiden RI Ke-4). Sayangnya Ahok kalah dari calon lain Eko Maulana Ali. Tahun itu juga, Ahok mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi. Pada tahun 2008, Ahok kemudian meluncurkan sebuah buku yang berjudul "Merubah Indonesia". Ahok merupakan ayah dari Nicholas, Natania, dan Daud Albeenner, dan istrinya yang bernama Veronica.

Dalam menjalankan kinerja sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, Ahok menuangkan rencananya untuk membenahi sistem pemerintahan age lebih efisien dan efektif. Sikapnya yang dikenal keras dan suka berbicara keras meskipun ikut membatunya dalam memimpin DKI Jakarta tapi juga menimbulkan berbagai protes dan kritik karena dianggap kurang sopan

Pada saat Jokowi mengambil cuti untuk keperluan kampanye pada Pilpres 2014. Meski menjadi orang nomor dua di ibukota dia tetap selalu tampil sederhana. Ahok tidak pernah ambil pusing untuk memikirkan pakaian dan sepatu yang dipakainya. Dengan terpilihnya Jokowi menjadi Presiden RI Ke-7 maka secara tidak langsung posisi No.1 ibukota di isi oleh Ahok dan menghabiskan masa periodenya. Tepat pada tanggal 19 November 2014, Ahok secara resmi dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Gubernur Jakarta di Istana MerdekaRI.

Pendidikan
  • Program Pasca Sarjana Manajemen Keuangan di Sekolah Tinggi
  • Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta, 1994
  • Sarjana Teknik Geologi di Universitas Trisakti Jakarta, 1990
  • SMA III PSKD Jakarta, 1984.
  • SMP No. 1 Gantung, Belitung Timur, 1981.
  • SDN No. 3 Gantung, Belitung Timur, 1977.
Karier Politik
  • Anggota Komisi II DPR RI, 2009 - 2014.
  • Direktur Eksekutif Center for Democracy and Transparency (CDT.3.1).
  • Bupati Belitung Timur, 2005 - 2006.
  • Anggota DPRD Belitung Timur bidang Komisi Anggaran, 2005 - 2006.
  • Asisten Presiden Direktur bidang analisa biaya dan keuangan PT. Simaxindo Primadaya, Jakarta, 1994 - 1995.
  • Direktur PT. Nurindra Ekapersada, Belitung Timur, 1992 - 2005.
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta (2012)
  • Gubernur DKI Jakarta (2014)
Organisasi:

  • Ketua Dewan Yayasan Sosial dan Agama di Jakarta.

Penghargaan 

  • Tokoh Anti Korupsi dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan (KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Masyarakat Transparansi Indonesia), 2007.
  • Salah satu dari 10 Tokoh yang Mengubah Indonesia, Majalah Tempo, 2006.
  • Gold Pin, Fordeka (Forum Demokrasi), 29 Oktober 2006.

Sosial Media

  • http://ahok.org/
  • http://id-id.facebook.com/ahokbtp
  • http://www.youtube.com/ahokbtp


Sunday, October 25, 2015

Vladimir Putin, Sang Penguasa Rusia Modern

Masa Kecil 
Vladimir Putin lahir St. Petersburg, Rusia pada tanggal 7 Oktober 1962 dengan nama asli Vladimimr Vladimirovich Putin. Vladimir Putin lahir merupakan anak tunggal dari pasangan suami istri Vladimir Spiridonovih Putin dan Maria Ivanovna Putina. Ayahnya bekerja sebagai Tentara Angkatan Laut Uni Soviet dan meninggal pada akhir abad ke-20 Sementara Ibunya hanya seorang karyawan lepas di sebuah pabrik yang meninggal 6 bulan lebih awal dari ayahnya. Ia sebenarnya memiliki dua orang saudara, namun keduanya meninggal yang akhirnya membuat Putih menjadi anak tunggal. Saudara pertamanya meninggal ketika lahir dan yang kedua meninggal karena difteri saat masih kecil. Vladimir Putin yang saat muda memiliki nama panggilan Putka. Meskipun pun mengakui pemerintahan komunis, Putin pun sa’at masih kecil sempat dibaptis berdasarkan kepercayaan Gereja Ortodoks. Putin memiliki kemampuan berbahasa yang baik, terutama dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Ia juga memiliki keterampilan dalam bela diri, khususnya sambo, bela diri dari Rusia, dan judo. Ia juga bukan seorang perokok atau tipe pemabuk berat.

Keluarga
Pada 28 Juli 1983 putin menikahi Lyudmila Aleksandrovna  seorang sarjana di bidang filologi di Universitas Negeri Leningrad setelah lulus Lyudmila bekerja sebagai pramugari di Kaliningrad dan sekarang ia bekerja sebagai pengajar. Sama seperti suaminya, ia juga memiliki kemampuan berbahasa yang baik, terutama dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Spanyol. Mereka memiliki dua orang anak perempuan yaitu, Mariyana Putina (lahir pada 28 April 1985 di St Petersberg) dan Yekaterina Putina (lahir pada 31 Agustus 1986 di Dresden) Namun pada akhirnya setelah menjalani kehidupan rumah tangga selama lebih dari 30 tahun akhirnya Putin dan Lyudmilla memutuskan resmi bercerai pada April 2014 lalu secara baik dengan alasan yang dirahasiakan.

Karier Putin
Setelah menyelesaikan mendapatkan gelar sarjana hukum pada tahun 1975 dari Universitas negeri di Leningrad, Putin bergabung dalam Dinas Intelijen Uni Soviet Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnost (KGB) dan menjalankan pelatihannya di Leningrad. Semasa berdinas di KGB, Putin ditempatkan di Dresen, Jerman Timur. Dia juga menjadi saksi mata sejarah kejatuhan pemerintahan komunis Jerman timur tahun 1990 lalu.
Namun pada tahun 1990 Putin kembali lagi ke Leningrad dan mengundurkan diri dari KGB dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Lalu pada tahun 1991 Kelompok komunis melakukan Kudeta terhadap Mikhail Gorbachev karena tidak setuju dengan ide pembaharuan berupa Glasnost dan Prestroika-nya yang membuat Uni Soviet runtuh, meski demikian kudeta itu berhasil ditumpas dan Gorbachev kembali ke pemerintahan
Lalu setelah pensiun dari KGB pada tahun 1990 dia menjalin aliansi dengan Anatoly Sobchak, walikota St Petersburg, serta berkerja padanya sebagai asisten sejak Maret 1994. Mulai saat itu, karir politik Putin terus menanjak. Pada tahun 1996, Sobchak kehilangan jabatannya dan Putin direkomendasikan sebagai pejabat administrasi kepresidenan oleh Deputi Perdana Menteri Anatoly Chubais. Pada tahun bulan Juli 1998, Putin menggantikan Nikolai Kovalyov sebagai kepala Federal Security Bureau (FSB), sebuah Dinas Rahasia Rusia yang baru. Pada tahun 1999, Putin menjabat sebagai Perdana Menteri, menggantikan Sergei Stephasin yang diberhentikan oleh Presiden Boris Yeltsin. Pada 31 Desember 1999, Boris Yeltsin mengundurkan diri, melihat kekosongan kekuasaan ini putin mengangkat dirinya sendiri sebagai Pejabat Presiden.
Pada pemilihan presiden tanggal 26 Maret 2000 dengan Partai Politiknya, Rusia Bersatu,Putin memenangkan Pemilu dengan mendapatkan perolehan suara 52.94%  pemilih, lalu setelah itu dia dilantik secara resmi sebagai presiden pada tanggal 7 Mei 2000
.
Pasca kemenanganya muncul berbagai komentar positif mengenai Putin, Boris Yeltsin menyatakan kepada seluruh rakyat Rusia bahwa "Dia (Putin) dapat mengulangi kejayaan Rusia yang baru pada abad 21" sementara itu Sergei Stepashin, pejabat yang digantikannya mengatakan bahwa Putin adalah seorang yang jujur dan mantan Presiden amerika Serikat pun memberikan komentar bahwa, Putin mampu untuk menjadikan Rusia sebagai negara yang berprospek dan kuat. Sedangkan mantan Presiden Uni Soviet  Mikhail Gorbachev ketika bertemu dengan Putin pada bulan Agustus 2000 memastikan dia (Putin) tidak akan merusak Demokrasi Rusia.

Tanpa harus diperjelas oleh berbagai pendapat tokoh-tokoh lainya, Putin memang bercita-cita untuk mengembalikan masa-masa kejayaan Rusia yang dirindukan seluruh masyarakat Rusia pada masa Uni Soviet. Langkah awal Putin adalah mengganti lagu kebangsaan Rusia pada masa Yeltsin, “Patrioticheskaya Pesnya” atau yang berarti “Lagu Patriotik” yang tanpa lirik dengan menggunakan lagu kebangsaan Uni Soviet, “Gimn Sovetskogo Soyuza” atau “Himne Uni Soviet” aransemen tahun 1977. Putin mengganti judulnya menjaadi “Gosudarstvenniy gimn Rossiyskoy Federatsii” atau “Himne Federasi Rusia” dengan aransemen gubahan Aleksander Aleksandrov.

Gebrakan selanjutnya melakukan penangkapan terhadap para pengusaha hitam antara lain menahan pengusaha miyak  Yukos Mikhail Khodorovsky lalu menjual sahamnya, serta perlahan lahan melakukakn nasionalisasi terhadap beberapa perusahaan. Beberapa media baik nasional Rusia maupun internasional menyebut bahwa Putin secara perlahan lahan sedang memusatkan kekuasaannya di Kremlin sebagaimana Uni Soviet dahulu. Langkahnya  ini dapat dibaca dari pernyataannya adalah dengan mengatakan bahwa kejatuhan Uni Soviet adalah sebuah tragedi nasional.

Dalam masa kepemimpinannya, Putin dapat membuktikan harapan yang dimiliki orang-orang terhadap dirinya. Ia mampu mengangkat kembali negaranya setelah kejatuhannya yang menjadi tragedi nasional kejatuhan Uni Soviet, dengan menghasilkan banyak kemajuan di berbagai bidang, di antaranya adalah bidang ekonomi, industri, energi nuklir, pertahanan dan militer, lingkungan, serta olahraga. Dalam bidang perekonomian, selama delapan tahun berturut-turut, ekonomi negeri ‘Beruang Merah’ ini tumbuh rata-rata 7% per tahunya, Pendapatan Domestik Bruto pun naik sebesar 72%. Selain itu, Putin juga mampu menjalin hubungan internasional yang baik dengan beberapa segara seperti Amerika Serikat, Inggris, China, Iran, Australia, dan negara-negara Amerika Latin. Dengan begitu banyak hal yang telah ia lakukan untuk negaranya, popularitas Putin selama menjabat sebagai presiden tidak pernah di bawah 65%. Pada bulan Agustus 1999, poplaritas Putin adalah 31%. Dalam tiga bulan, popularitasnya meningkat tajam menjadi 80% dan terus tinggi.
Karena konstitusi Rusia membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode, Putin yang ingin berkuasa kembali di Rusia setelah menjabat sebagai Presiden selama dua periode (2000-2004 dan 2004-2008) mengajukan orang dekatnya, Dmitry Medvedev untuk bertarung dalam Pemilu 2008. Akhirnya Dimitri Medvedev bersama Partai Rusia bersatu memenangkan Pemilu sehingga mengantarkan Medvedev menjabat sebagai Presiden, lalu dia menunjuk Putin sebagai Perdana Menteri. Pada masa pemerintahan Medvedev ini diadakan amandemen terhadap Konstitusi untuk menghapus masa jabatan presiden yang hanya dibatasi selama dua perode serta menambah masa jabatan Presiden yang sebelumnya hanya empat tahun menjadi enam tahun Pada Pemilu 2012 lalu, Putin kembali terpilih sebagai presiden dengan total perolehan suara sebanyak 63,6% serta melakukan ‘ukir kekuasaan’ menunjuk Dimitri Medvedev sebagai Perdana Menteri


Yang membuat sosok Vladimir Putin kian menjadi perhatian bagi banyak pengamat politik adalah pandangan dan kebijakan politik yang diterapkan Putin yang sering bertolak belakang dengan negara Barat yang dimotori Amerika Serikat. Seperti menentang Invasi atas Irak pada tahun 2003, Penolakan pemberlakukan sanksi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta sempat juga muncul ketegangan atas tindakan terhadap rencana pembangunan sistem pertahanan misil Eropa yang dikhawatirkan akan mengancam Rusia. Putin juga aktif menjalin kemitraan dengan sejumlah negara yang memusuhi Amerika Serikat seperti halnya Kuba dan Venezuela, Iran dan Suriah, Pencaplokan atas Krimea yang membuat Rusia dikeluarkan dari keanggotaan G-8 pada Tahun 2014 dan yang terbaru pada awal Oktober 2015 ini ikut terlibat aktif dalam konflik Suriah dengan mendukung pemerintahan Bashar Ashad melawan pembrontak Suriah yang didukung Amerika Serikat .