Showing posts with label Ricky Elson. Show all posts
Showing posts with label Ricky Elson. Show all posts

Monday, January 4, 2016

Ricky Elson, Ilmuwan Kelas Dunia yang Disia-Siakan Bangsa Indonesia

Ricky Elson lahir di Padang, Sumatera Barat, pada tanggal 11 Juni 1980. Dia adalah seorang teknokrat Indonesia yang ahli dalam teknologi motor penggerak listrik. Ia yang merancang “bangunan” mobil listrik Selo bersama Danet Suryatama yang merancang bangun Tucuxi. Karena hasil kerja keras mereka berdua tersebut, mereka sering dianggap masyarakat sebagai pelopor mobil listrik nasional.


Ricky menempuh pendidikan tinggi teknologinya di Jepang, kemudian bek
erja di sebuah perusahaan di negeri sakura itu. Selama 14 tahun di sana, Ricky telah menemukan belasan teknologi motor penggerak listrik yang sudah dipatenkan di Jepang.

Riwayat
Tertarik dengan kemampuan Ricky untuk pengembangan teknologi mobil listrik, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan meminta Ricky dan beberapa praktisi pengembang teknologi mobil listrik lainnya untuk bersinergi bersama Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia, lembaga penelitian, beberapa universitas dan lembaga pemerintahan terkait, demi mempercepat pengembangan mobil listrik Indonesia. Bahkan Dahlan Iskan rela menghibahkan gajinya sebagai menteri kepada Ricky.

Di pertengahan tahun 2013, Ricky dan timnya bekerja menyelesaikan beberapa purwarupa mobil listrik yang diberi nama Selo dan Gendhis yang digunakan pada KTT APEC yang telah dilaksanakan pada Oktober 2013 di Denpasar, Bali. Namun kemudian proyek mobil listrik nasional itu menghadapi hambatan, karena peraturannya tidak segera keluar. Lelah menunggu kepastian tentang proyek tersebut yang tak kunjung jelas statusnya, ia kemudian kembali ke perusahaan tempat ia semula bekerja di Jepang.

Sebelum kuliah ke Jepang, Ricky Elson menamatkan sekolah menengahnya di SMA Negeri 5 Padang pada tahun 1998.

Biografi Ricky Elson 
Ø  Tempat Tanggal Lahir : Padang, 11 Juni 1980
Ø  Umur : 34 tahun
Ø  Pendidikan Tertinggi : Universitas Andalas, Padang
Ø  Kewarganegaraan : Indonesia
Ø  Pekerjaan : Teknokrat
Ø  Agama : Islam

Latar Belakang
Ricky Elson adalah seseorang teknokrat dari Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi teknologinya sekaligus bekerja di Jepang. dalam kurun waktu 14 tahun di Jepang, Ricky telah mematenkan 14 teknologi motor penggerak listrik dan teknologi-teknologi tersebut telah dipatenkan oleh pemerintah Jepang.

Penelitian Ricky Elson

Turbin Angin “Si Penari Langit”
Sebuah Turbin angin atau Kincir angin hasil karya dari uda Ricky yang bernama “Si Penari Langit”. Turbin angin ini mampu menghasilkan kekuatan listrik sampai 3 kali lipat daripada turbin angin milik South West yang berasal dari Amerika Serikat. Dari segi harga untuk perbandingannya sangatlah jauh lebih murah dan efisien. Si Penari Langit ini dijual ke rakyat dengan harga 8,5 Juta saja. Harga tersebut jauh dibawah harga Kincir angin milik South West yang dipatok dengan harga 800 US$ dan apabila terkena pajak maka bisa mencapai harga 1000US$. Sebuah perbandingan harga dan kehebatan teknologi yang sangat jauh.

Mobil Listrik
Disamping sebagai pengembang dan pencipta dari mobil listrik nasional Indonesia, bang Ricky ini juga sudah menemukan 14 teori motor listrik dan sudah di hak patenkan oleh pemerintah Jepang. Dia juga menjabat kepala divisi dari penelitian dan pengembangan magnet motor dan generator di NIDEC Cooporation, Jepang. Karena prestasi dan penemuan-penemuan Ricky ini maka tak heran Dahlan Iskan meminta dia untuk pulang kembali di Indonesia untuk membangun teknologi mobil motor listrik nasional.

Saat ini Ricky Elson sedang asyik dengan penelitiannya di Ciheras, Tasikmalaya. Sebuah penelitian pembangkit listrik tenaga angin. Hasil dari penelitian di Ciheras ini sangat luar biasa, kincir angin rancangan dia menjadi yang terbaik di dunia dalam kelas 500 watt peak. Sebuah hasil dari kemandirian anak bangsa yang patut di dukung.

Namun nyatanya hingga kini negara ini belum bisa menghargai karya anak bangsanya sendiri dan lebih percaya pada produk –produk luar negeri . Semoga kedepanya bangsa dan pemerintahan negeri ini lebih menghargai karya anak bangsa dengan membantu mengembangkan dan memasarkan karya-karya yang berlian yang dihasilkan oleh putra-putri terbaiknya.


Monday, December 28, 2015

Ricky Elson, Potret Buram Budaya Riset Yang Tak Dihargai Oleh Negeri ini

Pada 26 Desember 2015 lalu Surat Kabar Harian Kompas menerbitkan artikel berita yang menarik sekaligus menggelitik saya sebagai pribadi dan tentunya seluruh masyarakat Indonesia dan khususnya kalangan akademisi yang berjudul Menyemai Budaya Riset yang Makin "Berdebu" dengan mengangkat  tentang permasalahan budaya riset yang masih terasa sangat kurang sekali di negeri ini. Menurut saya sebagai pribadi budaya riset di negera ini masih kurang dihargai sekali baik oleh pemerintah, swasta, maupun rakyat Indonesia dan seringkali hasil riset itu hanya mangkrak dalam bentuk prototype yang disimpan dalam laboratorium semata atau bahkan karya tulis yang tersimpan rapi hingga dimakan rayap dalam perpustakaan tanpa ada follow up untuk membantu mengembangkan hasil riset tersebut.

Masih lekat dalam ingatan saya ketika bapak Dahlan Iskan yang waktu itu menjabat Menteri BUMN pergi ke Jepang menemui Ricky Elson, seorang peneliti muda asal Indonesia yang sedang mengembagkan mobil listrik disana, dengan susah payah dibujuk pak Dahlan untuk pulang ke Indonesia dan mengembangkan penelitianya disini. Tapi Ricky yang sudah tahu tentang sikap pemerintah dan swasta di Indonesia yang kurang atau bahkan tak ada sama sekali kepedulianya terhadap sebuah riset, akhirnya menerima tawaran Dahlan dengan janji jaminan bantuan dari beliau serta rasa nasionalismenya sebagai putra bangsa. Ricky pun akhirnya meninggalkan segala kenyamanan gaji besar serta berbagai fasilitas yang dimilinya di Jepang .

Masa awal-awal kedatanganya ke Indonesia kehidupanya serta riset nya tentang mobil listrik berjalan dengan baik karena dijamin oleh Pak Dahlan dengan bantuan BUMN-BUMN yang ada dibawah kekuasaan beliau. Namun segala kenyamanan itu hanya sesaat pasca Pak Dahlan tak lagi berkuasa menjadi Menteri Program riset itu dihentikan oleh Pemerintah baru dan dinyatakan bermasalah, akhirnya program ini pun mangkrak dan kehidupan Ricky beserta risetnya penuh ketidak pastian di Indonesia. Apalagi setelah prototype mobil ini setelah jadi dan diajukan uji kelayakan pada Departemen Perhubungan, Departemen ini malah menyatakan mobil ini tak layak jalan tanpa memberikan alasan apapun yang harus diperbaiki . Sungguh malang nasib Ricky yang menjadi sekelumit potret buram negara ini kurang menghargai tentang budaya riset serta kurang percaya dengan hasil karya bangsa sendiri. Padahal logika saya selalu mengatakan Jika Ricky saja sangat dihargai karya risetnya berarti riset itu memiliki masa depan yang sangat cerah di masa depan karena saya percaya perusahaan –perusahaan pendanaan riset di Jepang tak akan asal –asalan memberikan kucuran dana untuk sebuah riset yang tak memiliki masa depan, apalagi riset itu dilakukan oleh orang asing yang berasal dari negara yang berdasarkan peringkat pengembangan tekhnologinya sangat jauh di bawah Jepang

Beberapa bulan lalu tersiar kabar bahwa pemerintah Malaysia sangat tertarik terhadap proyek mobil listrik Ricky dan menjanjikan pendanaan pada proyek ini. Namun Ricky sekali lagi atas nama Nasionaisme masih pikir-pikir menerima tawaran pemerintah Diraja Malaysia karena dia ingin mobil itu dikembangkan dan menjadi milik bangsa Indonesia bukan dimiliki oleh bangsa asing .